
Sandi dan kawan-kawan sedang berada di rumah kakek mereka mencoba bernegosiasi,"saya memberikan penawaran pada anda,silahkan runding dulu dengan yang lainnya" ucap Sandi,kakek hanya manggut-manggut.
"jangan sia-siakan ini,jadikan kampung ini kampung makmur" ucap Gilang.
"baiklah,nanti malam kalian akan mendapatkan jawabannya dan sekarang aku harus mengumpulkan warga" ujar Kakek.
"silahkan...kalo begitu kami pamit pergi" ujar Sandi,dan mereka pun keluar dari rumah kakek.
tidak lama kemudian mereka sudah berada di rumah,terlihat Fahmi yang sedang mencemaskan Maira,dari tadi pikirannya hanya tertuju pada adiknya.
Sandi yang melihat langsung menghampiri Fahmi,"kenapa bro...?" tanya Sandi sambil menepuk pundak Fahmi.
"kenapa perasaan ku tidak enak" jawab Fahmi.
"apa ini tentang Maira?"
Fahmi mengangguk,"ya aku sangat mengkhawatirkannya".
"tenang lah kita tunggu sampai jam empat sore,kalau dia tidak kunjung datang baru kita bergerak" jelas Sandi.
bukan hanya Fahmi,tapi Sandi pun merasa yang sama,kekhawatirannya pada sang adik,dia berharap semuanya akan terpecahkan.
di tempat lain Maira masih bertahan,dia mencari cara untuk memastikan kalo Fariq berada di dalam rumah bambu itu.
"non...bagaimana apa sudah mendapatkan ide?" tanya Alif.
Maira menggeleng,"belum...kelihatannya penjagaan di sini sangat ketat" jawab Maira.
"ya...makannya tidak sembarang orang bisa kesini" ucap Alif.
"oh iya aku ada ide" ucap Alif dengan tiba-tiba,Maira yang mendengar hal itu langsung bertanya,"apa itu?"
Alif pun membisikkannya pada Maira,"apa kamu yakin?" tanya Maira.
"aku yakin non...ini akan berhasil" jawab Alif dengan keyakinan.
"tapi kamu akan baik-baik saja kan?"
"tenang saja jangan khawatirkan aku,justru aku yang mengkhawatirkan nona".
"makasih Lif,aku janji akan membalasnya" ucap Maira.
"jangan...aku ikhlas membantu nona".
mereka pun siap beraksi,kini Alif berpamitan pada Maira,"non saya pergi, hati-hati ya,mudah-mudahan allah akan melindungi kita",ucap Alif.
"aamiin...kamu juga hati-hati,tunggu aku di tempat yang kamu janjikan" ucap Maira.
"dan tolong jangan panggil aku nona karena kamu tidak bekerja untukku,panggil aku dengan sebutan yang lain" lanjut Maira.
Alif tersenyum,"kakak...boleh aku memanggilmu kakak..." ucap Alif.
"dengan senang hati...,pergilah hati-hati dijalan"
Alif mengangguk dan dia sudah siap dengan aksinya.
didepan rumah bambu itu terlihat dua orang sedang mengobrol,dan Alif menghampiri mereka.
"bang...bang..." ucap Alif sambil pura-pura ngos-ngosan.
"siapa kamu?" tanya salah seorang anak buah Gobang.
"bang...di belakang...bang..."
"ada apa di belakang?" tanyanya lagi dengan kebingungan.
"di belakang ada ular besar dia sedang melilit teman saya" ucap Alif.
"jangan bohong kamu..."
"bener bang.. ayo kita pergi sebelum ular itu memangsa kita" ucap Alif sambil berlari ketar ketir.
sedangkan penjaga itu masih tidak percaya dengan ucapan Alif,mereka memastikannya sendiri dengan ragu-ragu,sebelum sampai kebelakang,terlihat pohon kecil bergoyang-goyang,karena itu ulah Maira dan mereka pun berlari.
"woi...keluar ada ular piton" teriak orang itu pada temannya yang berada di dalam rumah,kadua temannya pun keluar,"hei kalian kenapa?"
"ayo lari ular piton di belakang rumah"
"jangan bercanda kamu..."
"aku tidak bercanda,ayo..." teriak orang itu sambil berlari.
"bagaimana ini?" tanya anak buah Gobang yang masih berada di sana.
"lalu orang itu?"
"ah...gak ada waktu sebaiknya kita tinggalkan saja dia di sini,ayo lari..."
Alif pun berhasil mengelabui mereka,sedangkan Maira langsung masuk kedalam rumah ketika dia sudah memastikan mereka benar-benar pergi.
Maira mencari keberadaan Fariq tapi tidak ada,hanya ada satu pintu yang belum dia buka,Maira mencoba membuka pintunya tapi tidak bisa karena pintu itu terkunci,lalu dia mencoba mendobraknya tapi ala lah daya.
sedangkan dari dalam fariq ketakutan karena dia mendengar ada ular,dan dia mengira ular piton sedang mendobrak pintunya dan akan memakannya.
dia sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi,"aku ikhlas ya allah" ucap Fariq,dan tiba-tiba saja terdengar suara tembakan.
dor....
Fariq pun mematung seketika pintu terbuka,di sebrang sana terlihat Maira dengan tidak percaya dia bisa menggunakan pistol yang dibawanya.
Fariq pun kaget melihat seorang perempuan berhijab berdiri,"Maira..." gumam Fariq,dengan cepat Fariq menghampiri Istri yang telah lama dia rindukan.
Maira pun dengan cepat memeluk Suaminya,"kak..." akhirnya Fariq juga membalas pelukan Maira.
keduanya masih tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini,"kenapa kamu bisa kesini?" tanya Fariq.
"akan aku jelaskan nanti,tapi sekarang kita harus pergi sebelum mereka menemukan kita" ajak Maira.
"baiklah,tapi jangan jalan depan kita jalan belakang saja" ajak Fariq,dan akhirnya mereka pun pergi lewat pintu belakang rumah.
Alif yang masih ngos-ngosan kini dia sudah berada di tempat yang di janjikannya pada Maira,dia pun tersenyum karena misi pertamanya berhasil,dia tinggal menunggu Maira datang untuk menemuinya.
sedangkan anak buah Gobang masih berlari ketakutan,tapi salah seorang anak buahnya merasakan ada hal yang aneh.
"berhenti..."
ketiganya menoleh,"ada apa ayo lari keburu ular itu mengejar kita" ucap salah seorang dari mereka.
"memangnya di daerah kita ada ular piton?"
mereka bertiga saling pandang,"aku tidak tahu" jawab salah seorang.
"lalu siapa yang memberi tahu mu kalo di sana ada ular piton"
"tadi ada anak kecil,dia berlari dan bilang kalo temannya sedang di lilit ular"
"lalu apa kau melihat ular itu?"
"tidak...tapi waktu aku memastikannya pohon dibelakang rumah bergoyang,jadi aku yakin ular ada di sana"
"bodoh...itu belum tentu ular piton,akh...kau ini"
"memang benar itu belum tentu ular piton,tapi tadi aku mendengar suara tembakan,apa ada yang sedang berburu?"
"akh...ayo kita kembali"
"tapi aku takut..."
"kau ini,cepat kita pastikan semua ini"
dan mereka pun kembali ketempat itu,sedangkan Maira dan Fariq kini sudah pergi,mereka berjalan dengan tergesa-gesa,Maira memimpin jalan dia sudah hapal jalan yang di lalui nya tadi.
Alif yang sudah bisa melihat Maira dia melambaikan tangannya memberi kode,dan Maira pun tersenyum melihat Alif dengan keadaanya baik-baik saja.
"Alif..."
"kak..."
Fariq yang melihat kedekatan istrinya dengan anak lelaki itu mengerutkan keningnya,"sayang ini Alif,Lif ini Suamiku" Maira memperkenalkan.
"halo kak..." sapa Alif.
"halo juga"
"sayang dia yang membantuku untuk bisa sampai di sini dan menemukanmu" ucap Maira.
"oh ya...terima kasih banyak dek..."
"sama-sama kak,eh tapi kita jangan lama-lama disini keburu mereka menyadarinya"
"iya...ayo kita pulang".
bersambung...