
Di saat Caca berdoa, Polisi ingin membawa Caca ke kantor polisi, Arvan marah besar. Ia tak Terima bahwa isteri nya di bawa ke kantor polisi
"Maaf Pak, namun saat ini isteri bapak harus memberikan kesaksiannya di kantor polisi," ujar komandan kepolisian
"Bukan kah isteri ku sudah menjelaskan semua nya pada kalian!!" teriak Arvan. Salah satu anggota polisi datang dan membisikkan sesuatu ke telinga komandan nya.
"Di pisau itu ada sidik jari isteri bapak, kami harus membawa nya untuk di periksa lebih lanjut,"
"Apa kau berfikir isteri ku seorang pembunuh?" Arvan mencengkram kera baju komandan kepolisian tersebut.
"Silah kan kalian jelas kan nanti di kantor polisi," komandan tersebut memerintah kan anggota nya untuk membawa Caca. Semua tuduhan mengarah ke Caca, Keadaan Caca yang sangat kacau dengan berlumpuran darah dan ada sidik jari nya di pisau menjadi kan Caca sebagai tersangka. Caca mengikuti polisi dengan tatapan yang kosong.
"Jangan bawa isteri ku, dia tidak bersalah!"
"Silah kan jelas kan di kantor nanti," Caca pun pergi dengan mobil polisi, Arvan menelpon beberapa pengecara terkenal untuk membela isteri nya, ia pun ikut ke kantor polisi.
Sesampai di kantor polisi Arvan masih memberikan penjelasan bahwa Caca tidak bersalah, Namun bukti saat ini sangat kuat mengarah ke Caca.
"Bu-bukan ak-aku yang mencoba mem-membunuh nya, Van," ucap Caca menangis. Arvan meng-hapus air mata Caca dan mengecup kedua mata Caca.
"Iya, Sayang. Aku percaya bahwa kau tidak melukai nya." Arvan mencoba menenangkan Caca yang menangis senggugukkan.
10 Pengacara terbaik yang Arvan pilih untuk membebaskan Caca datang. Arvan meminta kepada pengacara nya untuk mencari jalan agar isteri nya tidak di tahan. Namun, pengacara itu kesulitan sebab bukti-bukti yang mengarah kepada Caca. Apalagi ada jejak sidik jari Caca di pisau itu.
"Jalan satu-satu nya adalah keterangan dari korban sendiri bahwa Isteri anda tidak bersalah," ucap salah satu pengacara tersebut.
"Namun saat ini Kaynara sedang kritis tidak sadar kan diri," ucap Arvan Frustasi. Seketika ia mengingat ada CCTV di setiap kamar nya.
"Sayang, aku harus pergi sebentar dan akan segera kembali," Arvan mengecup kening Caca dan meminta kepada 10 pengacara terbaik nya untuk menemanin isteri nya. Arvan kembali kerumah dan melihat CCTV di kamar Kaynara. Namun, kamar itu gelap tidak terlihat apapun. Arvan semakin frustasi, namun tidak lama terlihat Caca yang menghidupkan lampu dan melihat Kaynara sudah penuh darah. Caca mendekati Kaynara, akibat mencabut pisau yang tertancap di perut Kaynara. Darah bercucuran ke muka Caca dengan teras. Arvan langsung mengambil video memindah kan ke flashdisk dan membawa nya ke kantor polisi untuk menunjukkan bukti kebenaran nya. Setelah melihat bukti baru, polisi pun menyatakan bahwa Caca tidak bersalah. Caca di bebas kan dari tuduhan mencoba melakukan pelenyapan nyawa seseorang. Arvan membawa Caca pulang kerumah. Arvan menyuruh Caca untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Caca pun menurutin perintah suami nya.
Setelah selesai membersihkan diri, Caca berjalan mendekati Arvan dengan tatapan yang kosong, Arvan memegang jemari tangan Caca dan membawa nya ke dalam pelukkan. Caca menangis di dalam pelukkan Arvan.
"Tenang lah, Sayang. Saudara mu akan baik-baik saja," Caca tertidur di pelukan suami nya.
******
Pagi hari nya, Caca dan Arvan pergi ke rumah sakit. Terlihat, Kaynara tidak sadar kan diri di ruangan nya. Caca berdoa untuk kesembuhan Kaynara.
"Kaynara gadis yang baik, dia berhak untuk hidup dan bahagia, Sayang." ucap caca pada suami nya.
"Ca," teriak shinta pada Caca, Caca melepaskan pelukkan nya dari Arvan dan memeluk Shinta yang mendekat ke arah nya.
"Tenang lah!" ucap Caca. Revan pun menghampiri mereka dan meminta penjelasan dari Arvan. Pagi tadi, Arvan hanya menelpon Revan dan memberitahu bahwa Kaynara kritis di rumah sakit, ia tak menjelaskan apapun lagi. Revan dan Shinta pun segera untuk pergi kerumah sakit. Mereka menitip kan syifa dan si kembar kepada Syafa dan Gunawan. Shinta dan Revan pun merasa sangat terkejut mendengar Kaynara yang mencoba untuk bunuh diri, apalagi Caca di tahan walau hanya 1 jam. Untung saja, sudah terbukti bahwa bukan Caca pelaku nya. Shinta mencoba menenangkan Caca.
"Kaynara akan baik-baik saja, adik kita wanita yang sangat kuat. Sayang, Tenang lah!" ucap Shinta kepada Caca.
********
Sudah 2 hari Kaynara belum juga sadar, Hari ini mereka semua berkumpul di rumah sakit. Syafa dan Gunawan pun ikut ke rumah sakit untuk menjenguk Kaynara. Syafa berharap bahwa wanita yang ada di dalam itu adalah gadis 14 tahun yang pernah ia bawa ke rumah nya. Begitu juga Rangga, pria itu sudah 2 hari ini menjaga Kaynara di rumah sakit. Ia sangat mencemaskan Kaynara. Mereka semua menunggu di luar ruang tunggu pasien.
*****
Di alam mimpi, Kaynara bertemu dengan Mama dan Papa nya. Ia berlari di lorong gelap untuk mendekati kedua orang tua nya.
"Jangan, nak. Berhenti lah!" pinta sang Ibu.
"Kay rindu mama dan papa. Kaynara nggak kuat ma, Kay ingin ikut kalian." Air mata Kaynara berlinang membasahi pipi nya.
"Kay ingin ikut ma."
"Tidak, Sayang. Kamu harus kembali ke mereka. Ini bukan lah tempat mu. Pergi lah nak, pergi!"
Kaynara membuka mata perlahan, ia masih merasa kan sakit ketika bergerak sedikit saja. Ia melihat di sekeliling nya tidak ada siapa pun di dalam ruangan nya.
"Sial! ternyata aku masih hidup," umpat nya. Kaynara berharap jika diri nya tidak selamat saja.
"Awww," perut nya terasa sakit.
Perawat masuk ke dalam ruangan Kaynara dan melihat pasien nya sudah sadar, ia segera keluar untuk menemui dokter. Dokter pun masuk dan memeriksa keadaan Kaynara yang sudah membaik. Dokter keluar ruangan dan memberitahu mereka bahwa Kaynara sudah sadar kan diri.
"Ayo kita masuk," ajak Caca. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Kaynara. Wajah dan bibir Kaynara sangat pucat mungkin Kaynara masih lemas. Caca dan Shinta langsung memeluk Kaynara.
"Jangan lakukan ini, kami sangat menyayangi mu," ucap Caca.
"Apa kau fikir dengan melakukan hal bodoh seperti ini, Tuhan akan menyabut nyawa mu semudah itu? Tidak bodoh! jadi jangan lakukan hal ini lagi," ucap Shinta. Air mata Kaynara berlinang membasahi pipi nya, ia tak menyangka bahwa caca dan Shinta sangat mengkhawatirkan keadaan nya. Mata nya tertuju pada kedua pasangan paru bayah yang tak asing berdiri di depan nya. Ia mengenali mereka, mereka adalah Orang tua Shinta yang sudah berbaik hati 10 tahun yang lalu memberikan tempat tinggal dan mencurah kan segala kasih sayang mereka pada Kaynara. Ingin sekali Kaynara memeluk nya, namun Kaynara menahan keinginan nya. Caca dan Shinta melepas kan pelukan mereka. Shinta menghapus air mata Kaynara.