Humaira

Humaira
Bab 86 kebohongan Ratna



pembicaraan Fariq,Maira,Sandi dan Papah Ikbal mereka akhiri dengan senyuman,Ratna sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka,"malang sekali tuan putri di rumah ini,sekarang giliran ku beraksi" ucap licik Ratna.


hari menjelang sore,kini Fariq dan Maira sedang asyik menikmati romantis dikala Dzakir sedang tertidur lelap,sedangkan keluarga Maira sudah pulang sejak tadi.


Maira membelai rambut suaminya yang sedang berbaring di sampingnya,sesekali Fariq pun mencium tangan Maira,ada rasa cinta dan kasih sayang yang amat besar diantara mereka,senyum yang diberikan Maira membuat Fariq tidak ingin melepas suasananya.


"sayang...biarkan aku pergi ke dapur" pinta Maira.


Fariq semakin erat memeluk Maira,"engga,kamu harus tetap disini"


"kalo aku terus disini,siapa dong yang akan masakin buat kamu?"


"kan ada Bibi juga Ratna"


"aku gak mau mereka yang melayani kamu"


"ya udah kamu layani aku aja disini" goda Fariq.


"belum waktunya..."


Fariq pun menghela nafasnya dan melepaskan pelukannya,"baiklah...aku akan bersabar menunggunya,tapi ingat kalo sudah waktunya aku akan memakan kamu"


"ih...takut..." ucap Maira,mereka pun tertawa bersama.


dibalik pintu Ratna mendengarkan percakapan mereka,tidak lama kemudian dia pergi menuju dapur,"Istrimu belum bisa memuaskan mu tapi malam ini aku yang akan melayani mu" ucap Ratna dalam hati.


makan malam pun tiba,Maira dan Fariq sedang makan bersama,sedangkan Ratna menjaga Dzakir dan Bibi sedari tadi dia tidak keluar dari kamar karena sakit.


setelah selesai makan suami istri itu kembali ke kamar dan membawa baby Dzakir,Maira dengan perlahan membaringkan putranya yang sudah tidur ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


cup...


maira mengecup kening putranya,"tidur yang nyenyak nak..."


setelah Maira menidurkan Dzakir,dia menghampiri suaminya yang sedang memainkan laptopnya,"sayang...aku ngantuk" ucap Maira.


"tidurlah,aku masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan" ujar Fariq sambil mengelus-elus rambut Maira.


waktu menunjukkan jam 23.00,Fariq menyudahi pekerjaannya dan berniat untuk pergi ke dapur,saat dia sudah berada di dapur dia langsung menuju tempat minum untuk mengambil air saat itu juga Ratna datang menghampiri.


"Tuan..."


Fariq pun kaget,"ada apa,kenapa kamu belum tidur?"


"saya belum ngantuk,tuan sendiri kenapa belum tidur?" tanya Ratna.


"saya baru selesai mengerjakan tugas" jawab Fariq.


"oh..."


Fariq hendak pergi ke kamarnya lagi tiba-tiba dua tangan melingkar di pinggangnya dari belakang,Fariq mencoba berbalik tiba-tiba tubuhnya terhempas kedinding dapur ada sesuatu yang mendarat di bibirnya.


ternyata Ratna mencium bibir Fariq dengan buas,Fariq mencoba melepaskannya tapi tiba-tiba Ratna membuka resleting celana Fariq,sontak fariq pun mendorong Ratna dengan kencang sampai Ratna terjatuh kelantai dan tak sengaja menjatuhkan gelas bekas fariq minum.


Maira yang sedang tidur pun terbangun ketika mendengar pecahan,dia langsung memakai hijabnya dan keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap.


Fariq menatap tajam pada Ratna,dia tidak berbicara sepatah pun,ketika Fariq hendak berbalik Ratna menyobek seluruh bajunya yang dikenakannya karena dia menyadari ada orang yang hendak masuk ke dapur.


benar saja ternyata maira dia sudah menyalakan lampu dapur yang sedari tadi mati,"astagfirullah" ucap maira menutup mulutnya,dia terkejut dengan pemandangan yang berada dihadapannya.


"hiks...hiks..." Ratna terisak penuh kebohongan.


Fariq yang menyadari itu langsung memaki Ratna,"jangan kau bersandiwara wanita J****g"


Maira pun terkejut dengan ucapan Suaminya,"jelaskan apa maksud semua ini?" tanya Maira dengan bergetar.


"sayang percayalah aku tidak berbuat apa-apa,dia yang memulainya" Fariq mencoba menjelaskan pada Maira.


"lalu bagaimana dengan dia?" tanya maira lagi sambil menunjuk pada Ratna.


"dia merobeknya sendiri sayang" jawab Fariq.


"tidak...apa yang dikatakan tuan Fariq bohong,jelas-jelas dia menginginkan tubuh ku tapi aku berusaha menolaknya" ucap Ratna membohongi Maira.


Maira menggelengkan kepalanya,dia tidak percaya Suaminya bertindak seperti itu,lalu Maira ambruk ke lantai,Fariq pun langsung menghampirinya tapi tangan Maira memberi kode kalo dia tidak mau Fariq membantunya.


air mata Maira sudah terjatuh dia tidak bisa menahannya lagi,lalu Maira berusaha berdiri dan dia pergi meninggalkan Fariq yang sedang menatapnya,sedangkan Ratna dia sedang bertepuk tangan karena dia sudah berhasil walaupun rencananya sedikit meleset,dia kira fariq akan tergoda olehnya tapi dia salah,justru Fariq adalah lelaki yang begitu menjaga kehormatan keluarganya.


malam berganti siang,maira sedang duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong,sedangkan Fariq kini masih termenung di ruangan keluarga,"ya tuhan ujian apa yang akan engkau berikan padaku" lirih Fariq.


Fariq mencoba menghampiri Maira tapi dia tidak bisa karena Maira mengunci diri di kamarnya,Fariq mencoba berbicara dari belakang pintu," Maira...dengarkan aku sayang...aku tidak pernah melakukan hal itu percayalah"


tidak ada jawaban dari dalam,Fariq pun tidak putus asa," Maira...buka dulu pintunya kita bicarakan baik-baik,ayolah sayang jangan begini".


saat Fariq berbicara sendiri tiba-tiba Ratna berkata,"Tuan...bagaimana dengan saya,anda sudah menyentuh tubuh saya semalam"


Fariq membalikkan tubuhnya dan berkata,"sebaiknya kamu pergi dari sini karena ulah mu Istriku sudah salah paham padaku"


"tapi tuan...kenapa tuan melakukan itu padaku hiks...hiks..." ucap Ratna sambil terisak.


"aku tidak peduli,karena aku tidak melakukannya" teriak Fariq.


tiba-tiba suara pintu terbuka," kamu tidak boleh pergi,karena urusan kita belum selesai" ucap Maira pada Ratna.


"dan untuk kamu,sebaiknya biarkan aku sendiri dulu" ucap Maira pada Fariq lalu dia menutup pintunya kembali.


ratna yang mendengar pun tersenyum penuh kemenangan,"ah..awal yang indah" gumam Ratna ketika dia sudah meninggalkan Fariq.


di kediaman Papah Ikbal,seperti biasa mereka melakukan aktivitas seperti biasanya,terlihat Sandi dan Riana semakin lengket yang mengumbar kemesraannya.


"apa kalian tidak malu,disini ada Papah dan Cahaya"


"maafkan kami,abisnya kami terlalu senang" ujar Sandi.


"oh ya" ucap Cahaya.


"tentu nak...karena Mommy terlambat datang bulan,mudah-mudahan saja misi ku kemarin berhasil" ucap Sandi kegirangan.


Papah Ikbal pun menggelengkan kepalanya,"periksa dulu nanti kalo meleset marah-marah jadinya" sindir Papah Ikbal.


ternyata dulu Sandi sering marah-marah karena Istrinya tak kunjung hamil dan pada akhirnya memilih untuk selingkuh.


"sekarang tidak akan lagi,iya kan sayang..." ujar Sandi.


sedangkan di rumah Fariq,keadaan sedang tidak baik-baik saja,Maira yang tengah menggendong anaknya dia terus berdoa agar di berikan jalan keluar untuk mengahadapi masalah ini.


bersambung....