Humaira

Humaira
Bab 85 tentang Lea



Fariq menyudahi belanjanya dia langsung pergi ke bagian kasir,sedangkan Ratna memperhatikan Fariq dari kejauhan sambil memegang satu barang kecil.


setelah Fariq membayarnya dia langsung meminta Pak Supir untuk membantu nya membawa belanjaannya.


setelah dimasukkan dalam bagasi Fariq langsung masuk kedalam mobil,di sana sudah terlihat Ratna yang sedang duduk di depan samping supir.


"mana belanjaan mu?" tanya Fariq pada Ratna.


"ini Tuan..." jawab Ratna sambil menunjukkan kantong kresek kecil.


Fariq hanya melihat,dia langsung merogoh ponsel yang berada saku celananya,lalu dia mengirim pesan pada Maira.


(sayang,aku sudah mau pulang sekarang aku lagi dijalan) pesan Fariq.


(iya hati-hati dijalan aku masih bersama Papah) balasan Maira.


setelah membaca balasan dari istrinya,Fariq menutup ponselnya dan memasukkannya lagi kedalam sakunya.


Papah Ikbal dan Maira mereka kini berada di ruang keluarga,terlihat Sandi dan Riana juga Cahaya yang lagi berbincang bersama mereka,karena hari ini hari minggu jadi mereka menyempatkan berkumpul di rumah Maira.


"lihatlah kedua cucuku ini mereka sangat menggemaskan" ucap Papah Ikbal pada Sandi,Riana dan Maira.


"tentu Pah,lihat saja kedua Orang tuanya terlihat tampan dan cantik bukan?" Sandi memuji dirinya sendiri.


"ehm...kebiasaan lama..." ucap Riana,Maira dan Papah Ikbal pun tersenyum.


"kenapa Suamimu belum juga datang,apa dia tidak memberi tahumu?" tanya Papah Ikbal.


"mungkin masih dijalan Pah,tadi Kak Fariq sudah mengabari ku" jawab Maira.


"iya mudah-mudahan cepat pulang" ucap Papah Ikbal.


tidak lama kemudian fariq datang,"assalamualaikum" ucap fariq.


"waalaikumsalam" jawab mereka serentak.


"ternyata sudah berkumpul" ujar Fariq sambil menghampiri Istrinya dan duduk disampingnya.


"mumpung libur kerja jadi tidak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk kebersamaan" ucap Sandi.


"ide bagus" ucap Fariq.


ketika mereka sedang asyik menikmati obrolan tiba-tiba Ratna melewati mereka karena dia hendak ke dapur,Sandi dan Riana pun di buat melongo melihat Ratna.


"siapa dia?" tanya sandi pada sepasang Suami Istri yang tengah duduk bersebrangan dengannya.


Fariq menjawab," dia Art baru disini baru dua hari dia bekerja".


Sandi pun menggelengkan kepalanya,"waw...Art sekarang sudah melebihi majikannya dalam berpenampilan,pantas saja banyak majikan yang tergoda".


semua yang berada di sana di buat kesal dengan ucapan Sandi tak terkecuali Istrinya dia langsung mencubit perut Sandi " aw..." Sandi meringis," sakit sayang...",Riana pun berkata," makannya kalo ngomong itu di jaga,bagaimana kalo kedengaran Orangnya".


Sandi pun langsung meminta maaf pada Istrinya,"iya maaf..." dengan wajah yang cemberut.


"sudah...sudah,kalian seperti anak kecil saja,karena Fariq sudah pulang sebaiknya kita bicara ke intinya" ucap Papah Ikbal yang membuat Maira mengerutkan keningnya,"jadi kalian kesini ada tujuan tertentu?" tanya Maira.


"iya Mai...selain berkumpul ada sesuatu yang harus kita bicarakan" jawab Sandi.


jantung Maira berdetak kencang,dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengannya apa lagi Suaminya Fariq tidak memberi tahunya dulu.


"Riana...tolong ajak Cahaya dan Dzakir ke tempat lain" perintah Papah Ikbal.


"iya Pah..."


"Kak...sebaiknya ajak mereka ke kamar Dzakir saja,kamarnya tepat disebelah kamarku" Maira menunjukkannya pada Riana.


kini hanya tinggal Maira,Fariq,Sandi dan Papah Ikbal,Fariq membuka pembicaraan " sayang,sebelumnya aku minta maaf karena aku tidak lebih dulu memberi tahu..."


"jangan bertele-tele apa yang akan dibicarakan" seketika Maira memotong ucapan Fariq dengan tatapan tajam.


Fariq yang melihat sikap Istrinya tidak biasanya pun langsung menghela nafasnya lalu berkata," ini soal penganiayaan mu waktu itu".


"penganiayaan yang mana?" tanya Maira penasaran.


"yang waktu kamu masuk rumah sakit"


Maira mengernyitkan keningnya lalu bertanya lagi," dua kali aku dianiaya dan dua-duanya aku di rawat di rumah sakit,tolong sayang to the poin saja".


"baiklah aku tidak bisa menjelaskannya sebaiknya biar Kakak mu yang menjelaskan karena dia lebih tahu dari pada aku" Fariq menyerah karena dia lebih takut Istrinya akan marah.


Maira pun melirik ke arah Kakaknya,dan Sandi pun tersadar akan tatapan Adiknya," ok,jadi begini Mai...waktu kamu belum menikah dengan Fariq,kamu sempat dilarikan ke rumah sakit karena penganiayaan dan waktu itu kalian tidak tahu siapa orangnya,dan maaf aku sebenarnya mengetahuinya dan sekarang aku akan memberi tahu mu siapa pelakunya,dia adalah Lea mantan selingkuhanku" jelas Sandi.


Maira terdiam,dia masih mengingat kejadian waktu itu,dan Maira yakin kalo Lea melakukan hal itu karena alasan pacarnya menikahinya.


"lalu kalo kita sudah mengetahuinya apa keuntungan kita?" tanya Maira,semua Orang pun terdiam,"aku kan sudah bilang aku tidak mau memperpanjang masalah ini,apa lagi kejadiannya sudah satu tahun lebih" tegas Maira.


"tapi tidak gitu juga sayang,ok aku tahu kamu terima semua ini lalu bagaimana dengan perasaan keluargamu yang sangat menyayangimu,kami tidak rela kamu di perlakukan seperti itu" tutur Fariq.


"kalau kalian sudah mengetahuinya kenapa kalian tidak menghukumnya sendiri,kenapa kalian harus memberitahuku?"


"awalnya kami takut kalo kamu akan mengetahui sendiri dan menyangka pada kami kalo kami menyembunyikannya dari mu" lirih Fariq.


Maira pun memejamkan matanya," apa kalian sadar,dengan cara kalian seperti ini sama saja kalian membuat celah padaku untuk mencoba membenci orang lain".


"Maira tenanglah..." Papah Ikbal mencoba menenangkan Anaknya,"dengarkan Papah Nak,bukannya kami mengungkit masalah yang sudah berlalu,tapi kami hanya sekedar memberitahumu,apa yang di ucapkan Suamimu Papah memahaminya,dia takut kalo kamu akan marah jika kamu mengetahuinya dari Orang lain".


"dan kami pun tidak akan melakukan apa-apa pada Lea,karena kami yakin dia sudah menyesalinya" jelas Papah Ikbal.


"dari awal aku sudah merelakannya Pah,aku terima nasibku seperti ini,sudah jalan cerita hidupku harus begini,jadi aku mohon siapa pun pelakunya aku tidak mau membahas hal ini lagi"


"aku akui kalian teramat menyayangi ku,terlebih kamu Suamiku aku sangat menghargainya,tapi aku mohon sudahlah kita ikhlas kan karena aku yakin Lea berbuat seperti ini karena alasannya adalah kamu" ucap Maira.


Fariq pun menggenggam tangan Istrinya,"maafkan aku sayang...aku tidak bermaksud untuk membuatmu benci pada Orang lain tapi jujur aku masih tak rela".


"kamu tak rela karena amat menyayangiku,aku harap kamu bisa mencoba untuk menerimanya toh Lea tidak mendapatkan apa-apa dari kita,malah sekarang kita bahagia dengan keluarga kecil kita apalagi dengan kehadiran Dzakir" Maira meyakinkan Fariq.


"baiklah aku akan mencobanya,terima kasih sudah mau jadi penyejuk hatiku Humaira ku" ucap Fariq sambil mencium tangan Istrinya.


Papah Ikbal dan Sandi pun merasa lega,karena ketakutan mereka kini sudah hilang.


bersambung...