
Humaira duduk termangu. Wajahnya sayu. Kesedihannya tidak bisa ditutupi. Matanya sembab dan agak bengkak memerah. Air matanya masih terus mengalir. Beberapa kali ia pingsan. Humaira masih belum terima kalau ayahnya sudah tiada. Suasana di rumah itu penuh duka.
Pelayat yang datang sebagian duduk di luar. Tenda telah terpasang sejak sore. Mereka menunggu kedatangan jenazah pak Husein. Sejak kemarin umminya ditemani beberapa tetangga mengurus pemulangan jenazah. Humaira belum bertemu umminya. Mereka baru bicara lewat telepon. Sebentar saja. Sebab Humaira belum sanggup bicara banyak.
Di sudut pagar ada karangan bunga. Kiriman dari direksi taksi online. Bersyukur direksi masih memperhatikan nasib supir taksi online seperti pak Husein. Rasanya sulit dipercaya. Bukan hanya karangan bunga. Salah satu direksi juga datang melayat dan menyerahkan dana kerahiman.
Bang Ucok agak berlari masuk ke rumah ummi. Ia baru saja menerima kabar. Mobil ambulan yang membawa jenazah sudah dekat. Segera pak RT dan bapak-bapak menyiapkan tempat. Syukur, banyak warga yang membantu ummi. Pak Jarwo menyediakan minuman mineral yang dibawa dari warungnya. Bu Tini, hari itu ia sumbangkan kue gorengannya. Pak RT menanggung biaya pemakaman dan perlengkapan jenazah. Wak Kuncung, begitu panggilannya oleh warga sekitar kampung. Padahal nama beliau sangat bagus, Syarifulloh. Profesinya pemandi mayat. Wak Kuncung tanpa diminta sudah menyediakan dirinya. Dia menjadi salah satu sahabat karib pak Husein.
Bunyi raungan ambulan sudah terdengar. Para pelayat berdiri menyambut. Keranda dikeluarkan. Ummi segera menemui Humaira. Mereka bertangisan.
Mayat almarhum dibaringkan di bale. Pelayat berebut ingin segera melihatnya.
"Sabar ya bapak ibu. Biar Humaira melihatnya lebih dulu" ustadz Rojali mencegah pelayat merangsek ingin melihatnya.
Humaira berusaha bangkit dengan vantuan ummi. Tubuhnya lemas. Tidak sanggup berdiri. Bu Tini membantu ummi memapahnya. Bu Tini juga menitikkan airmata.
Humaira memandangi wajah lekaki itu. Malaikat yang selama ini menjaganya. Tidak lama. Tangisnya pecah lantas pingsan kembali. Pelayat yang menyaksikannya ikut sedih. Ikut menangis terutama kaum ibu. Turut meradakan kepiluan Humaira yang mendalam.
Humaira dibopong ke kamar. Ummi sebenarnya juga lemas. Sedih sangat. Tapi dia harus tegar. Tidak boleh lemah di depan anak gadisnya. Siapa lagi yang menguatkan Humaira kalau bukan dia, pikirnya.
Ustadz Rojali mengajak beberapa warga menyiapkan pelaksanaan sholat jenazah.
"Pak RT kita tidak boleh berlama-lama. Mayat harus segera disholatkan. Sambil menunggu Humaira siuman, kita siapkan segala yang perlu, ya"
"Ya pak ustadz, rasanya sudah semuanya kita siapkan" timpal pak RT.
Wak Kuncung menyela pembicaraan.
"Ustadz, jadi tidak memerlukan tenaga saya lagi ya?" Tanyanya
Ustadz Rojali tersenyum. Ia menepuk punggung Wak Kuncung. Menenangkan. Wak Kuncung sedih. Ia teringat obrolan dengan almarhum beberapa hari lalu, selepas isya. Pak Husein sambil berkelakar sempat bilang, kalau dia pergi lebih dulu, ia ingin Wak Kuncung yang memandikannya.
"Sedih saya ustadz. Saya tidak bisa mrmenuhi permintaannya untuk memandikan almarhum" air mata Wak Kuncung mengalir diujung matanya.
"Niat baik uwak udah tercatat di lauhul mahfuz" ustadz Rojali kembali membesarkan hatinya.
Humaira sudah sadar. Ummi menghampirinya. Dia duduk dipinggir ranjang.
"Humaira! Kita harus ikhlas. Allah lebih mencintai ayahmu. Allahlah pemilik sejati ayahmu, bukan kita. Sabar ya, anakku. Tetangga semua ikut sedih dan berduka. Kamu tidak sendirian" ummi sesungguhnya teriris pedih. Hampir tidak sanggup.
"Ayahmu orang baik, nak. Insyaalloh hidupnya akan bahagia bersama Allah"
Humaira pelan-pelan bangun dari tidurnya.
"Ummi aku tidak sanggup"
"Kamu pasti sanggup, nak. Kamu kuat seperti ayahmu. Ayo ...."
Ummi membimbingnya. Humaira memaksakan diri. Aku pasti sanggup, hatinya berkata. Terbayang wajah ayahnya. Perlahan mereka menuju teras tempat ayahnya terbaring.
Humaira seperti mendapat tenaga tambahan. Ia melapas tangan umminya.
"Aku sanggup ummi"
Humaira mendekat. Dipandangi wajah ayahnya. Ia tidak lagi menangis seperti tadi. Air matanya tetap mengalir. Tapi ia tersenyum. Dicium pipi dan kening ayahnya.
"Ayah aku ikhlas. Aku janji secepatnya lulus menjadi perawat. Damai di sana ya, ayah" tangisnya tertahan. Pelayat yang melihat pemandangan seperti itu makin bantak yang mewek.
Prosesi sholat jenazah dilaksanakan. Langgar depan rumah sudah penuh dengan jamaah. Secara berantai ketanda dibawa masuk dan diletakkan ditengah. Sholat dipimpin ustadz Rojali.
Iring-iringan pengantar jenazah mengular. Ketanda digotong dengan berjalan kaki. Lokasi kober tidak jauh. Oya kober adalah komplek pemakaman mandiri yang disediakan warga. Cukup berjalan kaki sebentar saja sampai. Kober tersebut milik warga kampung. Tanah yang diwakafkan oleh haji Sulaiman.
Dua wanita itu saling berpelukan. Isak tangis masih terdengar. Satu persatu pelayat meninggalkan mereka berdua. Semakin sepi. Hanya ada Ustadz Rojali dan Ustadzah Zubaidah yang bertahan.
Ustadz Rojali menghampiri dua wanita itu.
"Bu Melati, Humaira. Saya pamit, ya"
Ibu dan anak itu mengangguk. Mereka masih berpelukan. Ummi seakan masih tak percaya atas apa yang terjadi. Pagi sebelum menuju Jakarta, Pak Hesein masih sempat bercanda lewat telepon. Mengingatkan ummi untuk sholat dhuha. Titip doa untuknya dan Humaira. Begitu sebaliknya. Hubungan mereka makin harmonis belakangan ini. Wajarlah kalau ummi seakan tak percaya.
"Ummi, Humaira, musibah memang tidak ada yang menghendaki. Alloh Subhanahu Wataala pasti sudah mengukur kemampuan kita. Sabar. Ikhlaskan kepulangan pak Husein, ya" Ustadzah Zubaidah berusaha menghibur.
"Iya ustadzah ... " ummi mencoba tegar.
"Ayo Humaira kita berdoa untuk ayahmu"
Ditemani ustadzah Zubaidah, ummi memimpin doa. Tinggal bertiga saja. Setelah berdoa ustadzah mengajak pulang. Humaira mengelus nisan bertuliskan Husein bin Ahmad. Ia seakan masih enggan beranjak. Ia masih ingin menemani ayahnya. Membayangkan ayahnya kedinginan di dalam kuburannya. Kasihan ayahnya, ia bicara dengan dirinya sendiri.
"Berbaringlah dengan tenang ayah"