
Shinta memonyong kan mulut nya dan pergi berlalu meninggal kan Caca. Sebelum acara di mulai, Shinta dan Caca membawa Kaynara ke luar. Kaynara berada di dekat Rangga. Mata Rangga tidak terlepas dari pandangan nya memandangi Kaynara.
"Kau sangat cantik." bisik Rangga membuat Kaynara tersipu malu. Tangan nya begitu dingin dan merasa sangat gugup. Rangga tak habis habis nya memuji wanita yang sebentar lagi menjadi milik nya.
Pernikahan pun di mulai, dua orang yang saling mengucap kan janji sakral untuk sehidup semati. Kini, Kaynara dan Rangga sudah resmi menjadi pasangan suami isteri. Semua orang tertawa haru, Shinta menetes kan air mata nya. Ia berharap untuk kebahagiaan Kaynara. Kaynara dan Rangga meminta restu kepada semua orang dengan bergilir.
"Selamat, Sayang. Bahagia selalu." ucap Syafa memeluk dan mencium Kaynara dengan perasaan bahagia. Kaynara pun menangis di peluk kan Syafa.
"Terimakasih atas kasih sayang yang telah kamu berikan, Bu. Kasih sayang yang telah kamu berikan membuat ku tidak merasakan kehilangan seorang Ibu. Aku menyayangi mu." ucap Kaynara dengan nada senggugukan
"Ibu juga sangat menyayangi mu, nak. Ibu beruntung memiliki anak sebaik dan secantik kamu." Syafa mengelus bahu Kaynara memberi kan ketenangan pada Kaynara. Setelah menikah Kaynara akan ikut tinggal bersama Rangga dan meninggal kan rumah Syafa. Begitu juga dengan Shinta dan Caca. Mereka akan kembali ke rumah mereka masing-masing. Syafa dan Kaynara saling melepas kan peluk kan mereka. Kini Kaynara dan Rangga meminta restu kepada Ayah Gunawan. Gunawan pun memeluk kedua nya. Dan melepas kan peluk kan itu.
"Jaga dan sayangi Puteri ku. Jangan sakiti dia, Cintai lah dia sebagai mana ia mendapat kan cinta dan kasih sayang di sini. Tolong jangan membuat nya menangis, jika ia harus menangis, menangis lah karena kebahagiaan. Aku seorang Ayah yang memohon kebahagiaan atas Puteri ku."
Semua orang tersentuh dengan kata-kata permohonan Ayah Gunawan. Begitu juga Kaynara, ia tak menyangka jika Ayah Gunawan begitu menyayangi diri nya.
"Ayah." ucap Kaynara dengan menetes kan air mata, ia sangat terharu. Kaynara langsung memeluk Gunawan, Gunawan pun memeluk Kaynara dengan erat, Gunawan melepas kan peluk kan mereka.
"Berbahagia lah nak, kau Puteri Ayah yang paling baik. Sudah! jangan menangis! Ini adalah hari kebahagiaan mu." Gunawan menghapus air mata Kaynara dengan jemari nya yang kekar. Gunawan pun mengusap kepala Kaynara dengan lembut.
"Sudah, Ayah! Ayah bisa merusak rambut nya yang sudah di rias itu." ledek Shinta.
"Ayah lihat lah, kakak mengejek ku." adu Kaynara seperti anak kecil. Semua orang pun tertawa. Setelah meminta restu pada Ayah Gunawan dan Ibu Syafa. Kaynara dan Rangga meminta restu pada Caca dan Shinta juga kepada Revan dan Arvan. Setelah ritual meminta restu, Shinta merasa sangat lapar. Ia meminta semua orang untuk menikmati hidangan tersebut. Kaynara dan Rangga pun menyambut para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat.
Shinta menikmati makanan yang ada seperti anak kecil, begitu juga dengan Caca. Begitu banyak manisan dan juga asinan. Shinta memilih memakan asinan sedang kan Caca memakan manisan. Revan dan Arvan sudah melarang mereka untuk memakan makanan berat terlebih dahulu seperti nasi. Tetapi mereka berdua tak mendengar kan membuat kedua suami itu merasa pusing dan lelah membujuk para isteri nya.
Kaynara masih menunggu seseorang yang tak kunjung datang, hati nya menjadi sedih. Namun, ia menutupi dengan senyuman dan menerima jabatan tangan dari para tamu yang mengucap kan selamat pada mereka.
"Ada apa?" tanya Rangga. Rangga pun tersenyum menyambut tamu yang mengucap kan selamat.
"Ti-tidak." jawab Kaynara yang tersenyum pada Tamu yang saat ini ada di hadapan nya.
"Selamat ya atas pernikahan kalian." ucap salah satu tamu
"Terimakasih."
*******
Shinta pun meminta Rangga dan Kaynara naik di atas panggung untuk berdansa dan bernyanyi. Awal nya Rangga dan Kaynara menolak. Namun, Shinta memaksa hingga membuat Rangga mau pun Kaynara tak ada pilihan lain selain bernyanyi dan berdansa. Menyanyi kan lagu romansa dan berdansa. kedua nya hanyut dalam dansa yang mereka. Kaynara terpenjam saat hidung Rangga menempel pada hidung nya. Getaran yang tak bisa ia jelas kan, detak jantung nya berdegup sangat kencang. Begitu juga dengan Rangga, detak jantung yang berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasa nya.
"Sebaik nya kamu istirahat saja." pinta Rangga.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tidak mungkin aku meninggal kan pesta ku sendiri."
"Wajah mu sudah sangat pucat."
"Aku baik-baik saja."
"Sayang, minum lah ini. Wajah mu sangat pucat." Syafa memberi kan segelas air putih pada Kaynara, ia melihat wajah Kaynara yang begitu pucat.
"Duduk lah dulu." pinta Syafa. Kaynara pun duduk sebentar lalu meminum segelas air yang di berikan oleh Ibu Angkat nya.
"Kau sedang hamil, mungkin itu yang membuat mu mudah letih. Duduk saja lah dulu, jika tamu ingin memberikan ucapan selamat. Kamu bisa duduk untuk menyambut nya. Mereka akan mengerti."
**********
Di sisi lain, Caca sangat merepot kan suami nya. Bisa-bisa nya di saat keadaan seramai ini. Ibu hamil yang satu ini mengingin kan suami nya untuk menari ala badut yang mengisi acara ulang tahun anak-anak nya. Wajah nya cemberut karena Arvan menolak dengan halus.
"Sayang, lihat lah! begitu banyak tamu di sini. Bagaimana aku bisa melakukan itu? banyak rekan kerja ku yang hadir, Sayang." bujuk Arvan. Caca pun tak mau mendengar kan, mata nya berkaca-kaca seakan ingin menangis, seolah suami nya ini telah memarahi nya.
"Sayang, sudah ya. Bagaimana jika nanti kita akan berbelanja sepuas mu?"
"Tidak!" jawab nya. Air mata nya pun berlinang, tidak lama kemudian Shinta pun datang membawa Alana dan Alan.
"Astaga si pengacau datang." batin Arvan, ia yakin Shinta akan semakin memanasi Caca dan memaksa Arvan melakukan ini.
"Mami." ucap Alana dan berlari kecil menghampiri Caca, Alana memeluk Caca. Caca pun menggendong Alana.
"Kenapa mami cedih?" kedua tangan kecil Alana menghapus air mata Caca.
"Karena papi kamu jahat, Sayang." Alana pun menoleh ke arah Arvan dan melotot kan mata nya. Ia begitu menurun dengan sifat Ayah dan Ibu nya.
"Papi! kenapa papi buat mami cedih? papi jahat! Alana ngga sukak!"
"Tidak, Sayang. Bukan begitu." Arvan ingin memberikan pengertian pada Alana.