
Setiap hari makin bertambah pasien yang harus dirawat. Pemda sudah mulai kewalahan menampung dan merawat pasien Covid 19. Seratus sembilan puluh rumah sakit tidak cukup. Akhirnya, pemerintah membuka rumah sakit darurat di kawasan Kemayoran. Humaira terpilih menjadi salah satu perawat di rumah sakit itu. Begitu juga Dokter Fahri.
"Ummi, ada yang mau aku bicarakan" Malam itu di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Humaira memberanikan diri bicara dengan umminya.
Ummi memandang Humaira. Tidak biasanya kaku. Ummi curiga.
"Ada apa, kelihatannya penting sekali?"
Ummi mencari jawaban dari tatapan Humaira. Humaira grogi. Ia ragu untuk memulainya.
"Ummi aku dapat tugas baru" Humaira memaksakan diri untuk memulai.
Humaira berharap umminya bertanya. Tetapi harapannya sirna. Ummi hanya memandangnya. Ia menanti penjelasan Humaira selanjutnya.
"Coba ulangi, Humaira" pinta umminya.
"Aku mendapat tugas baru di rumah sakit darurat di daerah Kemayoran, ummi" Humaira kembali menjelaskan dengan berat hati kabar tugas barunya.
Ini yang dikhawatirkannya. Ibu mana yang tidak berat hati melepas anaknya. Apalagi krisis yang sedang dihadapi bertaruh nyawa. Melihat dan mendengar berita di televisi saja sudah mengerikan. Bagi ummi yang sudah paruh baya bukan hal yang mudah. Terus terang ia tidak sanggup.
Humaira menanti reaksi ummi. Untuk beberapa saat ummi terdiam. Humaira tidak berani untuk meminta restu umminya. Ia tidak tega.
Ummi memeluk Humaira. Airmata Humaira tumpah. Tak tahan ia melihat perlakuan umminya. Sungguh dilematis baginya. Keputusan yang berat bagi Humaira. Tetapi ini merupakan langkah besar dalam hidupnya.
Ummi melepas pelukannya. Ia bangkit dari duduknya. Ummi meninggalkan Humaira. Ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia berwudhu sejenak. Kemudian menuju kamar. Pintu ditutupnya. Ummi melakukan sholat sunnah. Sementara Humaira menikmati kecemasannya sendiri. Bingung.
Namun di sisi yang lain ia harus berempati terhadap umminya. Hanya dialah satu-satunya yang dimiliki ummi. Bagaimana perasaannya melihat anak gadis satu-satunya berjuang. Resiko yang dihadapinya tidak main-main. Nyawa taruhannya.
Sudah satu jam ummi belum keluar juga. Humairah berusaha menenangkan diri. Ia berwudhu. Mengambil Alqur'an dan membacanya perlahan. Ia takut mengganngu shalat umminya. Makin lama membacanya ada hawa ketenangan dirasakannya. Dua jam berlalu, Ummi belum menampakkan batang hidungnya. Humaira mengetuk pintu kamar. Pintu tidak terkunci.
Ia melihat ummi masih mengenakan mukena. Dihampirinya wanita yang sangat disayanginya. Matanya sembab. Sajadah basah bekas airmatanya.
"Maafkan aku, ummi. Aku buat susah. Bukan maksudku membuat ummi sedih dan susah" Humaira memeluknya dan menangis di pangkuannya.
"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Kalaupun ummi menangis karena hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala kita berserah diri. Memilihkan jalan terbaik sesuai kehendakNya bukan maunya kita, nak" ummi membesarkan hati Humaira yang merasa bersalah atas keputusannya.
"Salahku menerima tugas ini tanpa minta restu ummi" dipandangnya wajah ummi. Ia melihat cahaya di kedua bola matanya.
"Tidak sayang kamu tidak salah. Keputusanmu menerima tugas mulia itu sudah benar. Tapi ummi sebagai ibu pastilah berat melepasmu" ummi jujur mengakui. Ya, hati ibu mana yang sanggup melepas anaknya berjuang di front terdepan. Bayang-bayang yang buruk menghantui pikirannya.
"Ummi merestui keputusanmu, sayang. Tapi ummi tidak mau kehilanganmu. Kamulah harapan ummi" ganti ummi memandang wajah putrinya penuh kasih.
"Yakinlah atas keputusanmu, Mai. Jangan setengah-tengah berjuang. Biarlah Allah yang menjadi pelindungmu. Jangan tinggalkan sholat, jagalah wudhumu, ya" kata-kata mutiara mulai mengalir deras dari bibir ummi.
"Ya, ummi. Aku tidak akan melupakan pesan ummi. Doakan aku untuk kuat melakukan tugas mulia ini. Doa ummi ampuh buatku" dipeluk erat wanita paruh baya itu. Kembali keduanya menangis. Menangis bahagia.
"Ayahmu pasti bangga, Mai" dikecup kening Humaira.
Malam itu begitu hening. Tenang. Hanya sesekali bunyi dahan yang bergesekan pelan ditiup angin. Seakan mereka bertasbih dan turut merasakan kebahagiaan dua wanita, ibu dan anak.