
lea sedang menemani cahaya bermain dari kejauhan karin memperhatikan keduanya,rahmi melihat hal itu langsung menghampiri karin.
"hai...kenapa tidak ikut gabung?" tanya rahmi.
karin menjawab," aku tidak mau merusak suasana mereka".
"apa aku boleh mengenalmu lebih jauh,mungkin saja kita bisa berteman" ujar rahmi.
karin melihat rahmi tidak percaya kalo wanita disisinya ingin berteman dengannya.
"terima kasih...dengan senang hati,tapi hari ini juga aku harus pergi karena ada urusan yang lain" jelas karin.
"ehm...tapi yakin kamu baik-baik saja?"
"ya aku baik-baik saja..."
di rumah panti,semua orang berkumpul termasuk karin,fahmi mengumumkan kalo hari ini cahaya akan ikut ayah kandungnya,jadi mereka mengadakan acara kecil-kecilan.
tidak lama kemudian,maira dan sandi datang anak-anak pun menyambut kedatangan kakaknya.
sandi melihat lea sedang memangku cahaya yang tertidur di pelukan ibunya,maira juga sadar akan kehadiran lea ditengah kelurganya.
"hai...apa kabar..."sapa maira pada lea.
"aku baik-baik saja,lama tak bertemu maira..." ucap lea.
"iya...sepertinya cahaya sudah mulai dekat ni..." ujar maira.
lea tersenyum," terima kasih...kalo bukan karenamu mungkin dia tidak akan seperti ini"
maira juga melihat karin lalu dia melempar senyuman pada karin.
"oh ya...aku mau menyapa karin dulu,eh iya...apa kalian sudah saling menyapa?" tanya maira pada lea.
"sudah...tadi kami sempat ngobrol" jawab lea.
"baiklah..." maira pergi menghampiri karin yang sedang duduk menyendiri.
"hai...bagaimana kamu betah disini?" tanya maira pada karin.
"lumayan...kebetulan aku ingin berbicara berdua denganmu" ucap karin.
"boleh..."
"tapi tidak disini..." ucap karin.
"kita dikamar saja..." ajak maira.
mereka pun masuk kedalam kamar,fahmi yang memperhatikan merasa ada yang tidak beres.
"maira...dari kemarin aku memikirkannya",ucap karin yang sudah berada dikamar bersama maira.
"tentang...?" tanya maira.
"aku harus pergi..." jawab karin.
"kamu kan sudah bilang padaku kemarin..." ujar maira.
"kamu baik-baik saja kan?" tanya maira panik.
karin langsung masuk kekamar mandi...hoek...hoek...
maira menghampiri karin dan memijit leher belakang karin,"kamu sudah makan belum? mungkin kamu masuk angin".
setelah sudah enakan,karin dan maira keluar dari kamar mandi.
"kenapa kamu mengikutiku?" tanya karin ketus.
maira menjawab,"ya membantumu".
"apa kau tidak jijik?"
maira tidak menjawabnya sepertinya maira juga ingin muntah tapi dia bisa menahannya,
"kenapa kamu tidak bilang kalo lagi tidak enak badan?" tanya maira.
"aku tidak tahu,sudah satu minggu merasa mual tidak nafsu makan,setiap keluar dan terkena matahari aku merasa pusing" jawab karin.
maira pun merasa ada yang aneh saat mendengar penuturan karin sama persis seperti rahmi.
"sebaiknya kamu istirahat..." maira pergi keluar dan berbaur dengan keluarganya.
didalam kamar karin masih heran dengan keadaan tubuhnya yang akhir-akhir ini merasa tidak baik,dia mengingat-ngingat kalo dua bulan terakhir dia tidak datang bulan.
karin memegang perutnya yang datar," apa aku...tapi tidak ..ini tidak boleh terjadi..." karin membuang jauh-jauh fikiran itu dan membaringkan tubuhnya di kasur.
diteras depan rumah panti,sandi dan lea sedang mengobrol,tampak serius obrolan mereka.
"mas...aku ikhlas membiarkan cahaya bersamamu,karena aku merasa tidak mampu untuk memberikan kehidupan untuknya"
"maafkan aku lea,aku tidak bisa menepati janjiku,aku sudah mencampakkan mu aku sudah menghancurkan masa depanmu,aku memang lelaki bejat..." ucap sandi merasa sangat bersalah dengan keegoisannya.
"dulu kamu sangat ingin memilikiku,tapi sekarang aku baru sadar itu hanya ambisi bukan cinta..." ujar lea.
"maafkan aku lea...." lirih sandi.
"aku juga minta maaf,karena membuat istrimu tak berdaya,aku sudah membuat kesalahan yang tidak bisa di maafkan,tapi sebagai ganti dari permintaan maaf dariku,aku membiarkan cahaya berada di kehidupan kalian nanti".
"terima kasih lea..." sandi menggenggam tangan lea.
maira menghubungi fariq,dia menceritakan keganjalannya pada karin,bu lastri mendengar hal itu.
saat maira menutup panggilannya,bu lastri menghampiri dan berkata," ibu yakin dia hamil".
maira kaget," ibu..."
"neng...kita test saja pakai test pack buat kepastian karena ibu yakin temanmu itu hamil" saran bu lastri.
"iya bu,maira juga berfikir seperti itu tapi apa dia mau menerima saran kita?"
maira diam dia tidak tahu soal karin yang sebenarnya,"nak...kita bujuk saja wanita itu..." ajak bu lastri.
maira dan bu lastri sudah bersama karin,maira menjelaskan kekhawatirannya pada karin dia membujuk karin untuk menjalani tes,awalnya karin menolak tapi dengan penjelasan maira dan bu lastri,karin pun menyetujuinya.