
maira sudah sampai di rumah dia lansung menuju dapur mengambil air minum,bayangan lea tadi masih berada di fikirannya dia tidak menyangka kalo lea menemui suaminya.
sedangkan fariq mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan keselamatan dirinya,di fikirannya sekarang bagaimana membuat maira percaya akan penjelasannya.
setelah tiba di rumah fariq langsung masuk dia mencari maira ke ruang tv dan dapur tapi maira tidak ada,mata fariq mengarah ke pintu kamar, saat fariq membukanya maira juga tidak ada,fariq bingung karena maira tidak ada diruangan mana pun,tapi hanya satu ruangan yang belum dia masuki,fariq melangkah menuju kamar kakeknya saat fariq membuka pintu terlihat maira sedang duduk dibalkon membelakangi pintu kamar.
"kenapa cucu kakek jahat...kenapa terus-terusan dia melukai hati maira..." isak maira,fariq pun sedih mendengar pengaduan maira ke poto kakeknya.
"kalau kakek masih ada,pasti kakek yang akan membela maira...maira mau kak fariq di jewer..."
fariq tersenyum mendengar celotehan istrinya.
"kakek tau gak...kadang kalo lagi kaya gini,rasanya maira pengen pulang ke panti, maira kangen sama orang-orang panti,maira mau buat kak fariq tersiksa karena maira gak ada disini" ucap maira masih sambil menangis.
fariq meraba dadanya terasa sesak mendengar hal itu,fariq langsung memeluk maira dari belakang.
"jangan...jangan tinggalkan aku,aku gak bisa hidup tanpamu sayang..." ucap fariq lebih erat memeluk istrinya.
"kak fariq mendengar ucapan maira?" tanya maira.
"semuanya...aku mendengar semuanya..." jawab fariq.
sekarang posisi fariq berjongkok dihadapan maira ," kalo kamu mau,kamu boleh jewer telinga aku" fariq mendekatkan tangan maira ke telingnya tapi maira menepisnya.
"sayang...maaf ya kalo aku menyakitimu tapi aku tidak berbuat apa-apa seperti yang ada di fikiranmu...lea tadi datang ke kantor ada sesuatu yang harus di bicarakan tentang keselamatan rumah tangga kita"
"maksudnya?" tanya maira tidak mengerti.
"iya...tadi lea bilang,kalo karin mengajak lea untuk membuat hubungan kita hancur,tapi lea menolaknya karena dia tidak mau membuat kesalahan lagi...makannya lea memberi tahuku agar kita waspada terhadap karin..."jelas fariq.
"kenapa sih masih seputar karin? kita sudah tenang,tapi kenapa tiba-tiba dia muncul lagi?"tanya maira kesal.
"aku tau sifat karin,dia orangnya ambisius" ucap fariq.
"seharusnya kakak bertindak jangan sampai dia mengganggu kita lagi" pinta maira.
"aku tidak bisa melakukannya sendirian aku butuh bantuan gilang" ujar fariq.
"kenapa tidak menghubunginya?"
"aku sudah mencoba tapi dia susah di hubungi seperti di telan bumi"
"kalo aku yang bantu?" tanya maira sampai membuat fariq terdiam.
"apa kamu yakin?" fariq balik tanya.
"ya sudah...kalo begitu kita akan berjuang bersama" fariq pun penuh dengan keyakinan.
di rumah sakit sandi sedang berada di kamar riana dia di suguhkan dengan pukulan,jeweran dan ocehan seorang lelaki paruh baya berumur 60 tahunan,tapi kondisinya sangat bugar...
"dari mana saja kau..." sambil memukul ringan badan sandi dengan sebuah map.
"aduh...pah..sakit..." rengek sandi.
"dasar...anak bodoh...anak tidak pandai bersyukur..." ucap lelaki itu.
papah ikbal namanya,dia adalah orang tua tunggal sandi,dia tinggal di luar negeri karena tuntutan perusahaan.
"kenapa kau tinggalkan istrimu sendirian?" tanya papah ikbal setengah berteriak.
"aku ada urusan pekerjaan sebentar,lagian tadi maira menemaninya disini" jawab sandi
"siapa lagi maira...apa dia simpanan mu yang baru?"...
"papah...jangan asal bicara,maira istri salah satu dokter disini suaminya teman sandi" jelas sandi.
"kamu sih sukanya main cewek,sudah punya istri masih main cewek" ucap papah ikbal yang membuat sandi kesal.
"cukup pah...sandi tau sandi salah tapi tolong jangan ungkit masalah itu lagi" pinta sandi.
"tapi papah gak suka sama cara kamu itu,kamu terlalu menyepelekan perasaan orang,papah, riana kami terluka dengan sikap kamu,seharusnya kamu lebih menghargai kalau riana rela meninggalkan keluarganya demi kamu..."
sandi terdiam lalu dia melihat kearah istrinya yang sedang menangis,sedari tadi dia menyaksikan mertua dan suaminya bertengkar.
"cukup pah...ini rumah sakit lagian papah sudah buat riana menangis" ucap sandi.
papah ikbal melihat kearah menantunya dan menghampiri riana,"maafkan papah sayang...papah sudah membuat istirahatmu terganggu yang papa lakuin ini hanya memberikan hukuman kepada anaknya".
papah ikbal menjauh dari riana dan duduk di sofa,dia melihat sebuah dompet terjatuh dan sudah terbuka saat dia memegang dompet itu matanya membulat melihat poto keluarga yang terselip disana.
"sandi...ini dompet siapa?
sandi menghampiri papahnya dan melihat isi dompet yang di berikan,sandi pun kaget seperti papahnya,"mamah...." ucap sandi.
sandi mengambil dompet itu dan mengeluarkan semua isi dompet dan menemukan kartu identitas," maira...ini punya maira..."
sandi dan papahnya masih tidak menyangka kalo takdir akan mempertemukan mereka bertahun-tahun lamanya mereka mencari keberadaan keluarganya.