Humaira

Humaira
Bab 51 test DNA



karin terbangun dari tidurnya,badannya terasa sakit karena perlakuan pria yang bersamanya.


dia bangkit dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan,dibawah shower karin membasahi tubuhnya,sekilas dia membayangkan kejadian 5 tahun silam.


dia dipaksa untuk memuaskan nafsu ayah tirinya dengan berbagai ancaman sampai karin pun menyerahkan benda berharganya,tidak hanya itu karin di jual pada lelaki hidung belang untuk melunasi hutang-hutang ibunya pasca opersi yang membutuhkan biaya besar.


rasanya karin ingin pergi jauh...tapi dia tidak bisa,karena ancaman ayah tirinya kalo dia pergi ibunya yang akan menjadi taruhannya.


masih di bawah shower,karin berfikir semuanya harus diakhiri bagaimana pun caranya.


fariq sudah berada dirumah dia dan maira sedang asyik mengobrol di ruang tv,canda tawa mereka membawa mereka ke hal romantis.


fariq memegang kedua pipi istrinya,lalu mengecup bibir maira.


"sayang...kamu bahagia bersamaku?" tanya fariq.


"insya Allah aku bahagia" jawab maira sambil melebarkan senyumannya.


"kamu tau tidak...andai saja kita lebih awal bertemu mungkin kakek akan menyaksikan kebahagiaan kita" ujar fariq.


"itu sudah jalan cerita kita sayang..." ucap maira mencium tangan fariq.


"humaira...bidadari surgaku...tetaplah disisiku sampai maut memisahkan kita..."


mereka saling berpelukan memberikan kehangatan.


"sayang....besok aku mau tes DNA" ucap maira.


"iya...lebih cepat lebih baik" ujar fariq masih memeluk istrinya.


"tapi bukan hanya aku saja,kak sandi juga akan tes DNA"


"apa sudah mengabari fahmi?"


"sudah,besok kak fahmi akan mengantar langsung"


"baiklah besok kita pergi bersama,biar fahmi langsung ke rumah sakit" ucap fariq.


fariq melepaskan pelukannya,"ayo kita kekamar aku ingin menengok si kecil" goda fariq.


"gendong..." ucap maira manja.


fariq pun dengan senang hati menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.


keesokan harinya mereka sudah berada dirumah sakit sedang menunggu hasil tesnya,maira yang sedang menggenggam tangan cahaya pun merasa tak karuan.


maira dan cahaya bernasib sama tapi beda alur cerita...


dokter menghampiri mereka yang sedang berkumpul ,"hasilnya sudah keluar saya bacakan"


jantung mereka berdenyut kencang saat akan di bacakan hasil tesnya.


"hasil dari test ini nona maira adalah anak kandung dari tuan ikbal...dan cahaya anak kandung dari tuan sandi,selamat pak ya bapak-bapak" jelas dokter.


semua menangis mendengarnya papah ikbal langsung memeluk maira,dan sandi pun mencoba mendekati cahaya yang sedang kebingungan melihat mereka yang sedang menangis.


"cantik...kamu kenapa sayang?" tanya sandi pada cahaya.


"kenapa semuanya menangis om?"


sandi tersenyum,"semua bahagia sayang termasuk aku"


cahaya masih tidak mengerti...


maira mendekati cahaya lalu menyejajarkannya dengan cahaya,"cahaya...kemarin kan pernah bertemu sama mamah...sekarang cahaya akan bertemu sama papah" jelas maira.


"kalo cahaya ketemu papah,apa yang akan cahaya lakuin?" tanya maira.


"cahaya akan pukul...karena dia sudah meninggalkan cahaya sendiri!"


semua terkekeh mendengar penuturan cahaya,hanya sandi yang diam tidak percaya dengan ucapan anaknya.


"kalo cahaya pukul papah lalu dia pergi lagi gimana?"tanya fahmi.


"cahaya akan jewer kupingnya karena dia tidak boleh pergi lagi...kak.."ucap cahaya sambil menggelengkan kepalanya.


sandi menarik nafas dalam...maira melihat ekspresi kakaknya,"bagaimana kak?"


sandi hanya melihat maira tidak menjawab pertanyaannya adiknya.


"cahaya...kakak juga sama kaya kamu,kakak baru bertemu dengan kakek ikbal,tapi kakak enggak memukulnya atau menjewer nya,malahan kakak memeluknya...karena kakak bersyukur bisa di beri kesempatan untuk bertemu dengannya" maira memberikan penjelasan.


cahaya diam saat mendengar penjelasan maira,lalu cahaya berkata,"terus kapan cahaya bertemu dengan papah cahaya?"


"memangnya mau cahaya kapan?" tanya maira.


"maunya sekarang kakak..." lirih cahaya.


maira tersenyum sambil memberikan anggukan pada kakaknya,sandi hanya menutup matanya.


"papah cahaya sudah dekat dengan cahaya,malahan cahaya juga sudah melihatnya" ucap maira,cahaya pun melihat satu-persatu pada fahmi,fariq dan terakhir pada penglihatannya berhenti pada sandi yang sedang memejamkan matanya.


"papah..."


saat mata sandi terbuka dia melihat cahaya yang sedang berdiri dekat dengannya.


"papah..." ucap cahaya lagi.


tiba-tiba cahaya menjewer telinga sandi.


"awww..."pekik sandi.


fariq,fahmi,maira dan papah ikbal pun tertawa melihat kelakuan cahaya.


"papah gak mau meluk cahaya?"


tidak menunggu lama sandi pun memeluk cahaya,maira pun ikut larut dalam pelukan mereka.


sandi melonggarkan pelukannya,"sayang...kita adalah keluarga" ucap sandi.


"jadi...?" tanya cahaya.


" kamu dan aku adalah bibi dan keponakan" jawab maira.


cahaya tersenyum...


ada empat mata yang melihat kebahagian mereka,terlihat lea sedang berdiri dan riana duduk di kursi roda.


lea berjongkok tepat didekat riana.


"bu...lihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka,apa kau tidak senang?" tanya lea.


riana pun mengeluarkan air matanya,"cahaya adalah anakmu juga...aku akan mengembalikan kebahagiaanmu yang sempat aku ambil,jadi terima lah cahaya sebagai anakmu" ucap lea karena dia merasa bersalah atas apa yang di alami riana.


riana pun mengangguk,"te....ri...ma...ka...sih.." ucap riana terbata-bata.


lea pun memeluk riana tanda perpisahan karena lea akan pergi keluar negeri.