
Hari menjelang pagi,di rumah Fariq mereka mengawali dangan sarapan,mereka menikmati masakan Maira.
"kerinduanku sekarang sudah terbayar" ucap Fahmi.
"maksudnya?" tanya Fariq tidak mengerti.
"aku baru makan lagi masakan adikku setelah kau membawanya pergi" ujar Fahmi.
ketiga orang itu pun tersenyum,"kakak boleh setiap hari datang kesini untuk makan bersama kami" ujar Maira.
"makasih adikku yang cantik...tapi tak kalah enaknya juga masakan istriku yang hampir mirip sama selera ibu" Ucap Fahmi memuji istrinya.
"oh ya...nanti kalo aku datang ke panti kakak juga harus memasak buat aku" ucap Maira.
"tentu dong...ngomong-ngomong kapan ke panti lagi?" tanya Rahmi.
"gak tahu,nanti kalo ada waktu luang"
"kakak tunggu ya..."
"ok...."
setelah sarapan Fariq pamit bekerja sedangkan Fahmi dan Rahmi pamit untuk pulang,kini Maira berdua di dalam rumah bersama Dzakir karena baby sister nya Dzakir sedang ijin untuk keluar rumah.
Maira duduk di sofa yang berada di ruang tengah,dia melihat tingkah laku putranya yang semakin lucu dan menggemaskan.
tiba-tiba saja bel berbunyi,Maira langsung membuka pintu,terlihat Lea yang sudah berdiri di depan pintu.
"assalamualaikum" ucap Lea.
"waalaikumsalam" jawab Maira.
"Mba Lea ayo masuk" ajak Maira.
Lea pun masuk dan Maira mempersilahkan duduk pada Lea,"duduk mba".
"kapan mba datang?" tanya Maira.
"kemarin Mai,apa kabar kamu?"
"alhamdulillah aku baik,mba sendiri?"
"aku juga baik,oh ya Mai...aku kesini mau ngasih ini" ucap Lea sambil memberikan kertas undangan pernikahan.
Maira mengambilnya dan mengernyitkan keningnya,"mba mau menikah?" tanya Maira terkejut.
"iya Mai...datang ya"
"insya allah mba,oh ya apa Cahaya sudah tahu?"
Lea menunduk,"mba kenapa?" tanya Maira.
"Cahaya belum bisa menerimanya Mai..." lirih Lea.
"yang sabar ya,nanti Cahaya juga akan mengerti kok,sebaiknya jalani saja yang ada" Maira mencoba menenangkan Lea.
"kamu mau bantu kan untuk menasehati Cahaya"
"aku pasti bantu,jangan khawatirkan Cahaya aku yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja"
"makasih ya Mai"
"tu..wa..tu...wa", tiba-tiba Dzakir datang menghampiri.
"hai...boy kamu sudah bisa jalan" ucap Lea sambil menggendong Dzakir.
"Mai..timbangan Dzakir berapa sih berat banget?" tanya Lea.
"12 kilo mba"
"wah Dzakir mau nyusul kak Cahaya ya..."
"sekarang Dzakir gak takut lagi sama aku,kalo waktu kecil pasti dia nangis kalo aku gendong" lanjut Lea.
"sekarang lagi aktif,semua barang yang ada suka di berantakan" ujar Maira.
"oh ya Mai...aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah panti,apa mereka pada sehat?"
"alhamdulillah sehat,semalam kak Fahmi dan kak Rahmi menginap di sini"
"oh ya...aku telat datang kesini,kalo lebih awal aku bisa bertemu mereka dulu,salam untuk semuanya ya"
"ya nanti aku sampaikan"
setelah berbincang begitu lama,Lea pun pamit untuk pulang,"Mai...makasih ya kamu sudah mau menerimaku sebagai teman,kamu dan Riana wanita yang terhebat yang aku kenal"
"tentu saja Mai..."
"tapi sebelumnya aku minta maaf,apa Fariq baik-baik saja?"
"kenapa harus meminta maaf,alhamdulillah kak Fariq baik"
"syukurlah,aku sangat senang sekali Fariq bisa kembali lagi bersamamu"
"kalau begitu aku pulang,jangan lupa datang ya,karena aku tidak mengadakan pesta besar-besaran hanya keluarga dan kerabat yang di undang"
"ya doakan saja,semoga aku bisa menghadiri pernikahan mba"
Maira dan Lea pun saling berpelukan,"hati-hati di jalan ya" ucap Maira sambil melepaskan pelukannya.
"iya Mai...aku pergi ya..dah..." ucap Lea sambil melambaikan tangannya,dan Maira pun masuk lagi ke dalam rumah.
di kediaman Papa Ikbal,Riana sangat mencemaskan Cahaya karena sedari tadi Cahaya mengunci pintu dari dalam kamar.
"nak...buka dulu pintunya,Mommy mau bicara sebentar saja" ucap Riana sambil mengetuk pintu.
"ada apa ana?" tanya Papa Ikbal yang sudah berada di belakang Riana.
"ini Pa...Cahaya mengurung diri di kamar" jawab Riana.
"Cahaya ini kakek,ayo buka pintunya nak..."
tidak ada jawaban dari dalam sana,Riana semakin khawatir dengan keadaan Cahaya.
"ada apa ini...." tiba-tiba terdengar Suara Sandi,dan keduanya menoleh.
"sayang kamu sudah datang,ini Cahaya gak mau keluar aku takut dia kenapa-napa" jawab Riana.
"iya Papa juga sudah mencobanya tapi tetap saja tidak di buka" ucap Papa Ikbal.
"awas biar ku dobrak saja"
Sandi pun berusaha mendobrak pintunya tapi tidak berhasil,dan dia mencoba lagi akhirnya untuk yang kedua kali pintunya terbuka.
braak....
Sandi melihat anaknya sedang terbaring di kasur,dia mendekati Cahaya yang sedang segukan sambil mata terpejam.
"dia sepertinya tidur" bisik Sandi pada Riana.
"ya sudah sebaiknya kita keluar lagi,biarkan dia istirahat" ajak Riana dan mereka pun keluar.
Papa Ikbal,Sandi dan Riana sedang berada di ruang keluarga,"sebenarnya kenapa dengan Cahaya,tidak biasanya dia seperti itu"
Riana tertunduk membuat Papa Ikbal dan Sandi merasa sedikit heran," kenapa sayang?" tanya Sandi.
"maafkan aku Mas,bukan maksud aku menahan Cahaya tapi aku tidak mau dia pergi" tutur Riana.
"apa maksud kamu sayang...?"
"tadi Lea datang kesini,dia ngasih tau kalo dia akan menikah,dan Lea berkata kalo sudah menikah dia akan membawa Cahaya,tapi aku memohon padanya untuk tidak membawa Cahaya,tapi tiba-tiba saja Cahaya marah dan dia langsung mengunci pintu kamar" jelas Riana.
"sudahlah ini bukan salahmu,kita akan bicarakan lagi dengan Cahaya,sebaiknya kamu istirahat saja karena aku gak mau kamu stres,ingat pesan Fariq kalo kamu jangan terlalu banyak Pikiran"
"iya sayang,tapi kamu harus bujuk Cahaya ya"
"iya aku akan berusaha membujuknya"
Riana pun pergi ke kamarnya,sedangkan Sandi dan Papa Ikbal masih ingin mengobrol.
"lihat apa yang dilakukan perempuan itu,dia sekarang mau merampas lagi kebahagiaan menantuku" ketus Papa Ikbal.
"Pa...kalau menurut aku hal yang wajar bagaimana pun Lea adalah Ibu kandungnya,kita tidak bisa melarangnya" tutur Sandi.
"memang benar,tapi siapa bilang harus mengandung anak dari lelaki yang sudah beristri"
"Pa...bisa gak untuk tidak membicarakan ke hal ini"
"kenapa ?"
"Sandi gak mau mengingat masa lalu yang kelam itu"
"bukan maksud Papa seperti itu,Papa hanya mengingatkan untuk tidak mengulangi hal bodo semacam itu,karena di diri Papa tidak ada kata khianat untuk seorang perempuan yang Papa cintai"
Sandi pun terdiam,dia mengakui kalo Papa nya adalah lelaki yang menjunjung kesetiaan,tidak pernah terdengar olehnya kalo Papa Ikbal bermain dengan perempuan mana pun.
bersambung....