Humaira

Humaira
Bab 34 malam pengantin



maira terdiam melihat wajah fariq ketika mendengar ucapan fariq ketika ingin di panggil sayang.


"maira... kamu gak kenapa-kenapakan!"


"enggak kak..."


"tuh kan panggilnya kak..."rengek fariq.


"iya sayang..." ucap maira sambil tersipu malu.


setelah selesai makan maira langsung mencuci piring,maira sangat cekatan karena dia sudah terbiasa.


sedangkan fariq berada dikamar,dia mondar-mandir kefikiran bagaimana memulainya dengan maira karena malam ini hanya ada mereka berdua,tiba-tiba suara pintu terbuka terlihat maira yang sedang berdiri melihat fariq yang mematung.


"kak...eh sayang lagi ngapain?" tanya maira sontak fariq pun tersenyum mendengar maira memanggilnya sayang...


"engga ngapa-ngapain sayang,aku nunggu kamu".


deggg....jantung maira terasa berdetak kencang dia baru sadar kalo dia belum memberikan hak untuk suaminya.


fariq mendekati maira yang sudah duduk di tepi ranjang,dia menggenggam tangan istrinya tapi maira masih belum bisa beradaptasi maira menyingkirkan tangan fariq,tapi fariq tidak diam dia berusaha untuk meyakinkan maira kalau mereka sudah halal.


tangan fariq beralih ke pipi merah maira,di elusnya dengan lembut seketika fariq mencium kening istrinya,dan maira memejamkan matanya pertamakalinya dia merasakan ada getaran di tubuhnya.


"mai...bolehkan buka kerudungnya?"


maira mengangguk dan langsung membuka kerudungnya tapi saat setengah terbuka maira menghentikannya.


"kenapa mai...?"


"bukannya sebelum menikah kamu sudah pernah melihatnya?" tanya maira.


"kapan sayang...?" fariq balik tanya.


"waktu kejadian di tepi jalan itu"


"oh itu...aku tidak melihatnya maira karena aku panik dengan keadaan kamu" jelas fariq.


maira masih menutupi rambut indahnya itu,tapi fariq mencoba membantunya seketika terlihat rambut yang diikat kebelakang,fariq pun membuka ikatannya dan terlihat jelas rambut panjang tergerai indah.


kini wajah mereka sangat dekat,fariq berbisik" kita sudah sah apa kamu siap?"


maira mengangguk,karena ini sudah kewajiban seorang istri jika suami sudah menginginkan.


fariq membaca doa terlebih dahulu sebelum menyentuh istrinya.


"bismillah,allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa"


setelah membaca doa fariq membelai lembut rambut maira pindah ke pipi dan langsung mencium bibir maira lembut ,maira belum bisa mengibangi suaminya karena dia tidak pernah melakukan hal itu.


setelah fariq melepaskan ciumannya dia membaringkan maira dia menciumi seluruh wajah istrinya tidak ada ya terlewatkan.


malam itu pun seperti milik berdua, ketika fariq berusaha memberi kenikmatan maira mengeluarkan air mata,sontak fariq menghentikan aksinya,"kamu kenapa sayang...?" tanya fariq yang masih diatas maira.


"sakit...." lirih maira.


"tahan sayang sebentar, nanti juga enak kok..aku juga merasakan hal yang sama" jelas fariq sambil menyeka air mata istrinya.


hampir setengah jam mereka bertahan akhirnya terasa keluar cairan hangat,maira semakin erat menjambak rambut fariq,setelah beberapa saat fariq pun mengeluarkan calon janin yang akan di kandung maira.


fariq berbaring di samping maira,seketika maira bangkit dari tidurnya dan mengenakkan baju yang dilepaskan oleh suaminya tadi dan pergi menuju kamar mandi.


terlihat fariq yang kelelahan dan dia segera bangkit dan melihat noda merah di seprai akibat perbuatannya pada maira.


"terima kasih mai...kamu sudah menjaga kesucianmu" gumam fariq.


tak berapa lama maira keluar dari kamar mandi,dia menghampiri suaminya.


"kamu kok jalannya gitu?" tanya fariq.


"perih banget...sayang..." jawab maira.


"sabar ya nanti juga bakal hilang dan terbiasa,sekarang kita istirahat masih banyak waktu untuk melakukannya" rayu fariq.


tak terasa sudah satu minggu usia pernikahan mereka,momen-momen berdua tidak di lewatkannya hampir setiap malam mereka saling memberikan hasrat batin.


cup...


fariq mengecup pundak maira," kamu mandi kok enggak tunggu aku sayang..."


"kalo aku nunggu kamu...nanti gak bakalan cepat mandinya soalnya kamu pasti minta jatah walau sudah dikasih" jelas maira.


"emangnya kamu enggak mau?"


"bukan begitu...tapi kan harus ada waktunya".


"tapi kalo sekarang gimana bolehkan?" rayu fariq.


"sekarang makan dulu mumpung nasi gorengnya masih hangat"


"enggak, aku mau kamu..."


"ih...geli...hentikan..." jerit maira saat fariq memainkan jarinya di telinga maira.


tiba-tiba suara bel berbunyi...ting...teng...


"siapa sih pagi-pagi sudah ada yang berkunjung,mengganggu saja" celoteh fariq.


"mungkin bibi..."


"kayanya bukan bibi,karena aku meminta bibi besok untuk kembali"


"ya udah kalo begitu aku yang bukain"


maira pergi membukakan pintu,ketika pintu terbuka terlihat gilang yang sudah berdiri didepan pintu.


"kak...gilang"


"maira...kamu sudah pindah?"tanya gilang


"iya...masuk yuk..." ajak maira.


gilang pun masuk


"silahkan duduk aku panggil kak fariq dulu"


maira pergi meninggalkan gilang yang berada di ruang tamu dan menghampiri fariq.


"sayang...ada kak gilang didepan"


"apa gilang?"


"iya...kenapa sih mukanya gitu amat"


"mau apa sih dia kesini?"tanya fariq.


"ya engga tahu..eh sekalian ajak makan ya".


fariq pun pergi menghampiri gilang.


"lang...apa kabar...?"


"aku baik-baik saja..."jawab gilang.


"kamu sudah sarapan?" tanya gilang lagi.


"belum,aku kesini mau..."


"sarapan dulu yuk,maira sudah bikin nasi goreng enak lho..." ajak fariq.


"makasih riq aku jadi malu" ucap gilang.


"biasanya aja kaya dirumah sendiri" ujar fariq.


"ya sekarang engga lah masa sudah ada maira harus di samain" ucap gilang.


"ya udah kita kebelakang kasian maira sudah nunggu" ajak fariq lagi.


bersambung....