
Maira dan Cahaya mereka menghampiri keluarganya yang sedang tengah berbincang di ruangan tengah.
"Ehem..." Maira berdehem dan membuat ketiga orang itu menoleh ke arah Maira dan Cahaya.
"Mommy...." ucap Cahaya sambil memeluk Riana.
"Cahaya..."
"Mommy...aku minta maaf sudah membuat Mommy bersedih" lirih Cahaya yang kini sudah melepaskan pelukannya.
"gak apa-apa princes...Mommy ngerti yang di rasakan sama kamu"
"Cahaya gak marah sama Mommy,Cahaya cuma takut kalo Mamah Lea gak sayang Cahaya lagi karena dia sebentar lagi akan menikah" jelas Cahaya.
Riana mencoba menjelaskannya pada Cahaya,"sayang gak mungkin kalo Mamah Lea tidak sayang sama kamu secara dia kan ibu kandung kamu,Mommy saja yang di sebut ibu sambung sangat sayang sama Cahaya apa lagi Mamah Lea dia lebih menyayangi Cahaya".
"iya Mom,tadi juga Kak Maira ngasih tahu Cahaya".
"jadi sekarang udah gak marah kan?"
Cahaya menggelengkan Kepalanya,"gak Mom...aku sudah ngerti kok".
"dan ingat jangan lakukan hal ini lagi ya, Papi gak suka" timpal Sandi.
"iya Papi..."
"sini dong Papi juga ingin di peluk",Cahaya pun menghampiri Sandi dan mereka saling berpelukan.
"anak pintar...Papi juga sayang kamu jadi jangan buat Papi khawatir lagi ya nak..." ucap Sandi sambil merekatkan pelukannya.
"senang lihatnya kalo keluarga seharmonis ini" ujar Papa Ikbal.
"Kakek juga ingin di peluk?" tanya Cahaya yang membuat kakeknya kaget,dan semua saling lirik akhirnya mereka pun tertawa.
hari berganti malam,Maira dan Fariq sedang duduk di balkon kamarnya,sambil di temani teh manis hangat.
"bagaimana Papa sehat?" tanya Fariq.
Maira menjawab,"alhamdulillah Papa sehat"
"syukurlah..."
"aku senang melihat keluarga Kak Sandi membaik lagi" ujar Maira.
"memangnya kenapa ?"
"sebenarnya kedatanganku ke mansion Papa untuk bisa membujuk Cahaya,karena mereka sudah kewalahan"
"Cahaya,dia kenapa lagi?"
"dia merajuk sayang...karena mendengar Lea akan menikah,sebenarnya aku paham apa yang dirasakan Cahaya,semua anak menginginkan kasih sayang yang utuh"
"ya seperti kita..." timpal Fariq.
"aku dan kamu tidak berbeda dengan Cahaya,kita sama-sama tumbuh tanpa keluarga yang utuh tapi yang membedakan itu hanya alur ceritanya saja" lanjut Fariq.
"iya dan aku tidak mau itu terjadi pada anak-anak kita" ujar Maira.
Fariq melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca,"aku tidak ingin kisah hidupku di alami oleh keturunanku,tumbuh tanpa orang tua itu rasanya pahit" ucap Maira sambil terisak.
Fariq menggenggam tangan istrinya lalu menyeka air mata Maira,"kita harus selalu berdoa agar Allah senantiasa memberikan perlindungan pada keluarga kita dan selalu bersama sampai akhir hayat yang memisahkan kita" ucap Fariq.
Mereka saling tatap,sampai akhirnya Fariq melabuhkan ciumannya di kening istrinya,"tetaplah bersama ku sayang..." lagi dan lagi Fariq berucap pada Maira untuk tidak pernah meninggalkannya,karena di dunia ini Fariq hanya memiliki Maira dan Dzakir.
Tidak banyak berkata,Fariq menggendong istrinya dan masuk kedalam kamar,lalu Maira di baringkan di atas kasur milik mereka berdua,dan akhirnya Fariq mulai mencumbui istrinya dan mereka pun melakukan penyatuan.
Kini telah tiba pernikahan Lea,Maira datang tanpa di temani Fariq karena dia sedang banyak urusan,dia datang bersama Sandi dan Riana,Papa Ikbal pun turut serta,sedangkan Cahaya sejak kemarin dia di jemput untuk menjadi pengiring pengantin perempuan,terlihat pesta yang mewah banyak sekali kolega pembisnis yang hadir secara Lea adalah seorang sekertaris dan suaminya adalah seorang Ceo.
Papa Ikbal pun sering berjumpa dengan teman-temannya karena suaminya Lea dia juga teman Bisnis Papa Ikbal.
"selamat ya..." ucap Riana sambil memeluk Lea.
"makasih sudah datang kepernikahan ku" ucap Lea.
"selamat ya mba,semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah" ucap Maira.
"makasih Mai..."
"maaf ya kak Fariq gak bisa hadir"
"gak apa-apa,aku ngerti kok"
Maira dan yang lainnya sedang menikmati cemilan yang di sediakan,"Kak Maira..." sapa Cahaya.
"Cahaya...subhanallah kamu cantik sekali" ucap Maira kagum dengan penampilan Cahaya bak seorang putri.
"siapa dulu Papa nya" timpal Sandi.
"ih...cantikan anaknya" ledek Maira.
Sandi tersenyum sambil berkata,"kamu tidak tahu,dulu waktu aku muda banyak sekali yang mengejar ku,termasuk wanita yang berada di sebelahku".
Riana pun melirik suaminya,"apa aku..." ucap Riana sambil menunjuk pada diri sendiri.
"kamu tuh yang selalu ngejar-ngejar aku sampai dia sakit karena aku menolaknya" jelas Riana.
"oh...ya..." ucap Maira sambil tertawa bersama Cahaya.
"ih kamu suka buka kartu orang" ucap Sandi kesal.
Tiba-tiba saja Papa Ikbal datang menghampiri mereka bersama seseorang yang seumuran dengannya,Sandi dan Riana pun berdiri tertegun.
"Ana..." sapa seorang lelaki paruh baya.
"Ayah..." ucap Riana dan mereka pun berpelukan.
Maira dan Cahaya pun saling lirik,"Ayah..." gumam Maira.
Ternyata laki-laki yang bersama Papa Ikbal adalah Ayah dari Riana,mereka berpisah karena Riana memilih menikah dengan Sandi,karena dulu pernikahan mereka tidak di restui oleh Ayahnya Riana.
"maafkan Ana yah...Ana sudah membuat Ayah kesal" isak Riana.
"Ayah juga minta maaf selama ini Ayah membuat hal yang bodoh terhadapmu" lirih lelaki itu.
"Ayah gak salah kok,Ana yang salah..."
"sudah lah nak,kita sama-sama salah"
Ayah riana melihat kearah Menantunya,"apa kamu tidak ingin menyambutku?" tanya laki-laki itu.
Sandi pun tersenyum lalu dia mencium punggung tangan mertuanya,"peluklah aku nak" ucap Ayah mertuanya.
Sandi pun memeluknya dan kini mereka bertiga saling berpelukan.
"maafkan aku,seharusnya aku dulu merestui kalian,aku sangat bahagia kalian masih bersama apa lagi aku dengar kamu sedang mengandung"
"iya,penantian kami yang sangat panjang dan akhirnya tuhan memberikannya pada kami" tutur Sandi.
Tidak lupa Papa Ikbal mengenalkan Maira dan Cahaya,Ayah Riana pun memandang Cahaya penuh seksama.
"Yah..." ucap Riana dia tidak tahu harus menjelaskannya secara Ayahnya baru bisa menerima pernikahannya bersama Sandi.
"Ayah sudah tahu,tadi Papa Sandi sudah menjelaskannya pada Ayah,kamu jangan takut nak sekarang yang terpenting kamu bahagia dan ingat untuk kamu" ucapnya pada Sandi.
"jangan pernah menyakitinya lagi apa lagi pergi meninggalkannya,karena bagi ku Riana adalah permata yang indah jadi sayang kalau di sia-siakan" pesan Ayah Riana.
"iya Yah...aku janji tidak akan pernah menyakitinya lagi" ujar Sandi.
Riana pun tersenyum bahagia kini hidupnya semakin lengkap,bukan hanya saja kehadiran Cahaya dan janinnya tapi kehadiran Ayahnya pun membuat mereka begitu berarti.
"ya allah terima kasih sudah memberikan kebaikan pada kami" ucap Maira dalam hati ketika melihat kakaknya tersenyum bahagia.
bersambung.....