Humaira

Humaira
Bab 99 Misi



kakek dan warga lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing,sedangkan Sandi,Fahmi,Gilang dan Rudi masih memikirkan tentang pengusiran mereka.


"aku ada ide" ujar Sandi.


ketiga orang itu mendekat,"apa itu?" tanya Gilang.


"bagaimana kalo kita membuat kesepakatan dengan mereka" ucap Sandi.


"kesepakatan apa?" tanya Gilang.


"kita akan memenuhi kebutuhan mereka" jawab Sandi.


"bukannya itu kesepakatan yang kita lakukan kemarin?" tanya Gila lagi.


"iya tapi lebih dari itu,jadi begini aku sudah tahu kelemahan warga disini,kelihatannya mereka kekurangan kebutuhan,kalian tahu sendiri kan kemarin aku tawarkan makanan mereka langsung menerima kita" jelas Sandi.


"iya betul,kenapa kita tidak coba saja?" tanya Rudi.


"tapi bukannya disini banyak ladang?" Fahmi balik tanya.


"iya juga sih" ucap Sandi.


"tunggu dulu,memangnya kita akan menghidupi mereka seumur hidup?" tanya Gilang.


"maksud ku bukan seperti itu,ya bisa di kategorikan sambil menjalankan bisnis" ucap Sandi sambil tersenyum.


"boleh juga..." ucap Gilang.


masih dalam perjalanan, Maira dan Alif sepertinya sudah kelelahan mereka berniat untuk beristirahat,tapi ada seorang lelaki yang akan melewati jalan itu,Maira dan Alif pun langsung bersembunyi di semak-semak.


setelah lelaki itu berlalu,Maira dan alif pun lega ,mereka melanjutkan lagi perjalanannya tanpa di sadari dua pasang mata melihat gerak gerik mereka.


Alif yang menyadari itu langsung mencoba menarik tangan Maira untuk pergi secepatnya,"ada apa Lif?" tanya Maira.


"ayo kak kita pergi,seseorang sudah melihat keberadaan kita" jawab Alif.


"tapi bagaimana dengan Suamiku" ucap Maira tanpa dia sadari,dan Alif pun menghentikan langkahnya dan bertanya," apa yang dimaksud Suami,memangnya Suami nona bekerja disini?" tanya Alif.


"eng...ga...maksudku" ucap Maira gugup dankebingungan mau menjawab apa.


"sebenarnya tujuan nona mau apa kesini?" tanya Alif lagi.


"maafkan aku,sebenarnya aku ingin mencari Suamiku,dan aku yakin dia berada di rumah itu" jawab Maira.


"nona tahu dari mana dia berada disana?"


"aku...sempat melihat penculiknya datang dari arah sini"


"apa nona yakin?"


"iya aku sangat yakin,jadi aku mohon bantuan mu".


"tapi kalo dugaannya salah?"


"gak akan salah" rengek Maira.


Alif pun tidak bisa menolaknya dan dia pun bersedia membantu,hanya saja keluarganya menjadi taruhannya jika dia ketahuan.


"baiklah aku akan membantumu" ucap Alif.


"oh ya...makasih" ucap Maira kegirangan.


saat mereka hendak pergi lagi,ada seseorang yang sudah berada di belakang,Maira dan Alif pun menjadi kaget.


orang itu pun menyeret keduanya ke tempat yang agak sepi," bapak..." ucap Alif saat melihat orang yang menyeretnya.


"sedang apa kamu di sini?" tanya bapak Alif.


"sebaiknya kamu pulang,dan ini kamu siapa?" tanya bapak Alif pada Maira.


"dia nyasar jadi Alif membantunya" Alif yang menjawabnya.


"cepat kalian pergi sebelum ada yang melihat,kalian ambil jalur ini tapi hati-hati jalannya terjang" perintah bapak Alif sambil menunjukkan jalan.


Alif pun menurut,dia mengajak Maira pergi,"ayo non",mereka pun hendak melangkahkan kakinya,tetapi Alif tiba-tiba berbalik dan bertanya pada Bapaknya,"Bapak sendiri kenapa berada di sini?"


bapak Alif menjawab,"bapak sedang bekerja",Alif pun mengangguk dia pun melangkahkan kakinya,sedangkan Maira melangkah dengan ragu karena dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


setelah Maira dan Alif pergi,bapak alif pun ikut pergi,saat hendak melangkah dia dikejutkan oleh seseorang yang sudah berada di hadapannya.


"sedang apa kamu di sini?" tanya orang itu.


"ehm...anu barusan aku sudah buang air kecil" jawab bapak Alif dengan gugup.


"ya sudah ayo kembali kita makan dulu" ajak orang itu.


Alif yang memimpin jalan,dia berjalan sambil mengoceh,sedangkan Maira di belakangnya hanya berjalan tanpa bersuara, tiba-tiba saja langkah Maira terhenti karena dia berpikir semua ini tidak benar,dia tidak akan pulang sebelum dia menemukan kebenaran kalo Fariq berada di rumah itu.


dengan pelan Maira melangkah mundur sedikit demi sedikit,dirasa jarak dia dan Alif semakin jauh,Maira langsung berlari kembali lagi melanjutkan misinya.


sedangkan Alif dia tidak menyadari kalo dia hanya bicara sendiri," apa nona ingin istirahat?" tanya Alif tapi tidak ada sahutan dari Maira.


Alif yang merasa heran lantas dia berhenti berjalan dan menoleh kebelakang,ternyata dia tidak mendapati Maira,"nona...nona..." panggil Alif kebingungan.


"ish...apa dia pergi lagi ketempat itu?" Alif bertanya sendiri.


Alif bingung di sisi lain dia harus pergi karena perintah bapaknya,di sisi lain dia khawatir dengan Maira,Alif berpikir sejenak dan akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Maira dan dia pun kembali lagi.


sedangkan Maira kini sudah sampai di dekat rumah bambu yang terpencil,dia melihat beberapa orang sedang berjaga di luar,Maira mencoba mencari jalan untuk bisa masuk ke halaman rumah dan akhirnya dia pun mempunyai kesempatan,langsung saja dia bersembunyi di belakang rumah bambu itu.


dengan nafas ngos-ngosan Maira mencoba mengeluarkan sesuatu dari ranselnya,terlihat pistol yang dipegangnya,"maafkan aku kak,aku meminjam barang mu" gumam Maira,karena pistol itu milik kakaknya Sandi yang dia ambil dalam tas Sandi.


Maira memasukan pistol itu ke dalam jaketnya sekedar jaga-jaga apabila seseorang menyentuhnya,dan Maira merapihkan kembali ranselnya.


saat dia hendak melangkah tiba-tiba terdengar seseorang berjalan menghampirinya,tubuh Maira pun bergetar dan sudah ancang-ancang kalo sebentar lagi dia akan ketahuan.


tapi tiba-tiba saja,sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang dan membawanya ke semak-semak,dan Maira pun melepas paksa tangan itu saat dia berbalik,"Alif..." ucap Maira dengan spontan Alif menempelkan telunjuk di mulutnya,"sst..." Maira pun mengerti.


sedangkan orang yang hampir mengetahui keberadaan Maira dia sudah pergi,Maira dan Alif pun bernafas panjang.


"Lif,kalo saja kamu tidak ada,aku pasti sudah ketahuan" ucap Maira.


"nona...ayo lah kita pulang ini tidak baik" ajak Alif.


Maira menggeleng,"engga...misi ku belum berhasil"


"tapi kita hanya berdua,sebaiknya kita kembali dan membicarakan ini dengan teman-teman nona" tutur Alif.


"aku gak mungkin kembali lagi,ini sudah tanggung,sebaiknya kamu saja yang pulang nanti bapakmu mencari mu" titah Maira.


"aku gak bisa ninggalin nona sendiri" ujar Alif.


"engga...kamu harus pulang" ucap Maira.


"kita pulang sama-sama aja,yuk..." ajak Alif lagi.


Maira menggeleng dan Alif pun tidak bisa berbuat apa-apa dan kini dia akan membantu Maira,"ya sudah ayo kita lanjutkan misi mu nona" ucap Alif.


"kamu yakin?" tanya Maira,dan Alif pun mengangguk.


bersambung....