
Satu bulan Humaira tidak pulang. Tugas menuntutnya untuk berpisah dengan wanita yang disayanginya, Ummi. Jika sedang tidak bertugas, dia lebih banyak mengurung diri di kamar. Selain harus mengisolasi diri jika tidak bertugas, waktunya untuk istirahat. Tidak ada teman untuk sekedar curhat. Santi dan dua bergantian tugasnya. Jadi jarang sekali punya kesempatan bercanda ria.
Hari ini dia sempatkan vicall dengan Ummi. Rindunya sudah tumpah. Setiap ada kesempatan selalu dilakukannya. Juga dengan Handi.
"Assalamu'alaikum, Ummi" suara di seberang menjawabnya lirih. Humaira was-was. Cemas.
"Ummi sakit?" Ummi tidak langsung menjawab. Sepertinya ada tarikan nafas yang berat terdengar meskipun pelan.
"Cuma demam biasa kok, Mai. Ummi kemarin lusa kehujanan pulang dari rumah Ustadzah Zubaidah" kelihatan wajah ummi pucat. Terbayang susahnya ummi. Sendirian. Sakit pula. Kalau sudah seperti ini ingin dua cepat pulang.
"Kamu sehat kan, nduk?" Ummi malah balik tanya.
"Sehat ummi. Ada siapa di rumah selain ummi?" Humaira tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Tadi ummi ditemani Handi dan adiknya, Fatma. Alhamdulillah, mereka hampir setiap hari singgah. Sekedar melihat ummi. Kadang Handi bersama ibunya" Ummi membesarkan hati Humaira. Dia tidak sanggup membendung airmatanya. Ada rasa sesal di hatinya. Dia sanggup merawat orang lain. Tetapi umminya sakit sendirian, dia tidak sanggup merawatnya.
"Kamu sudah makan, Mai?" Ummi kembali bertanya. Humaira bukannya menjawab, isakannya bertambah keras. Dia tidak bisa menekan perasaannya.
"Mai .... Ummi tidak apa-apa. Banyak orang yang peduli pada Ummi. Kamu tidak usah khawatir. Sekarang yang harus kamu perhatikan kesehatanmu. Jangan susah makan, ya!" Ummi tahu betul kalau Humaira paling susah makan. Sedari kecil seperti itu. Tak heran tubuhnya tidak pernah bisa gemuk.
"Mai ... tidak ada satu pun yang serba kebetulan. Daun yang jatuh tertiup anginpun sudah diatur oleh Allah. Jadi jangan cemaskan Ummi"
"Ummi, .... maafkan Mai, ya. Mai tidak bisa jadi anak yang baik. Mai tidak bisa merawat Ummi saat sakit seperti ini" Airmatanya terus mengalir. Ummi terlihat senyum. Senyum itu yang dirindukannya selain pelukan kasih.
"Mai .... apa yang kamu lakukan saat ini bisa jadi jalan baktimu kepada Ummi. Jangan bersedih, ya sayang" Ah ummi selalu begitu. Pandai sekali berbohong. Menutupi kesedihannya. Sekalipun sedang sakit.
"Mai ... sudah dulu ya. Doa ummi untuk kamu. Semoga Allah melindungimu, ya nduk" ummi menyentuh layar handphone, kecup sayang. Humaira membalasnya. Tangisnya sudah berhenti. Tapi airmatanya masih brebesmili.
Baru saja Mai menutup handphonenya. Dering panggilan berbunyi.
" Hallo, bu Tuti, ya. Ya bu ada yang bisa saya lakukan?" Humaira paham kalau bu Tuti yang menelepon akan ada tugas baru.
"Sebaiknya kamu cepat ke sini ya" suara di seberang sepertinya berat. Ada sesuatu yang terjadi, tebak Humaira.
"Jemputan sedang menuju hotel. Kamu siap-siap ya. Kalau sudah sampai langsung ke ruangan saya, Mai!"
"Baik, bu. Saya langsung turun ke lobby" Humaira langsung beres-beres. Kemudian menuju lobby. Hari kebetulan sudah sore. Seharusnya hari dia off. Baru tadi pagi dia sampai di hotel.
Santi seperti orang kebingungan. Dia mencari Humaira kesana kemari. Bertanya dengan rekan-rekan perawat tapi tidak ada yang tahu. Ada kabar penting yang harus disampaikan. Humaira seperti hilang ditelan bumi. Apa mungkin dia tenggelam samudera Corona?
Bu Tuti menyapa Santi. Kebetulan dia lihat Santi seperti orang linglung. Ibu yang penuh perhatian kepada para perawat.
"Santi kamu kenapa seperti orang kebingunan deh?" Dia menepuk punggung Santi. Santi terkejut dan menoleh ke belakang. Bu Tuti tersenyum. Santi menjelaskan siapa yang dia cari. Dia lupa kalau Humaira hari ini libur.
"Saya ingin dia segera tahu info ini, bu" Santi pasang muka kecewa karena tidak menemukan yang dia cari. Bu Tuti tenang dan tetap senyum. Senyumnya mendamaikan hati.
"Tenang, San. Lebih baik ikut saya, yuk" Bu Tuti mengajak Santi menuju suatu ruangan. Santi bukannya tenang, justru heran dan penasaran. Saya mau dibawa kemana nih? Santi jadi bertanya-tanya dalam hati.
Ketika pintu dibuka, ada seseorang yang sedang duduk sambil menangis. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ya, wanita itu Humaira.
"Humaira, kamu ?"
"Ya, Santi. Aku sudah tahu" Humaira bangkit dari duduknya. Dia Memeluk Santi.
Dokter Fahri hari ini terjatuh pingsan saat bertugas. Kemarin, dia dan Humaira sempat mengobrol lama di cafetaria. Jarang bertemu karena shif yang berbeda. Tak heran mereka ngobrol lama. Saat itu waktu istirahat. Humaira baru saja menyelesaikan tugasnya saat berjumpa dokter Fahri. Tidak ada tanda-tanda sakit.
Humaira dan Santi memandangi dokter Fahri yang terbaring. Dia belum siuman. dari pingsannya. Mereka hanya bisa memandangnya dari balik kaca.