Kaynara

Kaynara
Dalam Bahaya



Clara begitu sabar merawat Ryan saat diri nya tak sadar kan diri. Jo juga menjaga Clara juga Ryan di rumah sakit.


"Minum lah dahulu, nona. Dan ini ada makanan. Nona belum makan dari kemarin," ujar Jo kepada Clara..Clara mengatakan jika diri nya tak akan makan sebelum kakak nya sadar kan diri.


"Tuan Ryan akan segera sadar, namun nona tidak bisa makan sampai tuan sadar. Bagaimana jika nona ikutan sakit? Bukan kah itu semakin membuat keadaan semakin buruk, nona sakit dan otomatis tidak bisa menjaga tuan."


Clara pun memikirkan ucapan asisten pribadi kakak nya itu, ia mengambil makanan yang sudah di belikan Jo padanya.


Walau Clara tidak selera makan, namun agar tetap bisa menjaga kakak nya ia harus tetap sehat bukan?


Clara bertanya kepada Jo apakah ia sudah makan atau belum, Jo pun berkata jika diri nya sudah makan.


"Saya sudah makan nona tidak perlu khawatir."


"Terimakasih." ujar Clara.


Clara pun menghabiskan makanan nya, ia tahu walau nanti kakak nya sadarkan diri mungkin Ryan tak akan pernah menganggap Clara. Namun, Clara sudah tidak memperdulikan itu yang ia perdulikan saat ini adalah kesembuhan kakak nya.


Ia rela di benci oleh kakak nya seumur hidup asal kakak nya tetap hidup. Clara sudah tidak mempunyai siapapun di dunia ini. Hanya Ryan yang ia punya.


"Nona, mengapa nona tetap menjaga tuan?" tanya Jo yang penasaran.


"Hanya dia yang aku punya saat ini." Clara pun kembali menangis, meneteskan air mata nya.


"Bukan kah tuan selalu memperlakukan nona dengan buruk?"


"Aku tidak perduli dengan itu, bagaimana pun sikap kakak ku. Aku tetap menyayangi nya,"


Jo selalu melihat jelas bagaimana prilaku buruk Ryan kepada Clara. Bahkan, Ryan pernah memukul Clara saat Clara masih sekolah.


"Nona, apakah nona tidak takut jika suatu saat tuan tersadar dan ia akan membunuh Nona ketika mengetahui keberadaan nona?"


"Saya tidak perduli dengan itu semua, lagipula dia adalah kakak ku. Hanya dia keluarga ku satu-satu nya sudah lah kamu jangan terlalu mencampuri urusan ku. Apapun yang aku lakukan itu urusan ku."


Seakan Clara kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Jo. Menurut nya kasih sayang itu tidak harus di balas.


Jo pun meminta maaf atas kelancangan berbicara yang tidak sopan kepada Clara. Clara pun memaafkan nya, ia pun ingin membuang bungkus makanan setelah selesai makan.


"Biar saya saja yang membuang nya nona."


"Tidak perlu! Aku udah terbiasa mandiri sejak dulu."


Semenjak meninggal nya orang tua Clara ia memang sudah terbiasa sendiri dan mandiri. Berbeda dengan Ryan yang di penuhi oleh beberapa pengawal.


Ryan bos mafia besar tentu saja musuh nya banyak dan ia juga harus di kawal oleh puluhan bahkan ratusan gangster lain nya.


Semenjak Clara mengurus dan menjaga Ryan. Clara dan Jo pun semakin dekat, walau Clara selalu bersikap dingin dengan Jo namun pria itu sudah memiliki perasaan kepada adik dari bos nya.


"Jo, aku nanti mau keluar karena ada pertemuan dengan pasien ku. Tolong jagain Ryan ya, kalau ada apa-apa kabarin aku."


"Apakah nona perlu saya temani?"


"Tidak perlu! Saya sudah terbiasa sendiri, kamu kan di tugaskan untuk menjaga kakak ku, bukan diri ku." Jo pun terdiam, ia berdoa agar Clara baik-baik saja di luar sana.


Sebab, jika musuh Ryan tahu jika Ryan mempunya satu adik perempuan, maka Clara akan dalam bahaya