
waktu pernikahan Ratna telah tiba,tidak menunggu lama semuanya berjalan dengan cepat ini semua berkat Papa Ikbal.
semua sudah berkumpul di kantor polisi,acara di hadiri hanya beberapa orang ada Rudi,Budi,Fariq,Maira dan petugas setempat,calon pengantin pria sudah datang dengan pengawalan ketat,dan mereka duduk berdampingan,ijab kabul pun di ucapkan,Alhamdulillah kini Ratna dan Gobang sah menjadi suami istri tidak ada malam pertama setelah menikah karena mereka tetap harus menjalani hukuman atas perbuatannya sampai sidang keputusan yang menentukan.
"selamat atas pernikahan kalian" ucap Maira.
Gobang tersenyum senang,sedangkan Ratna dia hanya diam tidak menunjukkan ekspresi senang,dan Gobang pun menyadari itu karena dia yakin Istrinya belum bisa menerimanya sebagai seorang suami.
"maaf kalau pernikahan ini hanya keterpaksaan bagimu,tapi aku senang sekali karena ini adalah impianku" ucap Gobang pada Ratna.
"sejujurnya iya,tapi bukan itu yang ku pikirkan saat ini" jawab Ratna.
"lalu apa yang mengganggu pikiranmu?"
"bagaimana dengan istrimu kalau dia tahu kita sudah menikah,aku yakin dia sangat terpukul mendengar hal ini,aku bisa merasakannya sekarang karena aku juga wanita" lirih Ratna.
Gobang tersenyum,"kenapa kau pikirkan dia yang sudah menjadi mantan istriku"
Ratna menoleh pada Gobang,"maksudmu kalian sudah bercerai?" tanya Ratna.
Gobang menjawab," ya...waktu aku masuk penjara sebulan kemudian istriku melayangkan gugatan cerai dan aku pun menyetujuinya,tapi bagiku itu tidak masalah karena aku tidak mau menahan seseorang untuk terus berada di sisiku,karena aku sudah paham sekarang atas kejadian mu kemarin membuatku mendapatkan pencerahan".
"jadi kalau kamu masih ragu padaku sebaiknya jangan diteruskan,nanti diantara kita akan ada yang sakit" lanjut Gobang.
"aku tidak akan mundur,aku akan terus menunggumu ku harap kamu juga begitu,suatu saat kita akan bertemu kembali dengan status suami istri yang sah di mata hukum" ucap Ratna.
"terima kasih sayang..." ucap Gobang sambil memeluk istri barunya.
"aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk anak kita" lanjut Gobang.
kini mereka harus berpisah tidak banyak waktu untuk pertemuan singkat mereka,dan Gobang pun di borgol kembali lalu pergi di kawal oleh beberapa aparat kepolisian.
Ratna menangis dia terharu dengan sikap Gobang yang selama ini mulai berubah,dan dia juga tidak menyangka akan menikah dengan keadaan seperti ini.
"sudah jangan menangis,aku akan membantu mu keluar dari sini" bisik Maira.
"jangan lakukan hal itu,aku sudah sangat banyak bersalah padamu biarkan aku di sini" ujar Ratna.
"tidak,kamu harus keluar dari sini kasian bayimu kalo lama-lama di sini" ucap Maira.
Ratna menggeleng,"jangan Mai...aku di sini akan baik-baik saja jangan khawatirkan aku"
Maira pun tidak bisa berbuat apa-apa dia pun mengalah," baiklah kalo itu sudah keputusanmu".
kini Maira dan Fariq sudah di rumah mereka datang di sambut oleh Gilang yang sudah lama menunggunya.
"bagaimana apa semuanya sudah di persiapkan?" tanya Fariq yang kini sudah duduk berdua bersama Gilang di taman samping rumah.
"tinggal sedikit lagi,tapi aku anggap sudah selesai" ujar Gilang.
"om dan tante?"
"Papa sama Mama akan menginap di hotel,besok mereka akan datang"
"baguslah kalau semuanya sudah beres,maaf aku tidak membantu mu" ucap Fariq.
"tidak apa-apa"
"rencana bulan madu mu mau kemana?"
"kenapa kau menanyakan hal itu,apa kau mau ikut?" tanya Gilang dengan nada aneh.
"ish... kau ini,Wiwi adalah asisten ku dia bekerja padaku jadi aku harus mengatur jadwal ketika dia pergi" jelas Fariq.
"oh...gitu,aku berencana bulan madu satu minggu setelah menikah,dan aku sudah membeli tiket ke paris"
"jangan lama-lama ya,aku akan kewalahan jika Wiwi tidak bekerja" goda Fariq.
"apa...enak saja,aku tidak akan membiarkan istriku bekerja sekeras itu apa lagi bekerja dengan dokter seperti mu" ucap Gilang balik meledek.
"kau ini..."
Fariq menyentil kening Gilang,"hei...kau..." teriak Gilang.
"apa..."
"awas kau..." Gilang mulai menyerang Fariq dan dia tidak tinggal diam mereka saling menyentil seperti anak kecil,mereka sudah terbiasa saling ledek,saling support karena mereka sahabat dari kecil,Maira yang melihatnya dari dalam rumah menggelengkan kepalanya.
Hari ini adalah hari yang paling bahagia dimana Gilang akan menikah dengan kekasih hatinya,semua tamu undangan sudah berkumpul termasuk Maira dan Fariq.
Papa Ikbal dan Sandi baru saja tiba sedangkan keluarga panti belum kelihatan karena mereka sudah mengabari pada Maira kalo mereka akan datang terlambat.
ijab Qobul pun di lantang kan,dan akhirnya Gilang resmi menjadi Suami dari Wiwi,terlihat dari wajah mereka yang terlihat sangat bahagia,kini para undangan mulai berdatangan,mulai dari pengusaha dan teman-teman,karena dulu orang tua Gilang sangat berpengaruh di kota tersebut.
"selamat ya bro..." ucap Fariq sambil memeluk sahabatnya.
"makasih bro..."
"cepat-cepat buat temannya Dzakir" goda Fariq.
"itu mah gak bakal di tunda-tunda" kekeh Gilang.
Fariq dan Maira berfoto bersama pengantin baru untuk momen yang akan mereka kenang.
sedangkan Fahmi memboyong istri dan anaknya untuk datang ke pernikahan Gilang tapi tidak dengan Bu Lastri karena dia tidak mungkin meninggalkan anak-anak panti.
Fahmi dan Rahmi sudah berbaur dengan keluarga Maira dan mereka pun saling berbincang.
waktu terus berjalan acara pun hampir selesai,Fariq dan semuanya pamit untuk pulang dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing,tetapi tidak dengan Fahmi dan Rahmi,dia pulang ke rumah Fariq karena Maira yang memintanya dan Fahmi pun tidak bisa menolak.
"selamat datang di rumah kami" ucap Maira pada Rahmi ketika mereka memasuki rumah.
"Mai...rumahnya nyaman sekali" ujar Rahmi.
"benarkan sayang apa yang aku katakan rumah Fariq memang nyaman" timpal Fahmi.
"kakak harus menginap di sini,karena ini pertama kalinya kakak datang ke rumah ku" ucap Maira.
"apa aku tidak merepotkan mu?" tanya Rahmi.
"tentu saja tidak,malahan aku senang" ucap Maira memeluk Rahmi.
"makasih ya Mai.." ucap Rahmi membalas pelukan Maira.
"sudah pelukannya sebaiknya kita istirahat dulu,nanti aku akan pesan makanan lewat go food" ucap Fariq.
"kenapa tidak memasak sendiri saja" ujar Maira.
"kali-kali kita makan makanan luar sayang" bujuk Fariq.
"baiklah..."
Maira mengerti maksud suaminya,Fariq tidak mau kalau Maira terlalu cape.
mereka memasuki kamar masing-masing,setelah sudah berada di dalam kamar Fariq memeluk lalu mencium pundak Maira dari belakang.
"mulai deh..." ucap Maira.
"kenapa kamu gak mau?"
"berdosa aku kalau menolak ajakan mu sayang"
"istri solehah..." bisik Fariq.
bersambung....
Author : jangan lupa mampir ke karya ku yang selanjutnya,dan terus nikmati membaca novel Humaira detik-detik terakhir....