
sandi sudah pulang dari tempat kerjanya,dia sudah sampai di rumah dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar,saat dia membuka pintu terlihat pemandangan yang menyejukkan hati,terlihat istri dan anaknya sedang tidur sambil berpelukan.
sandi menghampiri mereka dan mencoba mencium kening keduanya,ada rasa bahagia menatap wajah keduanya,tidak terbayangkan dia akan sampai di titik ini walaupun dia harus mengorbankan perasaan yang lain.
sandi mencoba menjauh dia tidak ingin mengganggu keduanya,dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
di rumah, maira sedang menunggu kedatangan suaminya,dia berjalan mondar-mandir sambil menggendong buah hatinya,tidak lama kemudian suara mobil terparkir,maira hendak melihat keluar dari dalam jendela,di dapatnya fariq yang hendak turun dari mobil.
tidak menunggu lama maira langsung membuka pintu rumah menyambut sang suami pulang bekerja,di raihnya tangan fariq dan mencium punggung tangan suaminya,fariq pun tidak diam dia mengusap kepala dan mencium kening istrinya.
"assalamualaikum" ucap fariq.
"waalaikumsalam" jawab maira.
masih berada dekat pintu,fariq tidak lupa mencium kening dzakir anak laki-lakinya.
mereka pun masuk kedalam rumah dengan tangan fariq menggandeng istrinya,mereka duduk di ruang keluarga,maira membaringkan dzakir di box bayi,dan dia langsung kedapur mengambil minum untuk fariq.
"apa dzakir tidak rewel sayang?" tanya fariq.
"tidak sayang...dari tadi dia tidur" jawab maira ketika sudah kembali dari dapur.
"tapi ingat setiap 3 jam sekali harus dibangunkan biar dia mimi susu" kata fariq.
"iya sayang...tadi juga aku bangunin dia,bagaimana dengan pekerjaannya lancar?"
"ehm...sedikit ada masalah,tapi bisa di tangani"
"syukurlah...oh iya sayang cepat ke kamar mandi kamu harus mandi biar kelihatan tampan" goda maira pada fariq.
fariq pun tersenyum dan berkata,"kamu sudah mulai nakal,tapi sayang aku harus puasa dulu" kekeh fariq.
"aku tidak salahkan nakal sama suami sendiri"
"itu harus sayang..." ucap fariq sambil mencium pipi maira,dia beranjak pergi untuk membersihkan badannya.
maira pun menggelengkan kepalanya,"ya ini rasanya pacaran setelah menikah,walaupun sudah lama menikah tapi serasa baru kemarin" gumam maira.
setelah selesai mandi fariq kembali keruangan keluarga,dia duduk di dekat anaknya yang sudah tidur,sedangkan maira sedang membantu bibi menyiapkan makan malam.
"non...sebaiknya bibi saja yang kerjakan,nona duduk saja temani den dzakir" ucap bibi.
"tidak apa bi,dzakir lagi tidur lagian aku hanya merapikan saja" ujar maira.
bibi pun menghela nafasnya,"baiklah non"
adzan magrib berkumandang,fariq hendak pergi ke kamar untuk menunaikan solat,sedangkan maira sekarang bergiliran menemani dzakir,di tatapnya wajah anaknya yang mirip dengan ayahnya,"umma yang mengandung sembilan bulan,umma yang merasakan ngidam,umma yang melahirkanmu,kok wajah kamu mirip abi mu nak..." gumam maira.
"tapi umma senang walau kamu tidak mirip umma,setidaknya mirip abi mu"
panggilan dzakir ketika sudah besar nanti pada orang tuanya umma pada maira dan abi pada fariq.
setelah selesai solat fariq keluar kamar untuk makan malam bersama umma nya dzakir yaitu maira,"sayang ayo kita makan malam dulu,mumpung dzakir masih tertidur" ajak fariq.
"ayo..." maira pun menggandeng tangan abi nya dzakir yaitu fariq.
setelah berada di meja makan,maira dan fariq makan bersama,tidak selang beberapa menit suara tangisan dzakir terdengar,"oa...oa...."
maira pun belum sempat menghabiskan makanannya dia langsung menghampiri dzakir lalu menggendongnya,"sayang...ini umma nak,kamu haus ya" ucap maira menenangkan bayinya sambil memberikan ASI nya.
seketika bayi dzakir terdiam,disedotnya ****** umma nya dengan rakus karena kehausan.
setelah berada dekat maira dia mencoba menyuapi istrinya yang sedang menyusui anaknya,maira pun dengan senang hati membuka mulutnya.
sungguh indah sekali ketika suami istri saling memahami dan melengakapi,semoga menjadi panutan untuk kita semua yang membacanya....
setelah selesai makan,maira mencoba membicarakan pada fariq tentang art baru di rumahnya yang akan membantu bibi.
"sayang...tadi aku sempat ngobrol sama papah soal bibi,dia memberi saran kalo kita tambah lagi art baru untuk membantu bibi,kasian bibi dia sudah sering sakit-sakitan dan badannya sudah tua" tutur fariq.
"aku juga memikirkan hal yang sama" ujar fariq.
"tadi aku juga sempat berbicara seperti itu pada papah,tapi papah kasih saran kalo kita tambah saja art baru,malahan papah bilang kalo kita butuh art,papah bisa mengalihkan art nya kerumah kita,bagaimana sayang?" maira meminta pendapat suaminya.
fariq tidak langsung menjawab,dia mencoba berfikir terlebih dahulu,tidak lama kemudian fariq berkata," sebaiknya biar bibi saja yang menentukan, soalnya art baru kan yang akan membantu bibi jadi dia harus mencari partner kerjanya agar nyaman" jawab fariq.
"baiklah kalo begitu itu aku menurut saja" ucap maira.
"tapi maafkan aku bukannya aku tidak menerima saran papah,hanya saja aku ingin kenyamanan buat para pekerja di rumah kita" jelas fariq.
"tidak apa-apa sayang,sebaiknya kita bicarakan ini secepatnya" ujar maira.
fariq pun mengangguk dan memanggil bibi," bibi..."
"iya den..." sahut bibi sambil menghampiri majikannya.
"duduk bi..." titah fariq,bibi pun duduk di bawah kaki majikannya,"bi...duduk di sofa saja" ucap maira.
"tidak non,bibi disini saja" ujar bibi.
"bi ini perintah..." kata maira.
bibi tidak bisa menolaknya lagi,dengan canggung bibi duduk di sofa dekat fariq.
" bi...sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan tentang pekerjaan"
"jadi saya akan menambah art baru untuk membantu bibi,tapi sebelumnya saya dan maira minta maaf bukan ingin merendahkan bibi tapi saya tidak mau bibi teru-terusan bekerja karena bibi sudah tidak muda lagi"
"jadi saya minta bibi yang cari partner kerja bibi " jelas fariq.
"tapi tuan apa tidak apa-apa kalo saya yang menentukan?" tanya bibi.
"tidak bi,ini untuk kenyamanan bibi sendiri" ucap fariq.
bibi terdiam dan berfikir,kalau dia mempunyai anak perempuan yang sedang membutuhkan pekerjaan.
bibi mencoba berkata," den...nona,bagaimana kalo anak saya saja yang bekerja di sini,lagian dia sedang membutuhkan pekerjaan"
fariq dan maira pun saling menatap,dan fariq menjawab," tentu saja bi...apa lagi itu anak sendiri,bibi tidak akan canggung".
"baiklah kalo begitu saya akan menelepon anak saya,tapi kapan ya mulai bekerjanya?"
"besok juga boleh..." jawab maira.
"makasih non...den..." ucap bibi.
"iya,sebaiknya bibi istirahat saja,kalo ada kabar dari anaknya beritahu saya" ujar maira.
bersambung.....