
Handi menghampiri Humaira yang sedang menyapu teras. Humaira cuek. Dia tidak tahu kalau ada seseorang mendekatinya. Lelaki yang diam-diam memperhatikannya sejak lama.
"Assalamualaikum, Humaira"
"Wa alaikum ......" jawaban Humaira terputus mendadak melihat siapa yang mengucapkan salam.
Handi tersenyum. Sebenarnya ini langkah berani. Selama ini belum pernah sejauh ini Handi melakukannya. Mengobrol pun selalu banyak orang. Kalau pagi ini ia melakukannya karena rasa itu sudah sampai ke ubun-ubun. Tidak bisa lagi ditahannya. Hari ini mumpung libur. Mumpung Humaira ada di rumah pula.
"Waalaikumsalam warahmatulloh ..." Humaira menundukkan wajahnya. Malu.
Handi pun begitu. Ia tidak memandang Humaira. Pandangannya ia alihkan ke depan, jalan depan mushollah. Lelaki yang baik, pesan Ustadz Rojali, adalah lelaki yang menundukkan pandangan matanya terhadap lawan jenisnya. Betapa mulia ajaran Islam; menghargai eksistensi gender.
Keduanya memang murid ustadz Rojali sejak kecil. Mereka tumbuh dan besar bersama. Saat sekolah dasar, mereka juga satu sekolah tapi beda kelas. Ketika SMP dan SMA mereka berpisah. Handi melanjutkan sekolahnya ke pesantren. Humaira belajar di SMP dan SMA plat merah. Kembali bertemu dua tahun
belakangan. Handi mengajar di madrasah. Sebuah yayasan pendidikan yang dikelola keluarganya.
"Tumben ... " Humaira mencairkan kebekuan.
"Heh, iya. Aku dari warung mpok Nurul, sarapan nasi uduk" jawab Handi grogi.
"Loh ..... ada nak Handi, toh. Sudah lama ?" Ummi tiba-tiba muncul dari dalam sambil membawa segelas wedang jahe.
"Oh, iya ... iya ummi. Belum lama, baru saja" Handi makin grogi saja.
"Wah, ummi bikin minumnya hanya satu gelas. Ya sudah ini untuk nak Handi dulu. Mai, nanti ummi buatkan lagi. Minuman sehat ini, cocok untuk mencegah Corona"
"Terima kasih ummi" Handi menerima segelas wedang jahe yang dibuatkan ummi. Gelas itu diletakkannya di meja kecil di sudut teras. Humaira melanjutkan menyapu. Tanggung, katanya. Ummi kembali ke dapur.
"Mai, hari ini off, kan?" Handi mulai memberanikan diri untuk mencairkan suasana.
"Kok tahu sih, Han?" Humaira malah balik tanya.
Handi tersenyum ditanya balik. Sebenarnya dia ingin segera menyatakan perasaannya. Rasa yang sudah kama ia pendam. Tapi dia urungkan. Dia berpikir bukan waktu yang tepat. Khawatir juga ditolak. Wajar sih kalau ada perasaan takut ditolak. Untuk pertama kali dalam hidupnya jatuh hati pada seorang wanita. Dia inginnya ini adalah untuk yang pertama dan selamanya. Klasik sekali cerita cintanya ya. Tidak seperti generasi milenial yang biasa berganti pasangan dalam waktu singkat. Malam minggu jalan-jalan, romantis sekali.
Handi tidak mungkin melakukannya. Humaira pun begitu. Waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah sakit. Apalagi sedang terjadi penyebaran wabah Covid-19 yang masif. Tenaga dan pikirannya fokus membantu pasien yang terpapar.
Mereka adalah dua insan yang kolot. Kuno dalam hal pergaulan anak muda. Tidak sempat mengikuti tren. Bahkan untuk menyatakan perasaan saja. Hari ini Handi nekat ingin menyatakan perasaannya. Tapi ragu. Selalu begitu saat bertemu Humaira.
"Yah, tahulah. Aku minum ya, wedang jahenya" Handi masih belum bisa menemukan momen untuk menyatakannya.
Humaira menghampirinya. Ia duduk di kursi yang lain. Tetap menundukkan wajahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Gelisah. Tapi senang. Bahagia.
Pintu berdenyit. Ummi muncul kembali dengan segelas wedang jahe dan sepiring singkong rebus. Handi belum sempat melanjutkan niatnya. Terpotong scene ummi. Yah scene yang diatur Allah memang luar biasa. Tidak ada yang mampu menolak.
"Nah .... ummi buatin singkong rebus. Disantap ya, Handi. Maaf hanya singkong rebus ..."
"Alhamdulillah, terima kasih ummi"
"Ya sudah, ummi ke dapur lagi, nanti hangus masakannya" Ummi kembali ke dapur.
"Mai, boleh aku bertanya yang sangat pribad7fi?" Handi kembali melanjutkan obrolan yang dimulainya.
"Tentang apa, Han?"
Humaira diam. Sebenarnya hatinya bahagia. Tapi dia menahannya. Dia tidak mau Handi melihat merah pipinya. Tetap menunduk. Menyembunyikannya.
"Sayangnya, aku sudah memilihnya" jawab Humaira tegas meski tetap tak berani memandang Handi. Ia tidak tega melihat perubahan wajahnya.
Handi terdiam. Dia seperti mendengar dentuman bom yang memekakan telinga. Tidak terdengar apa-apa lagi. Telinganya panas. Hatinya seperti lepas. Handi berusaha mengendalikan diri.
"Jadi .... aku tidak punya kesempatan lagi ya?" Handi ingin memastikan jawaban Humaira.
"Kesempatan itu ..... kesempatan itu sudah tertutup, Han" jawab Humaira sambil memberanikan diri melihat raut muka Handi. Sebentar lalu menunduk lagi.
"Tidak apa-apa, Mai. Boleh aku tahu lelaki itu?" Handi masih belum bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Untuk apa, Han?"
Handi tersenyum meski terpaksa. Dia berdiri.
"Ingin tahu saja. Beruntung sekali dia dipilih oleh bidadari kampung ini" Bicara Handi mulai lancar tidak kaku. Ada nada pasrah dan kecewa.
"Lelaki itu bagiku spesial, Han. Dia seorang guru. Entah kenapa aku memilihnya. Kalau kamu tanya alasannya, aku tidak bisa menjawabnya. Buatku dialah pilihan hati"
Guru? Di kampung ini hanya ada dua orang. Aku dan Gufron. Jadi selama ini Humaira sudah berpacaran dengannya. Tanpa sepengetahuannya. Aku tak pernah melihat mereka jalan berduaan. Handi berbicara dengan dirinya sendiri.
Gufron pernah bilang kalau dia naksir seseorang diantara Humaira, Salma dan Husna. Tapi Gufron tidak pernah bilang kalau gadis itu Humaira. Yah, aku kalah satu langkah dari Gufron.
"Gufron?" Tanyanya meyakinkan.
Humaira menggelengkan kepalanya. Handi makin penasaran dibuatnya.
"Bukan, Han. Lelaki itu biasa-biasa saja. Aku suka kesederhaannya. Aku tidaklah sekufu untuk Gufron. Tetapi lelaki pilihanku itu, lelaki yang mau menerimaku apa adanya" Humaira kembali membuat hati Handi makin tidak karuan.
"Bukan lelaki kampung ini, ya?" desak Handi.
Humaira diam tidak menjawab. Pandangannya dialihkan ke jalan depan rumah. Ia tidak berani memandangnya. Handi sesekali mencuri raut muka Humaira. Lelaki itu juga tidak berani memandang lama he arah Humaira. Dia tetap berdiri.
"Mai, kalau begitu aku pamit ya. Aku sudah tahu jawabanmu. Semoga kamu bahagia ya ..." Handi rasanya ingin cepat pergi. Dia tidak ingin Humaura melihat wajah kecewanya.
"Han, lelaki itu kamu" Humaira memotong bicaranya Handi. Humaira tertunduk malu.
"Mai .....?"
"Aku tidak salah dengar, kan?" Handi sekilas memandang Humaira yang tertunduk. Humaira mengangguk.
Senyum Handi lepas. Dia tidak menyangka. Polos sekali lelaki ini. Humaira senyum-senyum.
"Kamu ngerjain aku, ya?"
Ada kepuasan mengakali lelaki ini. Lelaki pujaan hatinya. Handi terlalu bahagia untuk marah.
"Terima kasih, Mai. Kamu sudah memilihku. Kalau kamu berkenan setelah wabah ini mereda, aku ingin mengkhitbahmu. Melamarmu"
Humaira gantian terkejut.