
Maira sedang berada di rumah Papa nya,mereka sedang berkumpul karena ada sesuatu yang harus Papa Ikbal sampaikan.
"makasih kalian sudah mau meluangkan waktu untuk berkumpul disini,sebenarnya Papa sudah bicara pada pengacara Papa kalo Papa akan mendirikan sebuah perusahaan untuk di kelola oleh Maira"
Maira dan Fariq pun terkejut,"perusahaan?" tanya Maira tidak percaya.
"iya nak...Papa ingin kamu mengelola perusahaan sendiri dan kakak mu yang akan membantu mu,iya kan Sandi"
"iya Mai...kakak akan membantu mu,jadi kamu tidak perlu takut" ujar Sandi.
Sebelumnya Papa Ikbal memberitahu Sandi terlebih dahulu karena dia takut kalo Maira tidak menginginkannya.
"bukannya takut tapi apa aku layak?"
"kenapa tidak layak,kamu anak Papa anak pebisnis sukses nak" ucap Papa Ikbal.
"iya Mai...kami sangat senang jika kamu menerima ini" ucap Sandi.
Maira menoleh pada Fariq,"semua keputusan ada pada kamu sayang..."ucap Fariq yang mengerti tatapan istrinya.
"baiklah Pa aku akan menerimanya,terima kasih atas semua yang Papa berikan padaku" ucap Maira.
"itu tidak seberapa sayang..." ujar Papa Ikbal.
Dan kini mereka bersepakat untuk mengelola perusahaan baru oleh Maira dan di bantu oleh Sandi dan Fariq,bagaimana pun Fariq juga mengerti cara berbisnis karena dia pernah membantu perusahaan mendiang kakek nya.
Kini Maira dan Fariq pulang kerumahnya,di perjalanan Maira meminta pada Suaminya untuk berkunjung ke rumah panti karena dia ingin bertemu dengan anak-anak.
Sesampainya di rumah panti,Maira dan Fariq di sambut oleh Bu Lastri yang sedang menanam bunga di depan halaman rumah.
"bagaimana bu anak-anak mereka tidak nakal-nakal?" tanya Maira ketika mereka sudah berada di rumah.
"alhamdulillah nak mereka anak-anak yang baik,oh ya ibu ada kabar gembira untuk kalian" ucap Bu Lastri.
"kabar gembira apa bu?" tanya Maira penasaran.
"Alif dia mendapatkan nilai yang sangat bagus,di kelasnya dia mendapatkan nilai tertinggi" jawab Bu Lastri kegirangan.
"alhamdulillah...Maira juga ikut senang bu"
"dan ada lagi,Abdul mendapat bea siswa di sebuah universitas"
"mereka anak-anak yang tekun bu,Abdul ngambil jurusan apa bu?" tanya Fariq.
"katanya dia ambil jurusan akuntansi" jawab Bu Lastri.
"bagus dong kita bisa merekrut dia" ujar Maira yang membuat Bu Lastri mengerutkan keningnya,"jadi gini bu kami baru saja pulang dari rumah Papa Ikbal dan dia akan mendirikan perusahaan untuk Maira kelola" jelas Fariq.
"alhamdulillah neng...Ibu ikut senang nak Fahmi juga pasti dia senang saat mendengarnya" ujar Bu Lastri.
"iya bu tapi,ini amanat terberat buat aku Bu" lirih Maira.
"kenapa neng kamu gak sanggup?" tanya Bu Lastri.
"bukan itu bu hanya saja Maira sedikit takut" jawab Maira.
Fariq menggenggam tangan Maira lalu dia mencoba menenangkannya," jangan takut sayang ini kesempatan terbesar kamu,bukannya kamu ingin membangun rumah panti lebih besar lagi,aku tahu apa yang dimaksud Papa mu,semua ini bukan hanya untuk kamu tapi untuk semua,kalau kamu sudah mengelola perusahaan mungkin kamu juga bisa membantu kehidupan di rumah panti dan yang tadi kamu bilang ingin merekrut Abdul itu hal bagus sayang bukan hanya Abdul tapi yang lainnya kamu bisa memperkerjakan mereka jika mereka sudah beranjak dewasa,bukan itu cita-cita kamu!" jelas Fariq.
Maira pun mulai paham apa yang di jelaskan suaminya,dia sangat berterima kasih pada Papa nya,dan Maira akan bekerja keras untuk apa yang di cita-cita kan selama ini.
"makasih sayang...aku harap bukan hanya aku tapi kita sama-sama berjuang untuk anak-anak panti" ujar Maira.
"tentu sayang keinginanmu keinginanku juga".
...****************...
Di kantor Papa Ikbal sedang mengadakan meeting bersama para karyawannya dan mengumumkan kalo Papa Ikbal akan mendirikan perusahaan cabangnya yang akan di kelola oleh putrinya,sekaligus meminta para karyawan membantunya.
Setelah Papa Ikbal menyelesaikannya dia akan beristirahat untuk tidak ikut campur dalam urusan perusahaan.
"Pa..." sapa Sandi ketika Papa Ikbal sedang menyendiri di ruang meeting.
"ada apa?"
"makasih Papa sudah mempercayakan perusahaan pada ku tapi kenapa Papa tidak membiarkan Maira mengelola perusahaan cabang kita?" tanya Sandi.
Papa Ikbal menjawab," sengaja Papa tidak memberikannya karena Papa Mau Maira belajar dari nol".
"tapi kan Pa, Maira akan cepat mengerti jika memegang perusahaan yang sudah berjalan" ujar Sandi.
"tidak nak,Papa mau Maira bekerja lebih keras lagi karena Papa yakin dia akan sanggup menjalankan perusahaan yang dirintis dari nol" jelas Papa Ikbal.
"ya Sandi ikut saja apa kata Papa"
"itu sudah seharusnya"
"lalu apa rencana Papa selanjutnya?" tanya Sandi.
"setelah perusahaan Maira sudah didirikan,Papa akan beristirahat dan di temani dengan cucu-cucu Papa,sekarang tenaga Papa sudah tidak muda lagi"
"iya itu lebih baik Pa".
"Papa titip Adikmu kalau Papa sudah tiada,Papa ingin kalian selalu rukun dan damai,jangan pernah tinggalkan dia walau keadaan apa pun" pesan Papa Ikbal.
"iya Pa,Sandi akan mengingat terus pesan Papa,lagian Maira adalah saudara Sandi satu-satunya" ujar sandi.
"Papa percaya padamu nak".
Kembali ke rumah panti,Maira dan Fariq berniat untuk menginap,Fahmi yang begitu senang sampai membeli sesuatu untuk di makan bersama-sama dengan Maira dan Fariq.
"wah...ini kesukaan Maira kak" ucap Maira kegirangan.
"iya dik...kakak sengaja beli karena kakak mau kita mengenang masa kecil kita" ujar Fahmi.
"iya...ya dulu waktu ibu sama bapak sering membelikan makanan ini" tutur Maira dan Fahmi pun tersenyum senang karena adiknya masih mengingat kenangan bersama kedua orang tua angkatnya.
"sayang...kamu pernah makan makanan kaya gini?" ucap Maira pada suaminya sambil menyodorkan sepiring berisi makanan yaitu semur jengkol.
Fariq menggeleng,"itu kan jengkol!" ucap Fariq sambil menutup hidungnya.
"iya ini jengkol,coba deh cicipi ini enak lho" ujar Maira.
"enggak ah itu kan bau" ucap Fariq.
"tapi enak kok...ni aku juga makan" ucap Maira sambil memakan jengkol itu dengan lahap.
"aku gak nyangka istriku suka makan jengkol" ucap Fariq.
"jengkol kan makanan yang enak dan dapat mencegah penyakit kanker" jelas Maira.
"iya sih tapi aku gak suka".
Fahmi tersenyum melihat Maira memakan jengkol yang dia belikan di dekat rumah,"pelan-pelan Mai..." ucap Bu Lastri.
"iya bu Abisnya Maira kangen makanan ini,semenjak nikah Maira belum pernah makan ini lagi" ucap Maira.
"makannya Kakak beli ini karena kakak yakin Fariq aja baru tahu kalo istrinya penikmat makan jengkol" kekeh Fahmi.
Fariq pun tersenyum,"nanti kalo sudah makan kumur-kumur dengan penyegar mulut biar tidak bau" bisik Fariq pada Maira.
bersambung....