
setelah berbincang akhirnya papah ikbal dan riana pamit pulang karena mereka harus menjemput cahaya,"baik-baik di rumah sayang..." pesan papah ikbal pada maira.
"iya pah..."
papah ikbal dan riana benar-benar pergi,di ruangan kelurga hanya maira dan bayi dzakir,tiba-tiba ratna menghampiri,"bu..."
maira menoleh ke arah ratna,"ada apa na?" tanya maira.
"tidak ada apa-apa bu,saya hanya ingin menemani ibu" jawab ratna.
maira tersenyum,"kemarilah..." ajak maira.
ratna pun menghampiri majikannya dan duduk di lantai,"apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya maira lagi.
"sudah bu..."
"kenapa tidak istirahat saja?"
"istirahatnya menemani ibu saja" ujar ratna.
"baik lah,kalo begitu saya titip dzakir dulu,saya mau ke kamar" pinta maira.
"baik bu..."
maira melangkahkan kakinya pergi ke kamar,disaat itu pula ratna menatap bayi dzakir yang tertidur,"kamu mirip sekali dengan bapakmu,andai dia menjadi suamiku mungkin hidupku tak akan susah seperti ini,akh...nasib membuatku jadi begini" gumam ratna.
tidak lama kemudian maira keluar dari kamar dia menghampiri bayinya lagi yang sedang bersama ratna.
"makasih kamu sudah menjaga dzakir,sebaiknya kamu istirahat saja" ujar maira.
"ehmmm...bu saya boleh bertanya sesuatu sama ibu?" tanya ratna.
"tanya tentang apa?" maira bertanya kembali.
"anu bu...tentang pernikahan ibu" jawab ratna.
maira pun mengernyitkan keningnya kenapa ada orang asing yang tiba-tiba menanyakan pernikahannya.
"kenapa kamu bertanya soal pernikahanku?" tanya maira lagi.
ratna menjawab,"saya pernah gagal dalam rumah tangga,saya sekarang seorang janda anak dua,dan saya harus menghidupi kedua anak saya seorang diri".
maira pun tidak mengerti dengan sikap ratna kenapa dia bisa mengatakan tentang kehidupannya pada orang yang baru dia kenal.
"maksud kamu?" maira bertanya lagi.
ratna pun tersenyum,"akh...tidak bu maafkan saya sudah lancang menanyakan pernikahan ibu dan mengatakan kalo saya ini janda,maaf ya bu"
maira menggelengkan kepalanya,"kamu ini..."
"kalo begitu saya kembali ke dapur bu" pamit ratna.
"iya silahkan..."
ratna pun pergi ke dapur,sedangkan maira mengutak ngatik ponselnya.
waktu menunjukkan sore hari,ratna sedang merias diri di depan cermin dan memakai parfum ke seluruh badannya,"tunggu aku mas,kamu akan terpesona dengan penampilanku ini..." ucap ratna.
dia memakai pakaian yang sedikit terbuka,memperlihatkan bentuk tubuhnya,yang membuat lelaki gatal akan langsung melahapnya,dengan baju berwarna biru tua di bagian dada yang terlihat sedikit bukit kembarnya itu.
fariq sudah berada di rumah,seperti biasa dia bercengkrama dengan maira tentang pekerjaannya di rumah sakit.
"sini sayang aku pijat kepalanya"
fariq pun tidur dengan berbantalkan paha maira,dipijatnya kepala fariq dengan lembut yang membuat fariq keenakan.
"sayang...kamu makin cantik deh kalo gini" goda fariq.
fariq pun menarik tangan maira lalu menciumnya,"aku sudah kangen sayang..."
maira pun mengerti dengan ucapan suaminya,jadi wajar kalo fariq sedikit mengungkapkan isi hatinya.
"sabar sayang..." ucap maira sambil menundukkan kepalanya lalu mencium kening suaminya.
ada dua pasang mata yang sedang melihat keromantisan maira dan fariq,"aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi,karena nanti yang harus berada di situ adalah aku" gumam ratna sambil mengepalkan tangannya terasa sesak didadanya melihat keharmonisan majikannya ada rasa cemburu yang menggebu di hatinya.
tidak lama kemudian ratna menghampiri mereka sambil membawa sebuah makanan dan minuman,dia mengatur jalannya agar fariq terpesona.
saat ratna sudah berada dihadapan majikannya,fariq bangun dari tidurnya,"jadi kamu ratna yang akan menemani bibi bekerja disini?" tanya fariq.
ratna pun tersenyum malu,"iya tuan...semoga kedatangan saya kesini bisa membantu tuan dan nona"
"baiklah selamat bekerja dirumah kami" fariq menyambut ratna.
ada senyum kemenangan di hati ratna,dia membungkukkan badannya untuk menyimpan makanan di atas meja,dan terpampang gunung kembarnya itu,fariq pun langsung menutup matanya,"astagfirullah" ucap fariq dalam hati.
tak kalah terkejutnya saat maira melihatnya," ada apa dengan ratna,apa pakaian sehari-harinya seperti ini" ucap maira dalam hati,maira yang melihat tingkah laku art barunya hanya mengernyitkan keningnya dan melirik pada suaminya yang memejamkan matanya sambil tertunduk.
maira mencium bau yang mencurigakan,"tadi waktu siang pakaiannya masih biasa,tapi ketika fariq sudah dirumah pakaiannya seperti kekurangan bahan",masih dalam hati maira.
"astagfirullah..." ucap bibi dari pintu dapur yang melihat penampilan anaknya.
bibi menghampiri maira,fariq dan ratna," maaf den...nona...atas tingkah laku anak saya" ucap bibi.
bibi menarik tangan ratna dan membawanya kembali ke dapur," apa yang kamu lakukan dengan memakai pakaian seperti ini,apa lagi dihadapan den fariq dan nona maira" ucap bibi kesal.
"ih...ibu kuno,art sekarang ya begini ****-**** tidak kaya ibu norak.." jawab ratna.
"kamu disini mau kerja atau mau dagang?" tanya bibi kesal.
"bu...sudah deh...sebaiknya aku mau istirahat" ujar ratna sambil pergi ke kamarnya,bibi pun menggelengkan kepalanya.
maira dan fariq berada dikamarnya,"sayang...apa ratna tidak malu berpakaian seperti itu?"
fariq pun menjawab,"aku tidak tahu..."
maira diam dia berfikir sesuatu,bagaiman pun ada yang tidak beres.
"sayang...aku kok jadi gak karuan gini liat tingkah laku ratna,tadi aja dia menanyakan soal pernikahan kita" ucap maira.
"apa iya?buat apa?" tanya fariq sama-sama tidak mengerti.
maira menggelengkan kepalanya,"aku juga enggak tahu,malahan dia sempat bilang tentang statusnya,aku jadi risih melihat penampilannya" ujar maira.
"tenang sayang...aku tak akan tergoda..." ucap fariq meyakinkan ummanya dzakir.
"tundukkan pandanganmu sayang ketika melihat wanita memakai pakaian kurang bahan" ujar maira.
fariq pun terkekeh mendengar ucapan maira,"yang kaya gituan banyak dijalanan"
"sayang..." rengek maira.
di kamar ratna dia sedang berbaring sambil menatap poto fariq waktu masih kuliah,"sayang...tidak apa kamu sekarang tidak tergoda,tapi lain waktu kamu yang akan pertama menjamah ku,tapi kalo itu tidak terjadi maka maafkan aku bila berbuat licik" ratna menyeringai.
dia mengingat masa-masa dulu waktu fariq masih duduk di bangku kuliah,saat dia membantu ibunya bekerja di rumah fariq,dia selalu mencuri pandang pada fariq,memimpikan kalo fariq akan jatuh hati padanya.
sampai-sampai dia harus rela berkorban untuk pujaan hatinya,pernah dia berfikir untuk mengatakan cinta pada fariq,tapi dia urungkan setelah fariq pergi untuk sementara waktu keluar kota untuk tugas kampus.
begitu besar rasa cintanya terhadap fariq,sampai dia sudah menikah pun yang berada dalam impian adalah fariq.
bersambung....