Humaira

Humaira
Bab 94 pencarian



di tempat dan waktu yang sama mereka masih berbincang mengenai kesepakatan mencari Ratna.


"terima kasih atas kerjasamanya lalu kabar berita apa yang kalian dapatkan?" tanya Maira pada kedua kakak beradik itu.


"kami mendengar dari anak Ratna, dia pernah melihat ibunya sedang bersama bang gobang preman gang sebelah" jawab Rudi.


mereka yang mendengarkan saling tatap satu sama lain," apa mereka punya hubungan sesuatu?" tanya Maira penasaran.


"itu dia yang saya curigai,dulu Ratna paling tidak suka kalo bang gobang mengejarnya tapi kenapa sekarang Ratna bisa bersamanya,walaupun saya belum tahu kebenarannya" jelas Rudi.


"jadi maksud kami kesini,kami juga butuh bantuan nona" ucap Budi,"agar adik kami terlepas jauh dari ikatan bang gobang jikalau mereka mempunyai hubungan" lanjutnya lagi.


"cih...itu namanya bukan ingin membantu tapi mencari keuntungan" ketus Sandi.


"Sandi...jangan memperkeruh suasana" ucap Papa Ikbal.


"memang benarkan Pa..." ujar Sandi,Papa Ikbal pun menggelengkan kepalanya.


"dan kami juga datang kesini karena ibu,dia sudah diperlakukan dengan baik oleh keluarga ini,karena itu juga beliau bisa menghidupi keluarganya tanpa kekurangan apa pun" jelas Budi.


"anggap saja ini ucapan terima kasih dari kami,dan kami siap membantu mencari den Fariq dan informasi terhadap adik kami " lanjutnya lagi.


"baguslah kalo kalian mempunyai rasa terima kasih" ketus Sandi,dan Papa Ikbal yang melihat tingkah Sandi pun kepalanya terasa pusing.


"tentu saja kami punya rasa berterima kasih karena ibu kami selalu mengajarkan hal-hal yang baik" ucap Rudi.


Maira yang mendengar hal itu melirik ke arah bibi,dia berkata," aku tahu dengan perasaan bibi,tidak ada seorang ibu yang tega melihat anaknya diperlakukan dengan buruk,kau berhati mulia bi terima kasih sudah membantuku".


"jangan berterima kasih pada bibi,karena ini juga kebaikan keluarga den Fariq dan nona" tutur bibi,Maira pun memeluk bibi sambil menangis,dia yakin ini berat untuk bibi menerima kenyataan ini.


Maira melepaskan pelukannya dan berkata,"aku tidak akan mengingkari ucapan ku tadi".


"lalu apa rencana kita sekarang?" tanya Gilang.


"bagaimana kalo kita mencari keberadaan si gobang dahulu dan kemana mereka pergi" ucap Fahmi memberikan saran.


"itu ide bagus" ucap Sandi.


"kalo boleh usul bagaimana kalo kita mencari ke kampung halamannya" ucap Rudi anak kedua bibi.


"maksudnya?" tanya Gilang.


Rudi menceritakan pada mereka kalo gobang bukan asli orang sini,dia datang ke kota itu untuk mencari pekerjaan,satu tahun sekali dia rutin pulang ke kampung halamannya.


"lalu apa kamu tahu alamat orang itu?" tanya Sandi.


"saya akan mencoba menanyakan pada ketua RT setempat kebetulan dia adalah teman saya" ucap Rudi.


"bagus ternyata kamu bisa diandalkan..." ujar Sandi sambil menepuk pundak Rudi.


"jadi kapan kita mulai pencarian?" tanya Papa Ikbal.


Sandi menjawab," kita tunggu informasi selanjutnya dari dia" sambil menunjuk dengan tangannya," kalo kita sudah tahu alamatnya kita langsung pergi" lanjut Sandi.


"kenapa tidak kerahkan anak buah saja?" tanya Papa Ikbal.


"kita akan mendampingi mereka Pah,dan untuk kamu sebaiknya cepat-cepat menemui teman mu itu supaya kita bisa dengan cepat menemukan Fariq" ucap Sandi pada Rudi.


"baik akan secepatnya,kalo begitu kami pamit pulang" ucap Rudi,dan mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Maira.


keesokan harinya tepat pukul 8 pagi,mereka sudah berkumpul lagi di kediaman Maira karena Rudi sudah mendapatkan alamat gobang.


ternyata sepulang dari rumah Maira,Rudi dan Budi langsung pergi menemui teman Rudi yang menjadi ketua rt di tempat itu,mereka mendapatkan informasi kalo Ratna sering sekali di ajak ke kontrakan preman itu.


mereka berdua geram mendengarnya dan langsung meminta untuk berkumpul lagi di rumah Maira.


"apa yang dilakukan Ratna,kenapa dia menjadi seperti itu?" tanya bibi sambil menggoyangkan tubuh anaknya Rudi.


"aku juga tidak tahu bu,para tetangga seakan bungkam" jawab Rudi.


bibi menangis dia tidak tahu sedang apa dan apa yang Ratna lakukan sekarang,kenapa dia tidak tahu akan hal itu,Maira yang melihatnya langsung menenangkan bibi dengan mengusap punggung bibi.


tidak menunggu lama mereka pun bergegas siap-siap untuk pergi termasuk Maira,dia tidak mau ketinggalan moment pencarian terhadap Suaminya,dan dia berdoa semoga mendapatkan hasil yang memuaskan.


mereka sudah siap berangkat hanya saja Papa Ikbal tidak ikut dia yang akan menjaga Dzakir bersama Riana.


"Maira...apa kamu yakin dengan semua ini?" tanya Papa Ikbal.


"aku yakin Pa...aku titip Dzakir,persiapan ASI sudah ku masukkan dalam kulkas" ucap Maira.


"tentu saja sayang...kamu jangan khawatir dia akan baik-baik saja bersama Papa" ucap Papa Ikbal.


"makasih Pa..."


"aku tunggu kepulangan kalian" ucap Riana sambil memeluk Maira.


"jaga kesehatanmu kalo sudah sampai hubungi kami" ucap Lea yang masih berada di sekeliling mereka.


"makasih semuanya,kami berangkat" ucap Maira sambil menaiki mobil yang dikemudikan Gilang.


mobil mereka pun melaju,Papa Ikbal yang merasa berat hati dengan kepergian Maira meneteskan air mata,perjuangan seorang istri yang tidak terkalahkan oleh waktu.


"Pa..." sapa Riana.


Papa Ikbal tidak bergeming dia masih berdiri,sepertinya enggan untuk melangkahkan kaki tapi apa daya ketika mendengar tangisan cucu laki-lakinya dia langsung masuk kedalam rumah.


Lea yang sedang menggendong Dzakir yang sedang menangis mencoba menenangkannya tapi Dzakir tidak mau berhenti.


"sst...anak pintar...sudah ya jangan nangis lagi disini ada aunty dan kakak Cahaya..." ucap Lea.


Papa Ikbal yang melihatnya pun langsung meminta Dzakir untuk di gendongnya,"kemarilah biar aku yang menggendongnya".


Lea pun memberikannya pada Papa Ikbal,seketika Dzakir terdiam karena pelukan hangat kakeknya.


"ternyata Dzakir mau di gendong sama kakek..." ucap Riana sambil mengajaknya bicara.


tidak lama kemudian Dzakir tertidur di pangkuan kakeknya,"ternyata dia sudah mengantuk" gumam Papa Ikbal.


"Pa...biar aku yang baringkan " ucap Riana.


"tidak nak...biar Papa saja,sebaiknya kamu ikut Papa" ajak Papa Ikbal.


tidak menunggu lama Riana pun mengikuti Papa mertuanya,setelah sampai dikamar Dzakir di baringkan di dalam box bayi,"kapan wanita itu akan pulang?"tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Papa Ikbal.


"maksud Papa Lea?" tanya Riana.


Papa Ikbal tidak menjawab matanya melihat kearah jendela,Riana yang sudah mengerti langsung berkata," dia akan tinggal beberapa hari lagi disini".


"untuk apa?"


"katanya dia ingin lebih lama bersama Cahaya".


Papa Ikbal menghela nafasnya dan berkata," jangan terlalu dekat dengannya karena anak dan menantu ku pernah menjadi korbannya,aku tidak mau itu terulang lagi" ucap Papa Ikbal.