Humaira

Humaira
Bab 114 rukun



Maira sudah berada di rumah dia sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Suaminya.


Dia berharap hari ini esok dan seterusnya Suaminya selalu mencintai dan merindunya,Maira bergegas keluar kamar karena dia mendengar suara klakson mobil itu tandanya suaminya telah datang.


Ya memang benar ternyata Fariq sudah pulang,"assalamualaikum" ucap Fariq ketika masuk rumah,"Waalaikumsalam" jawab Maira sambil mencium punggung tangan Suaminya.


Fariq menatap wajah istrinya yang sudah cantik,Fariq tersenyum dan bekata"kamu selalu kelihatan cantik sayang"


"Makasih...semua ini untuk kamu" ujar Maira malu-malu.


Fariq pun tersenyum,dia berpikir sepertinya bakal ada kejutan untuk dirinya"ada kejutan sayang?" tanya Fariq dan Maira pun menganggukkan kepala,"aku mau mandi dulu" ucap Fariq dan dia pergi ke kamarnya,sedangkan Maira dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama suaminya.


setelah Fariq selesai mandi dia langsung menghampiri Maira,"masak apa sayang?" tanya Fariq mesra sambil memeluk Maira dari belakang.


Maira menjawab," aku masak kesukaanmu,hari ini kita diner berdua tapi di rumah saja".


"lalu Dzakir kemana?" tanya Fariq.


"tenang saja dia sudah tidur,jadi kita jangan sia-siakan kesempatan ini" ujar Maira.


"terima kasih sayang kamu sudah mempersiapkannya,seharusnya aku yang melakukannya" ucap Fariq.


"tidak apa-apa lain kali kamu yang membuat kejutan untukku" ucap Maira membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan Fariq.


"tentu sayang..."


"maaf ya tidak semewah seperti di film-film" ucap Maira.


"tidak apa-apa aku lebih suka kita seperti ini" ucap Fariq sambil mengecup bibir Maira.


"makan dulu yuk,aku sudah lapar" ajak Fariq setelah melepaskan kecupannya.


"tunggu..." Maira menghentikannya.


"ada apa sayang?" tanya Fariq.


"aku ingin dipeluk lagi" ucap Maira manja,dan Fariq pun dengan senang hati,"kamu gak tahan ya" goda Fariq.


"apaan sih..." ucap Maira sambil menutup wajah dengan kedua tangannya,dan Fariq pun cepat-cepat memeluk Maira dengan mencium bibir istrinya,lama sekali mereka melakukan hal itu namun Fariq menghentikannya karena perutnya sudah berbunyi.


"nanti kita lanjut setelah makan agar banyak tenaga" bisik Fariq dan Maira pun mengangguk.


Mereka duduk di kursi masing-masing dan menyantap makanan yang dibuatkan oleh Maira.


Waktu bergulir Maira dan Fariq kini sudah berada di dalam kamar,Maira sedang membicarakan kejadian yang tadi dia saksikan,"akhirnya Kak Sandi dan kak Riana mendapat restu dari orang tua Kak Riana setelah beberapa tahun mereka menjalani rumah tangga,dan yang lebih hebatnya lagi,Ayah kak Riana tidak mempermasalahkan kehadiran Cahaya"


"syukurlah...itu buah hasil kesabaran mereka,kita harus bersyukur kalo pernikahan kita di restui oleh semua orang" ucap Fariq.


"hanya saja Kakek tidak menyaksikan kita bahagia" lirih Fariq.


"dia tidak menyaksikannya tapi dia ikut merasakan,kalo kita berbuat baik pada pasangan atau pun orang lain amalan kita akan sampai pada orang tua kita yang sudah meninggal,karena itu adalah doa dari anak soleh dan solehah" tutur Maira.


Fariq tersenyum dia membelai wajah Maira,"kenapa setiap waktu aku selalu jatuh cinta padamu sayang?"


"itu karena kita di takdir kan bersama"


Di tempat lain tidak kalah romantisnya dengan pasangan Fariq dan Maira,Sandi dan Riana pun mereka sedang menikmati kebahagiaan yang tiada tara apa lagi bagi Riana sekarang hidupnya semakin lengkap,tidak ada beban yang ada di pikirannya,hanya bagaimana cara menjaga keluarga yang utuh.


"sayang...terima kasih sudah bersabar untuk menghadapi setiap masalah yang menimpa keluarga kita" ucap Sandi.


"itu sudah keharusan bagi kita,aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah lama kita bina dan aku berharap kamu juga akan seperti itu" ujar Riana.


"tentu sayang aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulanginya lagi".


"keinginan kita sudah terwujud,kita harus mensyukuri itu" tutur Riana.


"iya sayang..."


Sandi pun langsung menyerbu istrinya dengan sebuah ciuman di wajah Riana,tak henti-hentinya dia meneteskan air mata,dia sudah membayar kesalahan yang dia lakukan.


"sudah sayang,kenapa kamu jadi cengeng?" tanya Riana sambil menyeka air mata suaminya.


"aku begitu banyak dosa terhadapmu,maafkan aku" lirih Sandi.


"hei...kau sudah sering meminta maaf padaku sayang...dan aku sudah memaafkan mu,sudah jangan berlarut-larut dalam penyesalan,semua orang juga punya salah karena kita hanya manusia biasa" jelas Riana.


"aku mohon lupakan semua yang terjadi biar kita awali hidup kita dengan kebaikan,masa lalu biarlah menjadi cerminan untuk di masa depan" lanjut Riana dan Sandi pun berhenti menitikkan air mata dia memeluk Riana dengan erat.


"tetaplah seperti ini denganku" ucap Sandi.


Di ruangan pribadinya Papa Ikbal sedang menatap sebuah poto dengan Ibu dari Maira dan Sandi,dia mengingat masa-masa dulu dia bertemu dengan mendiang istrinya.


Flashback


seorang lelaki sedang berjalan tergesa-gesa dengan membawa setumpuk makanan kotak,tiba-tiba saja dia terjatuh dan hampir menjatuhkan makanan kotak itu namun seorang wanita membantunya.


"hati-hati mas..." wanita itu tersenyum pada Papa Ikbal yang waktu itu masih muda.


"makasih sudah membantuku"


"kenapa banyak sekali membawanya,biar saya bantu membawanya" ucap Wanita itu yang tak lain ibu dari Maira dan Sandi yang masih muda.


"tidak usah,saya tidak mau merepotkan mu"


"tidak apa-apa..ini saya ambil ya" ucap ibu Maira sambil mengambil beberapa makanan kotak,dan mereka pun berjalan bersama.


Dari sana awal perkenalan mereka dan benih-benih cinta datang,sampai bergulirnya waktu akhirnya mereka memutuskan untuk menikah walau keadaan Papa Ikbal dulu adalah orang yang kurang berada.


comeback


Papa Ikbal tersenyum saat membayangkan hal itu,dia tidak pernah merasakannya lagi setelah ditinggal bercerai oleh sang istri,namun sekarang kebahagian datang lagi ketika menemukan sang putri tercinta yang kini sudah memberinya seorang cucu,dia berharap kelak dia sudah tiada,kedua anaknya selalu rukun dan harmonis,karena itu impian semua orang tua,"makasih tuhan sudah membiarkan aku berkumpul kembali dengan anak-anakku" ucap Papa Ikbal.


Dia bersandar pada kursi kebesarannya,dia berpikir sudah waktunya untuk mewarisi segala hartanya pada Maira dan Sandi,dan dia sudah berencana untuk membangun perusahaan untuk di kelola Maira,karena dia merasa Maira akan mampu bukan hanya itu saja jika Maira mempunyai perusahaan sendiri dia akan membantu banyak orang seperti anak-anak di panti asuhan.


Papa Ikbal tidak berpikir panjang dia langsung menghubungi pengacaranya,dan membicarakan apa yang sudah dia niatkan.


bersambung...


Author: makasih loh udah setia di novel pertamaku...