
tangan karin bergetar saat melihat hasil dari tesnya,ketakutannya sekarang menjadi kenyataan rasa yang bercampur aduk sekarang menjadi satu.
karin memejamkan matanya,dia berfikir keras untuk hal ini dia tidak ingin masa depannya hancur karena kehadiran anak di rahimnya apalagi tanpa seorang ayah.
dor...dor...dor...
suara pintu di gedor,terdengar suara panggilan maira.
"karin....apa kamu baik-baik saja...?"
karin masih enggan beranjak dari kamar mandi,kebingungan sedang melandanya.
maira mencemaskan karin,"aku akan menyuruh orang untuk mendobraknya karin...kalau kamu gak keluar..." tiba-tiba pintu terbuka.
saat ini maira dan karin sedang berhadapan,karin memberikan hasil tesnya pada maira.
mata maira membulat saat melihat hasil tesnya "positif..."
karin pun ambruk dengan sigap maira menangkapnya dan membantu karin duduk di pinggir ranjang.
"karin...bicaralah padaku apa sebenarnya yang terjadi?" tanya maira.
tangisan karin pecah di pelukan maira...
masih di sekitaran rumah panti,fahmi dan sandi sedang berbincang mengenai karin,fahmi merasa ada yang mengganjal dengan tingkah laku maira dan karin.
sandi tidak bisa memberitahunya karena permintaan maira waktu itu.
maira masih menenangkan karin,dia membujuk karin untuk menceritakan masalahnya.
"sebenarnya apa masalahmu karin,aku yakin ada sesuatu yang kamu pendam" ucap maira.
"apa tentang suamiku?" lanjut maira.
karin menggeleng,"ini tidak ada hubungannya dengan fariq"
"kalo kamu percaya padaku aku akan mendengar ceritamu" ucap maira.
"aku tidak tahu harus memulainya dari mana" ujar karin.
"perlahan saja..."
akhirnya karin menceritakan dari awal dia di paksa memuaskan nafsu ayah tirinya dan berakhir dengan seperti ini,karin menangis dengan beban yang berada di pundaknya,dia masih ada ibu yang harus dilindunginya.
maira pun mendengarkan cerita karin tanpa bertanya dan memotong pembicaraan.
"maira...maafkan aku sudah berbuat jahat padamu,aku sebenarnya gak pantas berada disini" ucap karin.
"aku sudah memaafkanmu,tapi dengan masalahmu apa ada jalan keluar?" tanya maira.
karin menjawab,"aku tidak punya pilihan semunya memberatkan ku".
"aku mengerti,sebaiknya kamu istirahat tolong jangan dulu pergi tinggal lah di sini sampai masalahmu tuntas,apalagi ada bayi di perutmu" ucap maira.
"terima kasih mai..."
cahaya sudah siap untuk ikut dengan ayahnya sandi,semua orang dipanti akan merindukan cahaya seperti mereka merindukan maira.
sebelum pergi maira menceritakan masalah yang dialami karin pada fahmi,dia meminta ijin karin tinggal di panti untuk sementara waktu.
di dalam perjalanan maira masih memikirkan tentang karin,lea yang juga ikut mengantar cahaya sesekali melihat maira dengan wajah cemas.
"mai...apa kamu baik-baik saja?" tanya lea.
"aku baik-baik saja..." jawab maira.
"kenapa maira...apa kelelahan?" tanya sandi sambil menyetir.
"aku gak apa-apa...eh iya kita akan menjemput kak riana dulu kan?".
"iya...kita ke rumah sakit dulu..."
setelah sampai di rumah sakit,mereka langsung menuju ruangan riana,disana sudah ada fariq,papah ikbal dan gilang yang sedang menunggu dari tadi.
sandi memperkenalkan riana pada cahaya," cantik...kenalkan ini mamah riana"
cahaya hanya diam lalu melihat kearah lea,"mamah...?" ucap cahaya penuh tanda tanya,karena yang dia tahu mamahnya adalah lea.
lea mengerti dengan sikap anaknya dan mendekat pada cahaya,"sayang...kamu punya mamah dua,mamah lea dan mamah riana,kamu akan tinggal bersama mamah riana dan papah selama mamah pergi" jelas lea.
"oh...tapi mamah akan cepat pulangkan?" tanya cahaya pada lea.
"iya sayang mamah akan secepatnya pulang,jadi kamu gak boleh nakal dan gak boleh nyusahin mamah riana karena dia baru sembuh" pesan lea.
"sekarang kamu panggil dong mamah riananya" pinta lea.
cahaya mengerutkan keningnya dan berkata,"enggak..." semua yang berada disana terkejut,"aku enggak mau manggil mamah....tapi aku mau manggil mamih...bolehkan?"
riana mengangguk sambil tersenyum,"mamih..." panggil cahaya,riana pun memeluk cahaya dan melihat kearah lea dia berterima kasih lea sudah memberi kesempatan untuk menjadikannya seorang ibu.
semua orang turut bahagia...
fariq,maira dan gilang pergi dengan satu mobil,di mobil lain sandi pergi bersama papah ikbal,riana dan cahaya,mobil mereka iring-iringan menuju Mension papah ikbal.
lea tidak ikut mengantar cahaya karena dia harus bersiap untuk kepergiannya besok pagi,di trotoar jalan lea berjongkok sambil menangis karena dia akan berpisah dengan cahaya yang belum lama ini dia temui.
di dalam mobil maira mencoba menceritakan kisah karin yang selama ini dia pendam,sontak fariq dan gilang terkejut,maira mencoba untuk meminta bantuan keduanya untuk menyelesaikan masalahnya.
bersambung....