
Fahmi kini sudah bangun,dia baru saja melaksanakan solat subuh,sedangkan yang lainnya masih tidur,Fahmi mencoba membangunkan yang lainnya,"Sandi bangunlah ini sudah subuh..." ucap Fahmi sambil menggoyangkan tubuh Sandi.
setelah itu Fahmi juga mencoba mengetuk pintu kamar Gilang dan Rudi,"Gilang,mas Rudi ini sudah subuh..." ,tidak lupa dengan kamar Maira dia pun tidak luput mengetuknya," Mai...apa kamu sudah bangun?" tanya Fahmi tapi tidak ada jawaban,Fahmi berpikir mungkin Maira sedang solat lalu dia pergi untuk mencari udara segar pada waktu subuh.
di tempat lain Maira berjalan sambil mengobrol dengan anak yang menemaninya," nama kamu siapa?" tanya Maira.
anak itu menjawab," alif...namaku alif"
"nama yang bagus" Maira memujinya.
" kamu tidak sekolah?" tanya Maira lagi.
"aku sudah lama putus sekolah karena masalah biaya"
"orang tua mu bekerja apa?"
"ayah ku bekerja di bawah telunjuk orang dan ibu ku sudah lama meninggalkan kami,aku dua bersaudara,aku punya Kakak perempuan dia cantik sekali usianya tidak jauh dari nona"
"oh ya...sekarang dia dimana?"
"dia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan,sudah lama dia tidak pulang"
" sebenarnya nona mau apa ketempat kami?" tanya Alif pada Maira.
Maira tersenyum," ada sesuatu yang harus kami selesaikan disini" jawab Maira.
"kalau boleh tau apa itu?" tanya Alif lagi.
"maafkan aku belum bisa menceritakannya,tapi setelah ini kamu juga akan tahu" jelas Maira dan alif pun mengangguk.
mereka berjalan dengan beriringan,terlihat Maira yang sangat takjub melihat pemandangan di sekitar,jalan yang tadinya lebar kini menjadi sempit menjadi jalan setapak.
dari kejauhan Maira melihat sebuah rumah di atasnya,dia yakin semalam Ratna datang berasal dari rumah itu,dia mencoba bertanya pada Alif," Lif,di atas sana ada satu rumah" tunjuk Maira.
Alif pun melihatnya,"iya non...aku juga baru tahu" ucap Alif.
"ayo kita coba pergi ke sana" ajak Maira.
"jangan non...bahaya" ujar Alif.
Maira mengerutkan keningnya," bahaya..."
"iya karena kita di larang masuk ke daerah sini,karena ini milik pribadi" jelas Alif.
"memangnya milik siapa?" tanya Maira ingin mengetahui informasi yang dalam.
"dia asli orang kampung sebelah,sudah lama tinggal di kota,namanya bang Gobang..."
Maira terkejut saat mendengar nama Gobang dia semakin yakin dengan perasaanya kalo semua ini ada kaitannya dengan Ratna.
"dia seorang preman terkenal di tempatnya,tidak ada yang berani berurusan dengannya,orang kampung sini juga tak ada yang berani" jelas Alif.
"oh...jadi begitu,tapi kalau kita ketahuan masuk kesini bagaimana?" tanya Maira.
"aku tidak tahu apa yang terjadi,makannya kita harus waspada jika ada orang yang melihat kita disini apalagi ketahuan anak buahnya" ujar Alif.
Maira terdiam,semua yang dia lakukan sangat beresiko tapi dia mencoba tenang kalo allah akan melindunginya.
waktu menunjukkan jam 6 pagi,Fahmi yang menyadari kalo Maira belum keluar kamar,dia langsung mengetuk pintu kamar Maira tok...tok... " Mai...apa kamu di dalam?" tanya Fahmi tidak ada jawaban,Fahmi mencoba lagi,"Maira apa kamu baik-baik saja?" tanya Fahmi lagi dengan sedikit ketakutan.
semua yang melihat kegelisahan Fahmi langsung menghampiri,"ada apa?" tanya Sandi.
Fahmi menjawab," sedari tadi Maira tidak keluar".
"Maira.. " teriak Sandi.
kini mereka berada di kamar itu,terlihat Fahmi dan Sandi yang kebingungan,"kenapa Maira tidak ada ?" tanya Gilang.
Fahmi menjawab,"aku juga tidak tahu tadi waktu subuh aku juga sempat mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban aku kira dia sedang solat".
"astaga Maira...kamu kemana...", ucap Sandi sambil mengusap wajahnya kasar.
"tenang mungkin dia sedang keluar sebentar" ucap Rudi mencoba menenangkan.
"mana mungkin,tasnya saja tidak ada" keluh Sandi.
semuanya gagal rencana yang sudah di susun,kini yang paling utama adalah mencari Maira.
saat mereka hendak keluar dari kamar,tiba-tiba Gilang melihat kertas di atas bantal dia mencoba mengambilnya,"tunggu...sepertinya Maira menyimpan petunjuk" ucap Gilang,semua menoleh,dan Gilang pun memberikan kertas itu pada Sandi lalu dia membukanya.
...maaf,aku pergi dulu jangan khawatirkan aku,kepergian ku tidak lama mudah-mudahan sore aku sudah sampai di rumah,lanjutkan saja misi kalian....
begitulah isi surat Maira,kini mereka pun sedikit tenang tapi tetap saja rasa cemas terhadap Maira tidak hilang.
Sandi dan yang lainnya berniat bertemu dengan kakek pemimpin kampung itu,dia ingin bertanya tentang Gobang,sebelum berangkat kakek sudah lebih dulu menghampiri mereka dengan beberapa warga.
"kebetulan kakek kesini,ada yang akan saya bicarakan" ucap Sandi,ketika mereka sudah berkumpul di sebuah ruangan.
"ya kami juga ada yang mau dipertanyakan" jawab kakek itu.
"sebenarnya ada kepentingan dan tujuan apa kalian datang ke tempat kami?" tanya Kakek.
Fahmi melihat ke arah Sandi agar menjelaskannya.
"kebetulan saya juga ingin menjelaskannya,kedatangan kami kemari untuk mencari seseorang yang bernama Gobang" jelas Sandi.
kakek dan yang lainnya kaget,ada rasa takut di wajah mereka ketika menghadapi penjelasan Sandi.
"saya perlu bantuan kakek dan warga sekitar,karena saya mendapatkan informasi kalo orang bernama Gobang dia asli orang sini".
"Maaf kalo masalah itu kami tidak bis membantu" ucap kakek.
Sandi dan yang lainnya heran,"kenapa kek...?" tanya Fahmi.
"kami tidak mau berurusan dengannya,kalian pasti sudah tahu kalo dia adalah pemilik kekuasaan di daerah kami" jelas salah satu warga.
"maksudnya...?"
"ya memang sudah banyak orang yang mengenalnya,apa lagi kekuasaan itu turun temurun, anak buahnya banyak di daerah kami, malah di luar daerah pun ada yang menjadi pengikutnya,apa lagi dia juga terkenal keras orang yang bersangkutan dengannya akan mati" jelas kakek.
Sandi menghela nafasnya dan berkata,"saya tidak takut,apa pun caranya saya akan bertemu dengannya"
Fahmi menepuk pundak Sandi mencoba menenangkannya agar tidak terbawa emosi.
"silahkan saja,tapi tolong hari ini juga kalian angkat kaki dari sini" tegas kakek itu.
mereka berempat tidak percaya dengan ucapan kakek itu,dan Fahmi mencoba membujuk kakek dan warga setempat,"tolong lah pak biar kami tinggal di sini sementara,kami janji setelah kami menyelesaikan nya kami akan pergi".
"sekali lagi maaf,kami tidak mau menjadi korban karena ulah kalian" ujar warga lain.
"tidak ada jalan lain?" tanya Gilang pada warga itu,dan mereka menggelengkan kepalanya.
Sandi terdiam,dia berpikir untuk mencari solusinya.
bersambung....