Humaira

Humaira
Bab 67 kerinduan cahaya 2



maira menemui fariq yang sudah berada dikamar,dia membawa segelas teh manis hangat dan cemilan untuk di berikan kepada suaminya.


"sayang..." panggil maira saat berada di kamar.


maira mencium punggung tangan suaminya,fariq pun mencium kening maira.


"minum dulu..." ucap maira memberikan teh manis hangat pada fariq.


"makasih sayang.. "


"maaf ya,papah nyuruh kamu pulang kesini" ucap maira.


"gak apa-apa,mungkin papah kangen sama kita"


"bagaimana bayiku sekarang dia akan menginap di rumah kakek..." ujar fariq sambil mengusap perut maira.


"sayang...kamu mandi dulu biar Segeran" perintah maira.


"nanti akh... aku masih pengen istirahat dulu" ujar fariq sambil berbaring dengan paha maira sebagai bantal.


"ih...kamu jorok"


"tapi tetap ganteng kan" goda fariq.


"kepedean..." ucap maira.


"sayang..." ucap fariq menggenggam tangan maira dan mengecupnya.


"iya..."


"sebentar lagi dia akan hadir diantara kita,kamu pasti banyak menghabiskan waktu bersamanya" ucap fariq.


"iya dong secara aku ibunya..." ujar maira.


"kamu harus adil ya..." pinta fariq.


"kenapa sih...kamu kaya gitu,sama anak sendiri"


"aku bercanda...kamu ih akhir-akhir ini sensitif banget" ucap fariq.


mereka menikmati kebersamaan berdua tiba-tiba saja maira teringat dengan ucapan cahaya,dia menceritakannya pada fariq.


"aku kasihan pada nasibnya...dia lahir tanpa ikatan pernikahan kedua orang tuanya" ucap maira.


"aku juga memikirkan hal yang sama,apa kamu pernah membahas soal ini pada sandi?" tanya fariq.


maira menggeleng dan berkata," aku gak yakin kalo mereka akan mendengarkan ku"


"tapi kenapa gak di coba untuk mengingatkan" ujar fariq.


"entahlah...aku bingung mau mulai dari mana" ucap maira.


"pelan-pelan saja ..." ujar fariq.


cahaya dan papah ikbal sekarang sudah berada di ruang keluarga,papah ikbal sedang mengajarkan cahaya berhitung.


sedangkan maira dan fariq sudah menuruni anak tangga dan menghampiri cahaya dan kakeknya.


"wah...cahaya rajin ya..." ucap fariq.


"kata kakek...cahaya harus pandai... iya kan kek..."


"tentu dong sayang..." ucap kakeknya,maira dan fariq pun tersenyum.


"mereka masih di kamarnya,mungkin sedang beristirahat" jawab papah ikbal.


"kakek...cahaya boleh minta sesuatu?"


"kamu mau apa?"


"mau pinjam ponsel kakek..."


"buat apa sayang...?"


cahaya tidak menjawabnya malah melihat kearah maira yang tengah duduk di samping fariq.


"kenapa sayang?" tanya maira.


cahaya menggeleng dan pamit untuk pergi kekamar," cahaya sudah belajarnya sekarang mau kekamar" cahaya pergi dan berlari.


maira tahu yang dimaksud cahaya dan papah ikbal pun berkata," papah sudah tahu pembicaraan kamu dan cahaya,papah sedih mendengarnya,kadang papah juga kesal pada kakakmu dia sudah menganggap enteng perasaan orang."


"terus bagaimana...apa kita akan membiarkannya seperti ini?" tanya maira.


"papah juga sudah memikirkannya hanya saja semua ini ada pada riana."


"kita coba saja bicara pada mereka bagaimana baiknya saja" ucap fariq.


di dalam kamar cahaya menangis,kerinduan pada lea sudah tidak bisa dia tahan,di peluknya Poto lea dan berkata,"mom...kapan pulang...katanya gak akan lama..." isak cahaya.


sandi dan riana sedang mandi bersama,riana sedang menikmati apa yang sedang dikerjakan suaminya,******* riana membuat sandi semakin bergairah.


mereka menikmatinya seakan di rumah itu hanya mereka berdua,sandi tidak tahu perasaan anaknya sekarang ini yang amat sangat merindukan ibunya.


sandi mengerang melepaskan sesuatu dari dalamnya dan mengakhiri kegiatannya.


setelah mereka selesai mandi,sandi menerima telepon dari papahnya,ada yang akan di bicarakannya jadi papah nya menyuruh sandi untuk datang keruangan kerja.


"ana...aku mau menemui papah di ruang kerjanya,jadi tolong kamu temui cahaya"


"iya sayang...aku juga ingin memberi sesuatu padanya".


sandi pergi menuju ruang kerja papahnya,disana sudah ada maira.


"sebenarnya ada apa pah..." tanya sandi penasaran karena disana sudah ada maira.


"duduklah..."


sandi duduk bersebrangan dengan papahnya,sedangkan maira duduk disamping sandi.


"coba maira kamu jelaskan pada kakakmu" ucap papah ikbal.


maira menghela nafas,"sebelumnya maira minta maaf kalo maira terlalu ikut campur tapi ini juga demi kebaikan cahaya,bagaimana kalo kita mencoba memberi kelonggaran pada lea untuk bisa berkomunikasi dengan cahaya,maira yakin itu akan membuat dia lebih nyaman tinggal bersama kita"


sandi mengernyit dan berkata,"apa selama ini aku melarang lea untuk menemui cahaya?"


"bukan begitu kak...ada baiknya kakak yang memintanya pada lea,dia tidak mungkin tiba-tiba menghubungi karena dia merasa pasti ada hati yang akan tersakiti yaitu kak riana"


"jadi papah mohon sama kamu untuk bisa mengatasi semua ini,asal kamu tahu ini buah dari kesalahanmu".


"baik lah...aku akan mencoba untuk berbicara pada riana..."


bersambung....