Humaira

Humaira
Bab 89 kepergian Ratna



Di rumah Maira dan Ratna masih berdebat,Fariq pun kewalahan dan mencoba untuk menenangkan Istrinya," sayang...sudah lah jangan membuang tenaga mu sebaiknya beri keputusan" ucap Fariq.


"makasih sayang kamu sudah mengijinkan aku mengambil keputusan,sesuai dengan ucapan ku kemarin,jika kau terbukti salah maka silahkan keluar dari rumah ini artinya kamu tidak bekerja lagi di sini" ucap Maira pada Ratna.


"baiklah...hari ini kamu menang,tapi ingat suatu saat nanti kamu akan bersujud di bawah kaki ku" ucap Ratna sambil melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengemasi barang miliknya dan di susul oleh bibi.


"Ratna kamu sudah mempermalukan Ibu..." ucap Bibi setelah berada di kamar Ratna.


"kenapa Ibu menyalahkan aku,apa Ibu tidak paham dengan perasaanku,asal Ibu tahu sejak dulu aku menyukainya Bu,tapi dia selalu acuh padaku Ibu tahu gak perasaan itu masih saja berada di benakku" ucap Ratna sambil menangis.


"tapi kamu harus sadar siapa kamu sebenarnya,kamu dan Den Fariq bagai tanah dan langit jauh sekali,kita berbeda apa lagi dia sudah berkeluarga sadarlah sadar Ratna" bibi pun berkata sambil menangis juga.


pertengkaran mereka terdengar oleh Maira dan Fariq yang sudah berada di dapur,mereka ingin memastikan kalo Ratna tidak berbuat jahat pada Ibunya.


tidak banyak bicara Maira langsung pergi ke ruang keluarga lagi,perasaannya kini campur aduk sedih,kesal,rasa bersalah menyatu dalam benaknya.


Fariq pun menyusul Istrinya dan memeluknya dari belakang,"apa kamu baik-baik saja?" tanya Fariq.


"apa aku salah melakukan hal seperti ini?" Maira balik bertanya.


"tidak sayang...aku malah menghargai perjuanganmu untuk membuktikan teka teki ini,aku juga jadi tahu yang sebenarnya" jawab Fariq.


Maira membalikan tubuhnya dan kini berhadapan dengan Suaminya," maafkan aku karena dengan cara ini aku membuktikannya" lirih Maira.


"aku tidak apa-apa tapi kenapa kamu tidak memberi tahuku dulu dan kenapa rencananya tidak seperti yang kamu bicarakan waktu itu?" tanya Fariq.


"aku berubah pikiran,aku ingin lebih jelas lagi sayang..." jawab Maira,ternyata waktu Maira membisikan sesuatu pada Fariq tidak seperti kejadiannya.


tiba-tiba saja Ratna datang dan melihat mereka sedang bercakap,terlihat mata Ratna yang merah karena tangisannya.


"Ratna...aku ingin bicara sebentar" ucap Maira.


"tidak ada yang harus dibicarakan lagi karena semuanya sudah jelas aku yang bersalah di sini" ketus Ratna.


"syukur lah kamu mengakuinya aku hargai itu" ucap Maira.


"ini gajih beberapa hari kamu bekerja disini" Maira memberikan sebuah amplop pada Ratna,tapi Ratna tidak mengambilnya.


"yakin kamu tidak ingin menerimanya?" tanya Maira.


"saya sudah tidak butuh itu lagi"


"ehm...emang dari dulu kamu niatnya hanya ingin mendapatkan Suami saya bukan uang,jadi saya akan simpan lagi" ucap Maira datar.


"masalah ini saya minta maaf karena sudah membuatmu sesakit ini,tapi Istri mana pun akan melakukan hal yang sama untuk mempertahankan keluarganya,aku tidak ingin menuduh orang tanpa bukti" jelas Maira.


"jangan pura-pura baik nona,aku tidak butuh kata maaf darimu" ujar Ratna dengan mimik wajah yang menyebalkan.


"hei...beruntung kamu tidak kami laporkan pada polisi,jadi jangan semena-mena pada Istriku" tutur Fariq.


"ha...ha...ha..." Ratna tertawa dan berkata," Istri...lihat saja tuan akan ku pastikan dia berubah gelar menjadi seorang janda," ucap Ratna lalu dia pergi meninggalkan rumah itu.


"aku tidak akan membiarkan kalian bahagia diatas penderitaan ku" ucap Ratna dalam hati sambil berjalan melangkah pergi.


Maira menutup matanya saat mendengar ucapan Ratna yang tidak main-main seakan dia merasa pertarungan baru di mulai.


siang berganti malam,Fariq dan Maira berada di balkon kamar Dzakir yang dulunya kamar kakek,mereka sedang duduk sambil memandang langit yang penuh dengan gemerlapan bintang-bintang.


"aku tahu dengan perasaan Ratna,dia tidak mudah menyimpan perasaan terhadap seseorang apa lagi dengan waktu yang lama" tiba-tiba Maira Mengatakan hal itu.


Fariq yang mendengarkannya langsung bertanya," kenapa tiba-tiba kamu berkata seperi itu?"


"dengan tidak sadar kita sudah menyakitinya" jawab Maira.


"tapi bukan kah tidak boleh seseorang mencintai pasangan orang lain apa lagi mereka sudah menikah" ujar Fariq.


"memang benar tapi dia menyukaimu lebih dulu sebelum kita menikah,saat mendengar perkataan Ratna tadi bersama bibi aku semakin bersalah" ucap Maira,Fariq pun menghela nafasnya.


"aku juga tak enak dengan pada bibi" lirih Maira.


"kita akan bicara nanti pada bibi" ujar Fariq.


Maira mengangguk dan membiarkan kepalanya berada di dada bidang Suaminya,dia merasakan detak jantung Fariq.


"tapi apa Ratna tidak main-main dengan ucapannya?" tanya Maira.


"aku tidak tahu sayang...tapi kita juga harus waspada dan tetap percaya satu sama lain"


Maira mengangguk,dan menutup matanya merasakan sesuatu yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata seakan keluarganya sedang berada dalam bahaya.


terdengar tangisan si kecil,Maira langsung masuk dan menghampiri Dzakir yang sedang menangis karena lapar.


diraihnya tubuh kecil anaknya dan memberikan ASI nya kepada Dzakir,sambil membacakan ayat suci al quran.


Fariq yang melihat Maira dan dzakir matanya sudah bekaca-kaca,dia tidak bisa membendung air matanya lagi tak terasa jatuh membasahi pipi,dia merasakan kalo dia belum bisa membahagiakan ibu dari anaknya,rasa cemas yang dirasakan Maira dia pun merasakan hal yang sama bisa dikatakan lebih.


keesokan harinya,fariq hendak pergi ke rumah sakit dia dan Maira sudah berada di halaman depan,Maira melambaikan tangannya ketika Fariq mulai melajukan mobilnya,setelah Fariq benar-benar pergi Maira masuk kedalam rumah di dapat nya bibi sudah bersiap pergi membawa tas besarnya.


"bibi mau kemana?" tanya Maira.


bibi menunduk dan menjawab,"bibi mau pamit pulang non"


"apa bibi marah pada saya atas kejadian kemarin?" tanya Maira lagi,"saya minta maaf Bi" lanjut Maira.


"tidak non...tolong jangan berfikir seperti itu bibi hanya merasa malu dengan sikap Ratna terhadap nona dan Den Fariq,bibi merasa tidak pantas bekerja lagi disini" lirih bibi.


Maira menggenggam tangan bibi dan berkata," bibi tidak ada kaitannya dengan masalah ini,jadi tolong jangan tinggalkan kami"


"tapi semua ini gara-gara bibi karena sudah membiarkan Ratna masuk dalam rumah ini" ujar bibi.


"jangan menyalahkan diri sendiri,anggaplah semua ini tidak pernah terjadi" bujuk Maira.


"saya tidak tahu harus berkata apa jujur saya malu sekali mempunyai anak seperti dia,mungkin saya sudah salah mendidiknya" ujar bibi sambil terisak.


"bibi tidak salah,bibi Ibu yang baik bagi Ratna,bibi tidak perlu malu mempunyai anak seperti dia karena saya yakin dia punya alasannya,saya sudah memaafkannya bi" jelas Maira.


bersambung....