
Aini yang merindukan Clara pun mencoba menghubungi sahabat nya namun Clara tidak bisa di hubungi.
Aini pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar agar suasana hati nya membaik.
Ingin sekali ia mengingat kenangan-kenangan di masa lalu, namun semakin Aini berusaha mengingat kepala nya terasa begitu sakit.
Dia seakan seperti manusia yang tak mempunyai tujuan hidup,
Aini juga berusaha mencari tahu kepada saudara nya tentang kenangan mereka di masa lalu. Namun, Rangga tidak mau memberitahu.
Aini mengingat nama Kimmy, seakan nama itu tidak asing bagi diri nya
Siapa Kimmy? Apakah itu nama ku di masa lalu?
Aini tidak tau harus bertanya kepada siapa, hanya Rangga yang ia punya. Bahkan, ia pun tidak mengingat siapa Rangga, ia hanya tau jika Rangga adalah saudara nya.
Apakah kenangan ku bersama kak Rangga begitu indah? Atau hanya biasa saja? Nyata nya kak Rangga jarang memperdulikan ku. Bahkan, Kaynara lebih memperdulikan ku daripada kak Rangga.
Aini merasa begitu frustasi, sulit sekali rasanya mengingat kenangan nya di masa lalu.
Tuhan, kenapa cobaan ku seperti ini? Dahulu, aku tidak mempermasalahkan kehidupan ku karena ada Mama. Namun, sekarang mama sudah pergi meninggalkan ku. Aku bingung, seakan tidak mempunyai kehidupan hiks.
Nyata nya, sampai sekarang Aini belum bisa berdamai dengan kenyataan. Ia menyalahkan diri nya sendiri dan juga keadaan yang tak berpihak kepada nya.
Mama, Aini rindu!
"Hey, jangan berteriak." Aini tersentak kaget, ia menoleh ke belakang. Pria yang memiliki paras seperti orang Arab namun berbahasa Indonesia seperti diri nya. Aini menatap dengan tatapan sinis.
"Hey, nona. Ini negara damai, jangan mengganggu ketenangan sekitar hanya karena suara cempreng mu!"
ke dua mata Aini melotot ke arah pria yang ada di hadapan nya. Berani sekali orang asing menghina nya seperti itu, tentu saja membuat Aini tidak terima.
"Jaga omongan anda, Tuan! Jangan kamu seakan rekan lama ku yang bisa menghina ku sesuka mu!"
"Saya tidak menghina, namun suara mu sangat berisik. Mengganggu telinga ku!"
Pria asing itu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun, Aini merasa geram. Ia mengambil sepatu yang ia kenakan dan tanpa aba-aba langsung melempar ke arah pria itu.
Tentu saja pria itu meringis kesakitan, menghentikan langkah kaki nya dan menoleh ke arah Aini.
Aini tak merasa takut sedikit pun walau pria itu menatap nya dengan tatapan yang begitu menakutkan.
Pria itu tidak mengatakan apapun, ia juga tidak mendekati dan membalas Aini.. Namun ia mengambil sepatu Aini dan melempar nya sangat jauh.
Aini berlari, mengikuti sepatu nya "Astaga, hey! Kurang ajar!"
"Sepatu ku hiks." Aini mengambil sepatu milik nya, ia sedih karena sepatu nya tidak di temukan..
Jauh sekali sepatu nya bahkan tidak di temukan. Aini Kembali mendekat ke tempat tadi. Ia ingin memprotes kepada pria asing itu. Namun saat Aini tiba di tempat tadi, pria itu sudah tidak ada lagi dia disana.
"Kurang ajar! Kenapa dia pergi lalu bagaimana dengan sepatu ku? Dan aku pulang bagaimana tanpa sepatu hiks."
Hari ini adalah hari tersial bagi Aini, ia menyesal telah bertemu dengan pria menyebalkan.