Kaynara

Kaynara
Calon suami



"Mengapa kalian menggangu ku? ayo lanjut kan bekerja. Jika bos tahu, kita bisa di omelin." ucap nya mengalih kan pembicaraan.


"Baik lah, baik lah." Kedua teman pun pergi meninggal kan Rangga untuk melanjut kan pekerjaan mereka.


"Aku berharap bisa segera menemu kan nya sebelum pernikahan ini terjadi." batin Rangga. Dia seakan mencari keberadaan seseorang dan ingin bertemu.


"Andai aku bisa melacak dan menemukan mu seperti aku menemukan dia." batin Rangga kembali. Dia pun kembali mengerjakan motor tersebut.


*********


Kay berniat untuk memberi kan makanan kepada Rangga. Kaynara pun menuju dapur untuk membuat sesuatu agar Rangga bisa menikmati masakan nya pada jam makan siang.


"Cie ada yang mau nikah nih." ledek Shinta. Pipi Kay memerah malu


"Masak buat calon suami ya?"


"Kakak." panggil Kay dengan manja.


"Jangan seperti itu, aku malu."


"Ada yang malu nih." ledek Shinta kembali, membuat Kay semakin salah tingkah, bahkan yang seharus nya dia memotong sayuran malah memotong kentang.


"Astaga." ucap nya


"Kenapa?" tanya Caca.


"Ti-tidak kak, lupakan saja."


"Sudah kalian pergi lah, aku tidak bisa memasak jika kalian terus mengganggu ku." Shinta dan Caca pun meninggal kan Kaynara. Kaynara melanjut kan kegiatan nya dan memasak dengan penuh cinta. Masakan pun selesai


"Aku tidak tahu bagaimana rasanya, semoga dia suka." Kaynara pun menempati makanan yang sudah ia masak tadi ke dalam rantang. Sebelum pergi, Kay mandi dan segera bersiap dengan pakaian rapih serta wangi. Kini, Kay sudah sangat siap untuk berangkat menemui calon suami nya. Kaynara pun berjalan menuju ruang keluarga, ia pun meminta Izin kepada Orang tua dan kakak angkat nya.


"Wangi banget sih yang mau ketemu calon suami." ledek Shinta kembali.


"Sayang, sudah lah! jangan mengganggu adik mu." tegur mama Syafa. Kay pun merasa menang karena akhir nya ada yang bisa membuat mulut kakak nya itu berhenti meledek.


"Bu, Ayah. Kay pergi dulu ya?"


"Hati-hati ya nak." Kay pun pergi keluar rumah, ia menaiki angkutan umum. Awal nya Shinta menawar kan motor milik nya untuk di naiki Kay. Bahkan kedua orang tua Shinta meminta Revan mengantar kan Kay. Namun, Kay menolak, ia ingin sendiri saja bertemu Rangga. Kay menunggu angkutan umum yang menuju ke arah bengkel tempat Rangga bekerja. Tidak lama kemudian, angkutan umum datang. Kaynara pun naik ke dalam hingga ia sampai ke bengkel tempat Rangga bekerja. Kay turun dari angkutan umum ia melihat Rangga dari jauh sedang mengerjakan motor.


Kay berjalan mendekat ke arah Rangga.


"Hai." Rangga pun di kaget kan dengan suara wanita yang tak asing bagi nya. Dia pun menoleh dan melihat Kay sudah berdiri di belakang membuat Rangga segera berdiri.


"Sedang apa?" tanya Rangga yang juga sedikit malu, kedua teman nya tadi itu pun seakan memberi kan kode.


"Ta-tadi Ibu Syafa masak sangat banyak, jadi ib-ibu menyuruh eh tidak maksud ku. Karena banyak makanan di rumah, jadi aku berniat membawa kan nya untuk mu. In-ini juga sudah jam makan siang bukan? kau pasti lapar." ucap Kay yang sedikit berbohong, ia malu jika harus berkata masak khusus untuk mengantar kan makanan buat Rangga.


"Kalau begitu aku pamit pulang, ya."


"Apa kau sudah makan siang?" Kay pun menggeleng kan kepala, menandakan diri nya belum makan siang.


"Kalau begitu, ayo makan lah bersamaku!" ajak Rangga. Membuat senyuman di pipi Kay melebar.


"Makan siang bersama?"


"Iya, apa kau tidak ingin?" tanya Rangga. Kay pun dengan cepat menjawab.


"Tidak, eh bukan begitu. Maksud nya aku ingin. Hanya saja apa aku tidak mengganggu?"


"Ini jam makan siang, tidak ada yang merasa terganggu."


"Baik lah."


"Tunggu sebentar ya, aku mau cuci tangan dahulu." ucap Rangga. Rangga pun segera pergi untuk mencuci tangan nya yang kotor dan penuh oli. Kay pun menunggu, Kay tersenyum kepada dua teman kerja Rangga tadi.


"Hai." ucap teman nya.


"Hai." jawab Kay dengan ramah.


********


Rangga pun meminta Kay untuk duduk di samping nya, mereka ber dua pun makan siang bersama di bengkel. Kedua teman Rangga tadi pergi entah kemana.


"Bagaimana rasanya? apakah enak?" tanya Kay dengan antusias, ia ingin Rangga menilai masakan nya.


"Sangat lezat, Apalagi ini masakan Ibu kamu. Tidak mungkin tidak enak."


"Eh iya, benar." jawab Kay dengan terbata.


Dasar payah Kay. Sudah tahu kau mengaku di depan nya bahwa itu masakan Ibu mengapa kau menanya kan itu pada nya?


Kay mengutuk diri nya sendiri, tiba-tiba dia kaget karena Rangga menyuapi diri nya. Kay pun membuka mulut nya.


"Habis kan dulu makanan yang ada di mulut mu, baru berbicara." seakan tahu Kay ingin berbicara, Rangga pun menghentikan nya. Rangga dengan telaten menyuapi Kay makan seperti ibu yang menyuapi anak nya.


"Sudah, aku sudah kenyang. Kenapa jadi aku yang banyak makan? ini kan untuk mu, aku bisa makan di rumah."


"Tetapi tidak enak jika bukan aku yang menyuapi mu. Apalagi jika kau bersedia menyuapi diri ku juga pasti makanan ini 10x lipat lebih enak." pipi Kay memerah.


"Ternyata kau pandai juga ya menggoda wanita."


"Aku bukan menggoda. Namun, benar. Mengapa kau tidak paham?" Rangga pun cemberut berpura pura merajuk. Kay pun akhir nya menyuapi nya, dengan senang hati Rangga menerima suapan dari calon isteri nya tersebut. Puing-puing cinta di antara mereka berdua mulai tumbuh, Rangga yang tidak canggung lagi memberikan gombalan gombalan yang membuat Kay terhanyut. Kay yang semakin menunjuk kan rasa kepedulian nya kepada Rangga. Kini, mereka hanya menunggu hari pernikahan saja. Rangga sedang berjuang mengumpul kan dana untuk pernikahan mereka karena Rangga tak ingin keluarga Kay membantu mereka masalah keuangan. Rangga ingin menjadi lelaki yang bertanggung jawab terhadap isteri dan calon anak nya. Mereka pun menghabis kan makanan nya.