Humaira

Humaira
Duka Di Malam Ramadhan



Enam puluh dua hari sudah Humaira meninggalkan ummi. Sendirian melewati Ramadhan tahun ini. Kerinduannya sudah menggunung. Situasi yang sulit dihadapinya. Keduanya harus dijalani secara bersamaan. Kesedihannya bertambah, dokter yang dikaguminya terpapar virus corona.


"Assalamu'alaikum Ummi, apa kabar?"


Humaira berusaha mencari tahu senditi kabar Umminya. Dia sudah dikabari Handi. Tetapi ingin sekali ia mendengar suara ummi. Hari ini sangat spesial. Hari terakhir Ramadhan sekaligus hari ulang tahunnya.


"Waalaikum salam warahmatulloh, Mai. Ummi baik dan sehat. Kamu sendiri bagaimana?" Ummi balik tanya.


"Ummi ..... aku kangen" Humaira tak mampu menahan kesedihannya. Rasa kangennya mengalahkan rasa takutnya pada Corona.


Ummi sebenarnya kangen juga. Dia tidak tunjukkan kesedihannya. Meskipun begitu, suaranya bergetar juga.


"Ummi juga kangen, Mai. Kamu jaga kesehatan, ya. Jangan khawatirkan ummi" Ummi hampir tak sanggup berkata-kata lagi. Ia membayangkan betapa beratnya perjuangan Humaira. Orang lain berkumpul dengan keluarganya untuk merayakan Idulfitri. Sementara anak gadisnya harus bertempur dengan virus mematikan, Corona. Hingga hari ini sudah lebih dari seribu orang yang tewas. Lebih dari seratus paramedis telah gugur dalam perang melawan virus tersebut.


"Mai, dokter Fahri bagaimana kabarnya?"


"Kelihatannya makin parah, ummi" Humaira menghela nafasnya. Ia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya atas kondisi dokter Fahri.


"Semoga dokter cepat sembuh ya, Mai. Jangan lelah untuk merawatnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini"


"Ya ummi"


"Ummi, besok aku telepon lagi ya. Aku harus segera bertugas dan memakai PDP. Ummi .... doakan aku ya"


Humaira mengusap air matanya.


"Ummi ...."


"Ya, sayang ..." Ummi merasa Humaira berat menghentikan obrolan ini.


"Aku kangen ...... aku ingin pulang, ummi" brebesmilih airmatanya. Dia sesegukan.


"Mai, ummi doakan agar kamu kuat. Ummi juga berharap yang sama semoga musibah ini segera selesai. Kita bisa kumpul lagi ..." Ummi berusaha menguatkan hati Humaira. Ummi ingin sekali memeluknya. Seperti biasanya, jika Humaira sedang bersedih ia memeluknya. Mengusap-usap rambutnya.


"Ya, ummi .... aku pamit ya, assalamualaikum" Humaira segera berlari sambil menangis. Langkahnya dipercepat menuju ruang ganti.


***


Humaira memandangi wajah lelaki itu. Lelaki yang dengan sabar membimbingnya dalam bekerja. Mengajarinya tentang kehidupan. Lelaki yang dedikasinya luar biasa. Kini di usianya yang tidak lagi muda berjuang melawan corona. Tergeletak tak berdaya. Ia terpapar virus dari paien yang ia rawat. Komandan perang itu tertembus peluru musuh.


Dokter Fahri tergolek lemah. Senyumnya dipaksakan. Dipandangi wajah gadis itu. Humaira sudah seperti anaknya sendiri. Kini, dokter itu hanya tinggal sendirian. Istri dan anak perempuanya telah lama pergi mendahuluinya. Jadi, wajar sekali dia bersikap spesial pada Humaira.


"Rasanya baikan, Mai" Dokter Fahri menyembunyikan apa yang dirasakannya. Ia menjaga agar Humaira tetap semangat.


Humaira menggenggam tangan dokter Fahri. Dia memberi semangat. Nafas Dokter Fahri terlihat terengah-engah. Dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya.


"Mai, boleh .... saya .... ditayamumkan?" Dokter Fahri dengan terengah memohon Humaira membantunya untuk bertayamum.


"Dokter mau sholat Isya?" Tanya Humaira. Dokter Fahri mengangguk lemah.


Dokter Fahri sholat Isya sambil berbaring. Dia minta bantalnya ditinggikan. Sementara ada ketukan dari arah pintu. Humaira menoleh sebentar. Dia kembali membantu Dokter Fahri meninggikan bantalan kepalanya.


Seseorang masuk. Ternyata, Sukma rekan kerjanya.


"Mai, kamu diminta ke ruang Mawar" Sukma menjelaskan maksudnya. Humaira mengangguk.


"Pak, saya tinggal dulu ya. Ruang Mawar membutuhkan bantuan saya" Humaira meminta izin dokter Fahri. Dokter Fahri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia melaksanakan sholat Isya. Humaira melihatnya sebentar memastikan kondisi dokter Fahri. Humaira tetap cemas. Dia melihat nafas dokter Fahri yang sesak. Satu-satu ditarik nafasnya sambil takbir. Wajahnya pucat dan kelihatan menahan sakit di dadanya. Sebenarnya tidak tega meninggalkannya.


Humaira bergegas menuju ruang Mawar. Pasien wanita ini mengejang. Tiga perawat termasuk dirinya segera bertindak sambil menunggu dokter datang. Hari ini sudah tujuh pasien yang meninggal. Nampak kesibukan hari tidak seperti biasanya. Meskipun pasien yang masuk ke rumah sakit ini berkurang bikan berarti kesiagaan turun.


"Mai ...." Panggil seseorang.


Santi memanggil Humaira yang sedang sibuk membantu Sukma dan Renata. Humaira hanya menoleh sebentar.


Akhirnya setelah menunggu reaksi Humaira, Santi menghampirinya. Dia mengajaknya keluar ruangan. Humaira menolak.


"Kamu apa-apan sih!" Humaira agak kesal.


Santi tidak menjawab. Dia tahu Humaira marah. Tapi berita ini penting buat dia ketahui. Dia merada wajib memberitahukannya langsung.


"Aku tahu kamu lagi sibuk, Mai. Tapi aku harus ngomong, Mai!" Sanggah Santi meyakinkan Humaira.


"Ayo Mai ..." Santi memaksa. Dia menarik lengan Humaira. Humaira berontak. Tapi tangan Santi lebih kuat. Santi menyeretnya menuju ruang lain. Ruangan itu masih satu lantai. Tepatnya di ujung lain dari lantai 6. Makin lama makin mendekati ke ujung. Humaira baru paham.


Mereka sampai di depan ruangan itu. Nampak dua perawat dan satu dokter sedang memeriksanya. Selimut yang dipakai dokter Fahri dirapikan. Selimut itu ditarik untuk menutupi seluruh tubuhnya dati ujung kaki hingga kepala.


Humaira mengucapkan sesuatu kalimat.


"Inna lillahi ....... " tidak sampai selesai kalimat itu ia ucapkan. Humaira memeluk Santi. Keduanya menangis sesegukan. . Humaira terjatuh lemas dalam pelukan Santi. Keduanya terduduk di lantai menangis menahan perih duka. Sementara dikejauhan terdengar suara orang takbiran.