Humaira

Humaira
Perasaan



Humaira sedang asyik di perpustakaan. Dia hendak merampungkan tugas kuliahnya. Di sampingnya, Galuh. Galuh fokus men-scroll instagramnya. Entah apa yang dia cari.


"Galuh dari pada sosmed terus bantuin aku deh" Humaira sebal melihat Galuh cuek.


"Bolehlah aku senang-senang dulu, Mai.


Carilah sendiri. Aku lagi stalking nih ..." Galuh meneruskan berselancarnya.


Humaira cemberut. Bibirnya dimonyong-monyongkan. Sayangnya Galuh tidak melihatnya. Jadilah dia kesal sendiri. Akhirnya, dia meneruskan pekerjaannya tanpa bantuan Galuh. Entah hari ini Humaira tidak bersemangat. Tadi pagi berangkat dari rumah tidak bergairah. Umminya sampai berkali-kali membangunkan. Biasanya setelah sholat subuh langsung berbenah. Humaira justru rebahan. Kangen ayahnya. padahal baru sehari saja terpisah. Entahlah perasaannya mengatakan seperti ada peristiwa hari ini. Tapi peristiwa apa? Semoga ayah baik-baik saja di Bandung. Humaira lupa kalau ia pesan kue. Dalam pikirannya hanya ayahnya bukan oleh-olehnya.


"Aku malas, ummi. Hari ini aku tidak usah kiliah dulu ya" rajuknya pada ummi


"Humaira .... ingat pesan ayahmu loh" ummi mengingatkan pesan ayahnya agar Humaira tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya.


Ia menghela nafas. Entah kenapa hari ini begitu berbeda. Perasaannya aneh. Humaira beranjak menuju tepi jendela. Dia pandangi taman di samping perpustakaan. Kalau lagi bosan dia duduk di taman itu. Membaca di taman lebih asyik. Ditemani gemericik air dan ikan-ikan. Saling berkejaran. Bercanda. Ikan juga butuh hiburan hehehe .... Ia tertawa dalam hati. Menghibur diri.


"Mai .... kemari deh" panggil Galuh. Membuyarkan lamunan.


"Ada apa ....?" tanyanya penuh selidik


"Lihat berita di televisi. Tabrakan beruntun" jelas Galuh. Mereka berdua mendekati televisi.


"Iya, tabrakan beruntun sambung bu Feti" bu Feti pustakawan kampus yang gaul.


Mereka bertiga khitmad mendengarkan berita tersebut. Tidak ada suara yang keluar. Jantung Humaira berdegup kencang. Tiba-tiba dia ingat ayahnya. Gelisah menyergap. Ia berharap ayahnya tidak ada dalam peristiwa itu.


Dalam berita tidak jelas berapa korbannya dan siapa saja. Update data korban belum ada. Hanya ada gambar kiriman dari amatir. Beruntung ada yang mengabadikannya. Dalam gambar terihat truk yang melintang. Beberapa menit kemudian datang dari arah brlakang dari jenis truk yang sama. Kecepatannya tinggi. Mungkin remnya blong. Truk tersebut menabrak puluhan mobil yang berhenti. Dapat dibayangkan betapa mengerikannya. Tragis. Banyak potongan tubuh yang dikisahkan oleh perekam dari jalur sebelahnya.


Humaira masih penasaran.


"Mai, kamu kenapa?" Galuh jadi sedikit bingung melihat sahabatnya.


"Aku khawatir soal ayahku, Galuh"


" Memangnya ayahmu ada di antara mereka?"


"Semoga saja tidak. Ayah mendapat orderan ke Bandung. Hari ini katanya pulang. Jam 10 tadi sempat telepon aku"


Humaira mengambil handphonenya. Dia mencoba menghubungi ayahnya. Tersambung. Tetapi tidak ada jawaban. Dicobanya lagi lebih dari empat kali. Teyap tidak ada jawaban. Humaira makin gelisah.


"Bagaimana, Mai?


Humaira menggelengkan kepalanya. Wajahnya penuh kecemasan.


"Aku takut, Galuh!"


"Bagaimana kalau aku yang telepon ayahmu?" Galuh menawarkan diri. Dia cemas juga. Melihat sahabatnya seperti itu. Dia tahu persis Humaira sangat dekat dengan ayahnya. Wajar kalau dia sangat mwncemaskannya.


Galuh mengambil handphone Humaira. Nada panggilan berkali-kali berbunyi. Tidak ada jawaban. Kembali Galuh menghubunginya. Nada dering masih terus berbunyi. Nihil. Galuh memandang Humaira. Menggelengkan kepalanya.


Kembali Galuh menghubungi nomor handphone ayah Humaira. Setelah beberapa saat ada yang menjawabnya.


"Halo, dengan siapa ini?" Tanya Galuh.


"Ini Humaira?" Suara dari seberang telepon terdengar serak. Parau.


"Bukan. Saya Galuh, temannya"


Humaira merebut handphone dari Galuh.


"Ayah ...."


"Humaira?"


"Kamu siapa?" Humaira heran yang menjawab seorang wanita. Kecurigaannya muncul.


"Aku, Syafira"


Humaira heran. Ia bertanya-tanya kenapa handphone ayahnya ada di Syarifa. Lantas ayahnya? Oh ... jangan-jangan!


" Humaira, kamu masih di situ?" masih dengan suara yang parau.


"eee ... iya ... iya, Syafira. Kok hp ayahku ada di kamu. Ayahku di mana?"


Syafira tidak mampu menjawab. Airmatanya mengalir deras. Isak tangisnya terdengar oleh Humaira.


"Fira ..... kamu kenapa? Ada apa dengan ayahku?"


Syafira terbata-bata menjawab gempyran tanya Humaira. Sebenarnya dia tidak sanggup menjawabnya. Dia tenangkan diri. Berusaha berhenti menangis.


"Aaa... aaa...Ayahmu kecelakaan. Lukanya parah. Ayahmu ...... sudah tidak ada, Humaira. Ayahmu meninggal ...!" Syafira tidak sanggup lagi. Tangisnya pecah kembali.


Humaira seperti disambar gledek. Semua gelap.