Kaynara

Kaynara
Berusaha tenang



Kepala Kaynara masih di bidang milik Rangga. Kay pun sudah menjelas kan pada Rangga untuk tidak terlalu khawatir. Namun, Rangga masih saja cemas dengan pikiran nya sendiri. Dengan terpaksa Kay meminta tim medis untuk memberi kan obat tidur pada suami nya tanpa sepengetahuan Rangga.


Mata Rangga terasa sangat berat, tak tahan ia pun langsung memejam kan mata nya.


Maaf kan aku, tetapi dengan ini kau bisa tidur dan tidak meng khawatir kan hal yang tak perlu kau khawatir kan~ gumam Kaynara dalam hati.


Kaynara mendongak kan kepala lalu memandangi wajah suami nya yang tertidur dari bawah. Kay pun tersenyum, tenggelam dalam pandangan nya sendiri.


Semenjak orang tua nya meninggal. Kaynara tak pernah membayang kan kalau diri nya akan bisa bahagia. Apalagi, menikah dengan pria yang begitu memperlaku kan diri nya layak nya seorang ratu. Pria sederhana, mungkin di mata orang lain itu adalah hal yang biasa. Namun, di mata nya itu hal yang luar biasa. Tuhan, mempunyai rencana lain di balik peristiwa kehidupan nya. Tuhan, mempertemu kan diri nya dengan Rangga. Saat ini Kaynara begitu sangat bahagia.


Semoga kebahagiaan ini abadi selama nya sampai kita memiliki anak beserta cucu. Hingga kita berdua pun menua, dan menutup mata ~batin Kaynara.


Tak ada lagi yang ia minta, Kaynara pun mengelus perut nya yang semakin membuncit.


Mama berharap, jika kau dan papa mu saling menyayangi satu sama lain seperti layak nya anak dan Ayah pada umum nya~ gumam Kay.


Ia pun mengingat masa saat bersama Papa nya. Di mana saat diri nya terjatuh, Papa nya menjadi orang pertama yang membantu diri nya berdiri. Bahkan rela mengorban kan apapun untuk nya. Kay berharap jika Rangga bisa menyayangi anak nya kelak seperti dulu Papa nya menyayangi diri nya. Bagaimana pun Kay mempunyai kenangan yang indah bersama keluarga nya. Sebelum, Elsa membunuh keluarga nya. Mengingat hal itu, Kaynara semakin membenci Elsa. Tetapi hal itu tidak membuat nya ingin menjadi Elsa. Menjadi manusia yang penuh dendam dan kebencian. Ia tak mau jika Elsa merasa senang dengan itu semua.


**********


Akibat salah bicara, Clara dan Aini menjadi sedikit canggung. Clara juga bingung untuk memulai obrolan bersama Aini. Aini terlihat masih sangat kesal dengan ucapan Clara.


"Ai, ak-aku bantu kamu untuk menyiap kan makanan ya? Ai sekali lagi aku minta maaf ya?" Aini pun mencoba mengontrol nafas nya. Memejam kan mata, lalu membuang nafas dengan kasar sekaligus membuang rasa kesal nya. Aini pun mencoba tersenyum


"Ayo, tapi bahan bahan di rumah ku sudah habis, kita pergi berbelanja yuk?" ajak Aini, Clara pun tersenyum dan mensetujui ucapan Aini. Mereka berdua segera pergi ke supermarket terdekat. Di depan supermarket Clara melihat Ryan yang baru saja keluar dari supermarket, ingin masuk ke dalam mobil


"Ryan..!" panggil Clara. Ryan pun menoleh ke arah saudara tiri nya. Namun, tak berbicara satu kata pun. Clara mendekati Ryan.


"Jika kau ingin menguasai harta nya kau saja yang menikmati! aku tidak selera kembali ke rumah itu!"


"Jangan seperti itu, Ryan. Aku mohon." Clara memegang bahu saudara tiri nya. Namun, Ryan menepis tangan Clara lalu mendorong nya dengan kasar hingga membuat Clara terjatuh. Untung saja Aini dengan cepat menahan tubuh sahabat nya.


"Hey! apa kau tidak tahu malu? dia ini seorang wanita! Apalagi dia ini adik mu!"


"Diam kau! aku tak mengenal mu, jadi jangan ikut campur!" tegas Ryan kepada Aini.


"Kau pikir siapa diri mu? jika kau pria sejati, kau tak akan melukai wanita!"


"Sekali lagi kau bicara, aku pasti kan kau tak akan bisa bicara untuk selama nya!"


"Sudah! jangan bertengkar, ayo kita pergi saja Aini." ajak Clara, ia tak ingin berdebat dan membuat hubungan mereka semakin renggang. Clara pun membawa Aini menjauh dari Ryan. Ryan yang kesal langsung masuk ke dalam mobil.


"Memang nya siapa dia seenak nya bersikap tidak baik pada mu!" Aini begitu sangat murka melihat sahabat nya di lukai, Aini tak habis pikir mengapa seorang kakak tega melakukan hal itu pada adik nya?


"Sudah lah, Aini! aku tidak apa kok. Ini memang salah ku, tak seharus nya aku mengusik diri nya. Dia tak akan marah jika aku tak mengusik diri nya."


"Tetapi, dia begitu sangat keterlaluan! aku tak menyukai itu."


"Sudah! jika kau terus marah, kau akan cepat tua." goda Clara pada Aini. Ia berusaha untuk membuat sahabat nya melupakan emosi nya.


"Kau ini, di saat seperti ini masih saja bercanda."


"Sudah lah, sebaik nya kita membeli bahan-bahan yang akan kita masak." Clara menggenggam tangan Aini dan berjalan masuk ke dalam supermarket. Walau saat ini perasaan Clara hancur berantakan, ia tetap berusaha tetap tenang.