Humaira

Humaira
Bab 45 kerinduan



maira dan fariq selesai menjalankan solat subuh,seperti biasa fariq memimpin berdoa,selesai berdoa maira dan fariq saling berhadapan fariq mengecup kening maira.


"terima kasih sudah menjadi pendamping hidupku" ucap fariq.


"sayang...aku boleh kan hari ini ke panti..." tiba-tiba maira meminta ijin pada fariq,karena maira sudah lama memendam rindu pada keluarganya.


"boleh...jam berapa berangkat?" tanya fariq.


"nanti kalo sudah beres di rumah..." jawab maira.


"bagaimana kalo sebentar lagi,biar aku suamimu mengantarkanmu"


"gak usah...maira pesen grab aja,sayang...kamu kan harus bekerja..." ujar maira manja.


"ya udah kalo gitu nanti pulangnya aku langsung kesana sekalian jemput"


"ok..." mereka tertawa bersama.


waktu menunjukkan jam 9 pagi maira baru sampai panti lalu dia masuk kedalam lewat pintu belakang,maira melihat di sekeliling rumah ternyata setelah kepergiannya tidak ada yang berubah.


"maira..."


"kak...rahmi..."


mereka berpelukan melepas rindu,maira memperhatikan tubuh kakak iparnya...


"kakak sakit?" tanya maira.


rahmi menggeleng dan menjawab," enggak...kok"


"tapi perut kakak seperti agak berisi,kakak hamil?" tanya maira penasaran dengan kondisi rahmi.


"iya...kamu bakal punya keponakan" jawab rahmi sambil mencubit hidung maira.


"alhamdulillah akhirnya penantian yang panjang sudah di depan mata " ucap maira sambil mengusap perut rahmi.


"kalo kamu gimana,udah ngisi?" tanya rahmi.


"belum,maira masih ingin berpacaran dulu sama kak fariq" jawab maira.


"ehm...kamu ini...tapi kakak doain supaya cepat-cepat nyusul"


"aamiin...."


maira dan rahmi masih mengobrol,maira menceritakan keadaan dirumahnya yang baru,rahmi pun dengan setia mendengar cerita adik iparnya itu.


"eh..eh..eh....ternyata ada neng maira..." ucap bu lastri menghampiri maira dan rahmi.


"ibu...maira kangen..." ucap maira memeluk bu lastri.


"ibu juga sama sudah kangen...bagaimana kamu sehat nak?"


"alhamdulillah maira sehat..."


"pantesan kelihatan dari tubuhnya sekarang mulai berisi alias gemukkan"


"ibu..."


"pasti fariq sering memanjakannya" goda rahmi.


"harus...kalo tidak awas saja" ucap ibu mengepalkan tangannya,mereka bertiga tertawa, kerinduan maira pada keluarganya terobati.


"tapi ibu yakin nak fariq memperlakukan kamu dengan baik" ucap bu lastri.


"alhamdulillah bu...kak fariq suami idaman" ujar maira membanggakan suaminya.


"tapi ibu tidak lihat menantu ibu?"


"kak fariq kerja...nanti juga kesini kok sekalian jemput maira"


tiba-tiba saja rahmi berlari ke kamar mandi,dia terdengar muntah-muntah...hoek...hoek...


"bu kak rahmi baik- baik saja kan?" tanya maira panik.


"itu sudah biasa,hamil muda memang begitu" jawab bu lastri.


"memangnya berapa usia kandungan kakak?" tanya maira setelah rahmi keluar dari kamar mandi.


"baru empat bulan" jawab rahmi.


"kakak sudah periksa kedokter?"


"belum, karena kakak kamu takut muntah di jalan,terkena matahari saja dia sudah pusing bawaanya mual" jelas bu lastri.


"kalo gitu biar kak fariq yang periksa kakak!" ucap maira.


"kak, itu sudah jadi tugas suamiku dia kan dokter ahli kandungan"


"tapi kan sama dek..."


"tapi seengganya kakak butuh obat untuk menghilangkan mual"


"ya sudah aku nurut kamu saja...tapi kakak mau ditemani kamu ya" pinta rahmi.


"iya..."


maira langsung menelepon fariq,dia memberitahu keadaan rahmi dan maira meminta pada suaminya untuk memeriksa kakaknya dan sekalian membawa obatnya.


saat maira menutup panggilannya dia mendengar suara anak kecil yang tak asing di telinganya,cahaya...anak yang selalu bersamanya tidak mengenal lelah maira selalu menjaganya,maira kangen dengan tangisannya,kangen dengan celotehannya membuat dia menangis sambil memeluk tubuh mungil cahaya.


"kakak kangen cahaya..."isak maira.


"cahaya juga kangen sama kak maira..."


maira menatap bocah itu,dia teringat dengan kejadian semalam kalo sandi adalah kakak kandungnya berarti cahaya adalah keponakannya.


setelah beberapa jam berada di panti,terlihat fariq datang sambil menenteng sebuah kantong plasik dengan senyum simpul fariq menghampiri maira dan keluarga panti yang sedang berkumpul melepas rindu.


nampak fahmi sudah berada disana mereka menyambut fariq dan mengambil kantong plastik yang dibawa fariq,ternyata isinya adalah makanan,anak-anak saling berebutan sampai maira dan bu lastri kewalahan.


"sayang kok pulangnya cepat dari biasanya?" tanya maira.


"iya...aku jadi ingat kamu terus" ucap fariq ketika berada di kamar maira saat di panti.


"ih...kamu tuh.." belum sempat melanjutkan fariq sudah mencium bibi maira lembut.


"sayang..." rengek maira karena kelakuan suaminya.


"kamu ngangenin deh..."rayu fariq.


"gombal..." ucap maira manja.


"yang...ayo kita itu..." ajak fariq.


"apaan sih..."


"masa kamu gak ngerti..."


"gak bisa sayang...disini banyak orang"


"tapi nanti dirumah ya..." ujar fariq meraba pipi putih maira.


"iya...nanti..."


tok...tok...tok...


"tuh kan...disini gak bakal tenang..." ucap maira sambil berdiri dan membuka pintu.


"kakak di panggil kak fahmi..."


maira dan fariq menyusul,rahmi,fahmi dan bu lastri sudah berada di ruang tengah.


"iya ada apa kak...?"


"katanya tadi kamu nyuruh fariq periksa rahmi" ujar fahmi.


"oh iya aku lupa,sayang tolong periksa kehamilan kak rahmi"


"iya mari..." ajak fariq.


"eh...istri aku mau di bawa kemana?" tanya fahmi.


"ya di periksa dong kak..." jawab maira.


"ya tapi dimana?"


" ya di kamar...masa di dapur..."


"berdua?" tanya fahmi.


"kakak juga boleh ikut..." jawab fariq santai.


setelah berada di kamar maira,rahmi berbaring dan fariq duduk di samping rahmi,saat fariq hendak membuka baju rahmi,fahmi berteriak "hei...apa yang akan kamu lakukan?"


fariq menjawab,"ya di periksa memakai alat ini" fariq menunjukkan sebuah alat detak jantung untuk bayi yang berada di rahim.


"udah deh kak...lihat saja dulu" ujar maira.


bersambung.....