
Siang itu tol Cipularang di padati kendaraan. Bukan merayap tapi benar-benar berhenti. Pak Husein mencoba mengambil jalur sebelah kiri sebelum benar-benar berhenti. Pak Husein kelihatan lelah. Tapi berusaha untuk tetap terjaga. Ia berusaha mengalihkan kelelahannya dengan minum air mineral dan mengunyah permen.
"Kelihatannya ada kecelakaan deh ... " Pak Husein mencoba menebak.
"Coba cari info di radio, pak" pak Gandi meminta pak Husein mencari informasi menenai kemacetan yang terjadi di tol Cipularang. Pak Husein menuruti permintaan Pak Gandi.
Pak Gandi tak sabaran. Ia berusaha mencari info melalui radio. Beberapa menit kemudian ada informasi dari sebuah radio yang menjelaskan ada kecelakaan tunggal. Sebuah truk terguling dan melintang di tengah jalan.
Pemandangan di depan terhalang beberapa bis. Padahal jarak tidak begitu jauh. Perlahan kendaraan mulai bisa maju. Ada ruang untuk merangsek maju. Pak Harun mencoba menggeser ke depan.
Baru jarak beberapa meter kembali terhenti. Pak Gandi turun melihat situasi.
Beberapa orang keluar dari mobil. Melakukan hal yang sama dengan pak Gandi.
Tidak jauh dari mobil pak Husein, terlihat Syafira dan mamanya keluar dari mobil berwarna silver. Mereka menuju ke tepi jalan. Pak Husein melihatnya. Dia keluar juga dari mobilnya. Pak Husein berusaha menghampiri mereka.
"Loh Syafira dan ibu mau kemana?" tanyanya.
"Eh pak Husein. Biasa nih mama, sudah tidak tahan katanya" Syafira agak kaget disapa pak Husein. Mamanya Syafira senyum malu. Dia mencubit lengan Syafira.
"Fira ...." Matanya agak melotot.
"Jangan begitu dong, mama malu"
Syafira nyengir, sadar kalau dirinya salah. Tanpa pamit ia langsung mengajak mamanya mencari lokasi yang aman.
"Iya pak" mereka berdua menuju semak-semak di pinggir tol. Lokasinya agak turun dan licin.
Sementara truk yang terguling masih belum digeser. Belum ada petugas. Entah dengan sopir dan kondekturnya. Orang-orang tidak ada yang berani mendekat. Pak Gandi tidak kelihatan. Pak Husein yang masih berdiri di sisi mobil celingak-celinguk mencarinya.
Mereka yang di dalam mobil asyik dengan kegiatannya sendiri. Pak Husein bersandar di pintu mobil sebelah kiri. Tangan kanannya memegang tasbih, berzikir. Kebiasaannya yang selalu dilakukan ada atau tidak ada tasbih. Tasbih itu hadiah dari ustadz Rojali. Hari ini rasanya begitu lama. Padahal dia ingin segera sampai di rumah. Entah mengapa perasaannya berbeda hari ini.
Matanya terus mencari sosok pak Gandi. Tanpa disadari pak Husein, pak Gandi sudah berdiri di belakangnya. Pak Husein masih memandang ke depan.
"Melihat siapa pak?" Suara pak Gsndi mengagetkannya. Sambil istighfar dia menoleh ke belakang. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan senyuman.
"Mencari pak Gandi" jawabnya singkat. Jemarinya tetap memutar biji tasbih dan berzikir.
Mereka kemudian hanyut dalam obrolan. Sesekali pak Gandi membasahi tenggorokannya dengan seteguk air mineral dari botol yang dipegangnya.
Tiba-tiba orang-orang berteriak. Ada yang menangis. Banyak orang tergeletak. Mobil-mobil ringsek, hancur. Bahkan ada yang gepeng seluruhnya atau separuh. Darah berceceran. Pak Harun melihat Syafira dan mamanya. Panik. Mamanya lari menuju mobil.
"Alhamdulillah, mereka selamat" Pak Husein bersyukur keluarga Syafira selamat. Kejadiannya begitu tiba-tiba. Pak Harun sendiri tidak melihat truk itu datang dan menghantam mobil-mobil yang sedang antri.
Pak Harun melihat Syafira menangis. Entah siapa yang dia tangisi. Dia berlutut. Syafira menyebut nama tubuh yang terbujur bersimbah darah. Apakah itu papanya?
Pak Harun mencoba melihat lebih dekat. Lelaki yang ditangisi Syafira itu mengenakan kaos casual biru. Di jari lelaki itu terselip tasbih.