Humaira

Humaira
Bab 106 bibi meninggal



Maira dan Fariq sudah berada di rumahnya,saat Fariq hendak beristirahat tiba-tiba ponsel Fariq berdering.


kring...kring...


Fariq langsung melihat layar ponselnya,"Rudi..." gumam Fariq,dia mengangkat panggilan Rudi.


"assalamualaikum"


"...."


"innalilahi wa innailaihi Raji'un"


seketika tubuh Fariq lemas tatapannya masih kosong,ternyata dia menerima kabar kalo bibi sudah meninggal,matanya sudah berkaca-kaca,orang yang menemaninya dari bayi kini benar-benar sudah tiada.


Maira yang baru saja masuk kedalam kamar melihat wajah Suaminya langsung mengerutkan keningnya dan bertanya,"kamu kenapa sayang...?"


Fariq menjawab,"bibi..."


"ada apa dengan bibi?" tanya Maira penasaran karena Fariq tidak melanjutkan ucapannya.


"katakan ada apa dengan bibi?"


"bibi sudah meninggal..." lirih Fariq.


"innalilahi wa innailaihi Raji'un" ucap Maira sambil menutup mulutnya,baginya ini serasa mimpi begitu cepat bibi meninggalkan mereka.


setelah mendapatkan kabar,Maira dan Fariq langsung pergi menuju rumah bibi,tidak lupa mereka juga memberitahu Papa Ikbal.


waktu menunjukkan pukul 11 malam,jenazah sudah siap di sholat kan,semua orang sudah menyiapkan sap nya masing-masing.


setelah selesai,Maira masih mengenakkan mukena sambil tertunduk,Fariq yang melihatnya langsung menghampiri Istrinya.


"sayang...apa kamu baik-baik saja?"


Maira mengangkat wajahnya terlihat air matanya sudah membasahi pipi,"aku sangat bersalah pada bibi" isak Maira.


Fariq mengerti apa yang diucapkan Istrinya,"jangan menangis sayang,semua ini sudah kehendak tuhan" ucap Fariq sambil menyeka air mata Maira.


"kita doakan saja mudah-mudahan bibi di tempatkan di tempat para solehah" lanjut Fariq.


"aku benar-benar merasa bersalah kak..."


"tidak nona...ibu pergi sudah waktunya" tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yaitu Budi.


"apa yang dikatakan Tuan Fariq memang benar semua ini sudah takdir Allah,jadi tolong jangan menyalahkan diri sendiri,kami sekeluarga sudah ikhlas menerima kepergian ibu" jelas Budi.


Maira melihat ke arah Fariq saat mendengar ucapan Budi,dan Fariq pun menganggukkan kepala tanda Maira harus menerima kenyataan.


malam itu pun jenazah bibi langsung di semayamkan,semuanya berjalan lancar dan cepat karena tidak ada sanak saudara yang di tunggu,hanya saja Ratna dia belum mengetahui kalo ibunya sudah meninggal.


semua keluarga sudah sampai di rumah,mereka berkumpul termasuk Maira,Fariq,Sandi dan Papa Ikbal,mendengarkan kronologi saat detik-detik bibi meninggal.


tiba-tiba saja terdengar seorang anak kecil yang sedang menangis,dan anak itu adalah anak kedua Ratna,dia menangisi kepergian neneknya.


"kemarilah nak..."


anak itu mendekat,"kamu sedih...?" tanya Maira.


"kamu jangan bersedih kan di sini ada uwa..." timpal Rudi.


anak itu menunduk,semua yang di sana merasa iba,"apa rencana kalian setelah ini?" tanya Fariq pada kedua anak almarhum bibi.


"sebenarnya ini yang ibu khawatirkan sebelum dia pergi,tapi kami sudah berbicara pada istri-istri kami agar bisa menerima mereka sebelum ibunya datang" jawab Rudi.


"iya...anak sulung Ratna akan ikut bersama Rudi,dan anak keduanya akan ikut bersamaku" lanjut Budi.


"baiklah sekarang aku tenang,dan soal biaya kalian jangan mengkhawatirkannya apa yang dikatakan kemarin kalau kami akan mengirimkannya untuk biaya kehidupan termasuk sekolahnya itu akan kami tepati" jelas Fariq.


"terima kasih Tuan dan nona sudah membantu kami" ucap Rudi.


"sama-sama kami rasa itu bukan kompensasi tapi itu sudah kewajiban untuk saling tolong menolong" ujar Fariq.


waktu menunjukkan pukul 4 subuh,mereka akhirnya membubarkan diri,Fariq,Maira ,Sandi dan Papa Ikbal pamit pulang,dan kini mereka hampir sampai di rumah masing-masing.


saat Fariq hendak masuk ke dalam rumah,terasa ada yang hilang,mulai detik ini dia tidak akan melihat sosok orang yang sudah dianggap orang tuanya sendiri,bertahun-tahun bibi bekerja pada keluarganya,pasti Fariq sangat terpukul saat kehilangan bibi.


Fariq berjalan menuju kamar bibi,dia membuka pintu kamar dan dilihatnya masih ada barang-barang bibi yang tidak sempat di bawa.


saat Fariq duduk di tepi ranjang,dia melihat sebuah poto yang terpajang di dekat ranjang,ternyata poto itu adalah poto keluarganya yang sedang merayakan pernikahan kedua orang tua Fariq.


di poto itu terdapat,kedua orang Fariq,kakek dan bibi,semua terlihat bahagia,hanya saja mereka sudah pergi meninggalkan Fariq.


tiba-tiba saja Fariq terisak,dia tidak bisa membendungnya lagi,dia memeluk poto itu,Fariq tidak menyangka kalo bibi masih menyimpan kebersamaan bersama keluarganya.


Maira yang menyadarinya dia pun ikut menangis,bukan hanya Fariq tapi Maira juga merasa kehilangan,kebersamaan bibi hanya di rasakan sebentar saja tapi itu bermakna bagi Maira.


"sayang..." ucap Maira sambil memegang pundak Suaminya,dan Fariq pun menoleh lalu dia memeluk Maira yang sedang berdiri.


"maafkan aku menjadi cengeng seperti ini" lirih Fariq.


"tidak sayang...keluarkan saja segala beban yang ada di dirimu dengan menangis,tapi ingat semua itu ada batasannya" pesan Maira dan Fariq pun mengangguk.


mereka masih berada di kamar bibi,tiba-tiba saja suara bel berbunyi,baby sister Dzakir membukakan pintu lalu dia mempersilahkan masuk.


setelah itu dia menghampiri kedua orang tua Dzakir dan memberi tahu kalo di depan ada tamu,tidak menunggu lama keduanya pun pergi ke ruang tamu,"Gilang..."


Gilang menoleh pada Fariq,"aku benar-benar baru tahu kalo bibi sudah meninggal" ucap Gilang.


"maafkan aku tidak sempat memberi tahu mu" ujar Fariq.


"ya aku paham itu"


"aku tidak menyangka bibi akan pergi meninggalkan kita secepat itu,padahal kami baru saja bersama-sama lagi" lirih Maira.


"Mai...yang sabar ya...aku juga merasa kehilangan bibi,karena aku dan Fariq punya memory bersama bibi,kami sering menyusahkan dia,yang aku sesali adalah aku tidak sempat mengucapkan maaf dan berterima kasih padanya" lirih Gilang.


"iya aku juga sama lang..." ujar Fariq.


Fariq dan Gilang benar-benar mempunyai masa lalu bersama bibi,dari kecil Fariq di asuh oleh bibi dan Gilang teman Fariq pasti mereka selalu bersama apa lagi Gilang sering di tinggalkan oleh kedua orang tuanya,sering kali dia di titipkan di rumah kakek Fariq semua itu kini menjadi kenangan.


sedangkan di dalam jeruji besi,Ratna sedang gundah tiba-tiba saja wajah ibunya terbayang,dia mondar mandir tidak jelas," hei...apa kau tidak ada kerjaan" bentak salah seorang narapidana yang satu sel bersama Ratna.


bersambung....