
6 bulan sudah berlalu,kini Maira dan Fariq mengisi waktunya dengan kesibukan masing-masing mereka menikmati perannya sebagai orang tua,dan kini baby Dzakir terlihat sangat menggemaskan,apa lagi dengan tingkah lucunya membuat Fariq betah di rumah.
cinta kasih mereka terus tumbuh,sempurna lah keluarga kecil mereka ketika Dzakir hadir di tengah-tengah mereka,buah hasil cinta mereka.
waktu menunjukkan jam 19.00 Fariq belum juga pulang,Maira yang cemas sedari tadi mondar mandir tak karuan,dia mencoba menghubungi Suaminya tapi tidak ada jawaban.
Maira pun menengadahkan tangannya dan berdoa untuk keselamatan Suaminya,"ya allah berikan keselamatan pada Suami ku yang sedang berjuang di luar sana".
waktu begitu cepat tapi Fariq belum juga pulang,semakin cemas Maira langsung menghubungi asistennya.
("assalamualaikum") Maira mengucapkan salam
("waalaikumsalam") jawab asisten.
("wi...aku mau tanya apa bapak sudah pulang?") tanya Maira berharap Wiwi mengetahuinya.
("maaf bu...pak dokter sedari tadi sudah pulang saya juga sudah berada di rumah") jawab wiwi.
wiwi adalah asisten Fariq dia yang membantu Maira melahirkan.
("jam berapa bapak keluar?" tanya Maira lagi.
("sesudah solat magrib bu,pak dokter pulang tapi saya tidak tahu kalo beliau belum sampai rumah") jawab Wiwi.
("makasih Wi,maaf saya sudah mengganggu istirahat kamu") ucap Maira.
("tidak apa-apa Bu,mudah-mudahan pak dokter cepat pulang") ujar Wiwi.
("aamiin,assalamualaikum")
("waalaikumsalam")
Maira menutup panggilannya,dia berfikir harus meminta bantuan Papahnya dan langsung menghubunginya.
setelah mendapat kabar dari Maira,Papah Ikbal dan Sandi langsung mengutus anak buahnya untuk mencari keberadaan Fariq.
setelah beberapa jam mencarinya,anak buah Papah Ikbal memberi kabar kalo mobil Fariq berada di jalan yang sepi dekat semak-semak,mereka menyangka kalo Fariq di begal,tidak menunggu lama Papah Ikbal langsung menuju TKP bersama Sandi.
ketika mereka sudah di sana Papah Ikbal dan Sandi melihat mobil Fariq yang kosong di sana tidak mendapatkan bukti kalo Fariq di begal tapi Sandi merasa heran karena keberadaan mobil itu bukan dijalan menuju rumah Fariq,dan dia menyimpulkan kalo Fariq di culik,dengan wajah marah Papah Ikbal memberikan perintah lagi pada anak buahnya untuk mencari siapa pelaku penculikan Fariq.
"siapa yang berani coba-coba membuat putriku bersedih...aku tak akan membiarkan dia hidup" geram Papah Ikbal.
keesokan harinya Papah Ikbal pergi ke rumah Maira untuk memberi tahunya,siapa tau Papah Ikbal mendapat petunjuk dari Maira.
setelah sudah sampai di rumah putrinya,terlihat wajah Maira yang pucat karena semalaman dia tidak tidur karena mencemaskan Suaminya.
"Pa...bagaimana sudah ada kabar ?" tanya Maira dengan mimik yang memelas.
Papah Ikbal menarik nafas lalu berkata,"kami belum tahu keberadaan Suamimu,tapi kami sudah menemukan mobil Fariq yang terparkir disemak-semak mungkin saja Fariq di culik"
Maira pun ambruk tapi untungnya Papa Ikbal dengan cepat menangkapnya,"Maira sayang...kamu baik-baik saja kan nak?"
"Pa...Kak Fariq" ucap Maira yang masih tidak percaya dengan kabar penculikan Fariq.
Maira kini sudah membaik,dia melihat Dzakir yang tertidur di pangkuannya,di usapnya kepala anaknya lalu dikecup keninnya dan berkata," semoga Abi baik-baik saja di sana dan secepatnya kembali pulang" Maira tidak bisa membendungnya dan akhirnya tangisannya pun pecah.
Papah Ikbal yang melihat matanya sudah berkaca-kaca,ada rasa sakit di hatinya ketika melihat putrinya menangis," aku tidak akan membiarkan anakku kehilangan Suaminya" gumam Papa Ikbal sambil mengepalkan tangannya.
hari sudah sore,masih belum ada kabar tentang hilangnya Fariq,Papah Ikbal terus menghubungi suruhannya tapi masih nihil,tiba-tiba saja Sandi sudah berada disampingnya tanpa ia sadari.
"Pa..."
"Sandi,sejak kapan kamu di sini?" tanya Papa Ikbal yang sudah menyadari keberadaan anaknya.
"belum lama" jawab Sandi.
"Papa terlalu fokus pada ponsel jadi tidak menyadari kedatangan mu" ujar Papa Ikbal.
"bagaimana apa sudah ada kabar?" tanya Sandi.
Papa Ikbal menggeleng,Sandi pun menepuk pundak Papa nya,"tenang Pah kalo Fariq belum juga ketemu kita akan lapor polisi dan Sandi pun sudah menghubungi Gilang untuk membantu pencarian Fariq dia akan pulang kalo urusannya sudah selesai" tutur Gilang.
"bagus...mudah-maudahan secepatnya kita mendapat Informasi keberadaan Fariq" ucap Papa Ikbal.
Sandi pergi menemui adiknya,dia melihat Maira menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, dia menelan Saliva nya dan menghampiri lalu berjongkok di depan Maira yang tengah duduk di kursi.
"Mai...kakak datang untukmu" ucap Sandi.
Maira menoleh ke arah Sandi,air mata keluar membasahi pipinya,Sandi pun menyeka air mata adik satu-satunya lalu memeluknya.
"sabar Mai...Kakak akan berusaha mencari Fariq sampai dia kembali pada kalian" janji Sandi pada Maira.
begitu hangat pelukan sang Kakak yang membuat dia merindukan pelukan Suaminya,Sandi pun membiarkan Maira lebih lama merasakan dekapannya.
bibi yang sedang menggendong Dzakir ikut merasakan sedih,waktu begitu cepat,baru saja kemarin majikannya mendapat masalah karena kelakuan putrinya dan kini musibah datang melanda keluarga kecil Maira.
"ya allah,berikanlah ketabahan dan kesabaran pada non Maira,karena beliau orang yang baik" doa bibi dalam hati.
satu bulan sudah Fariq menghilang,kehilangannya sudah tersebar di media sosial,polisi sudah mencari tapi belum mendapat titik terang.
tubuh Maira semakin kurus,dia tidak mendapat semangat hidup,di hatinya masih memikirkan Suaminya,dia yakin kalo Fariq akan pulang kembali bersamanya.
Papa Ikbal yang setia menemaninya turut mengurus Dzakir,Bu lastri dan Fahmi pun sudah mengetahui berita hilangnya Fariq,mereka juga ikut mengurus Maira dan Dzakir.
setiap hari rumah Maira di penuhi dengan tamu dari berbagai kalangan untuk berbela sungkawa atas hilangnya Fariq,tidak sedikit dari para Ceo rekan bisnis Papa Ikbal dan Sandi yang menawarkan bantuan untuk mencari Fariq.
Gilang yang mendengar sahabatnya hilang dia langsung terjun kelapangan untuk mencari Fariq,kini Sandi,Fahmi dan Gilang bersatu mereka tidak patah semangat,karena yakin Fariq masih hidup dan akan kembali.
dikamar Maira memilih sendiri,dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,dia membayangkan saat-saat bersama Fariq,saat mereka tertawa,saat mereka bercumbu,saat mereka bersedih semuanya berada di ingatan Maira,seakan semua itu menusuk jantungnya.
kini Maira ambruk kelantai dengan mata kunang-kunang,kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya,dengan perlahan matanya tertutup sambil mengeluarkan air mata,Maira tergeletak di lantai tidak sadarkan diri,tubuhnya sudah mulai melemah karena beratnya beban yang di pikirkan Maira.
bersambung....
terima kasih dari author yang sudah memberikan like dan komentar nya semoga tidak bosan untuk membaca novel pertamaku...🙏