
Hari ini, Kaynara sudah berjanji pada Aini akan mengajak diri nya untuk jalan-jalan bersama Rangga. Mereka sudah bersiap, Aini dan Kaynara pun membujuk Clara untuk ikut. Namun, Clara menolak dengan alasan ingin memberikan waktu pada mereka untuk lebih mengenal satu sama lain. Apalagi, Aini dan Rangga sudah lama berpisah dan tak bertemu
"Ikut saja ayo!" ajak Rangga pada Clara, Namun lagi-lagi Clara menolak dengan halus.
"Aku ada jadwal pasien hari ini, kalian saja ya? Begini saja, jika ada makanan yang enak. Kalian bisa membawakan nya pada ku. Gimana?" tawar Clara, mereka pun setuju. Dan tak mau memaksa Clara, karena itu akan membuat Clara merasa tidak nyaman.
Setelah kepergian Kay dan yang lain nya. Clara termenung, ia berharap jika suatu saat Ryan akan bersikap manis kepada diri nya.
Clara mengambil ponsel nya untuk menghubungi Ryan, Namun hasil nya seperti biasa. Ryan tak menggubris panggilan dari Clara. Memang seperti itu sikap nya pada Clara, Dingin dan tak perduli. Bahkan jika Clara mati sekalipun, Ryan tak akan perduli pada nya.
Berapa kali harus aku katakan padamu, jangan ganggu aku sialan! ~ Ryan
Clara mendapat kan pesan dari kakak nya, hati nya merasa sangat sakit. Namun, dengan rasa sakit itu ia membalas pesan Ryan dengan lembut
Aku hanya merindukan saudara ku, Aku berharap. Kelak, kau akan menerima ku seperti kakak-kakak lain nya yang menyayangi adik nya ~ Clara.
Lebih baik kau tidur dan bermimpi sepuas mu! Bahkan di dalam mimpi pun, aku tak Sudi menganggap mu sebagai saudara ku! Kau dan Ibu mu wanita sialan! Pembawa sial! ~ Ryan
Clara yang membaca balasan dari kakak nya pun tak sanggup harus membalas apa, diri nya hanya terdiam dan tak membalas pesan dari Ryan lagi. Clara juga merasa bersalah, tak seharus nya ia memberikan pesan pada Ryan. Jika ia tak menganggu nya, Ibu nya tak akan di hina seperti itu.
Clara merindukan mama dan papa nya. Andai kedua orang tua nya masih ada mungkin kehidupan nya tak akan seperti ini. Clara nggak akan merasakan kesepian tanpa keluarga.
*********
Di sisi lain, mendapat kan pesan dari Clara membuat emosi Ryan memuncak. Ia sangat membenci ibu nya Clara.
Melihat wajah Clara membuat dirinya teringat akan rasa sakit nya di waktu kecil. Saat Papa nya tak perduli pada diri nya, hanya memperdulikan isteri dan anak baru nya saja. Bahkan, Ryan hidup sendirian dengan penuh kemarahan dan kebencian terhadap keluarga nya saja.
"Kenapa kau harus menganggu ku? Apakah Ibu mu tak cukup puas menghancur kan hidup ku dulu? Bahkan sudah mati pun ia menyuruh anak nya untuk terus menganggu ketenangan hidup ku! Aku benci kau, aku benci papa dan juga mamamu! aku benci kalian! Aku tak punya keluarga, aku tak punya siapapun. Aku hanya punya mama ku, dan mama mu telah merenggut nyawa mama ku! Aku benci kau Clara! Sangat membenci mu!" Ryan meluapkan segala amarah nya, membanting segala barang yang ada di dekat nya.