Humaira

Humaira
Cahaya Pagi



Pagi belum begitu ramai. Gerungan beberapa motor yang lewat menyemarakkan pagi di kampung haji Bengkok. Biasanya setiap Rabu pagi ummi sudah rapih. Jadwal taklim padat untuk setiap Rabu.


"Assalamualaikum ..."


"Walalakum salam warahmatulloh"


Ummi terjaga dari lamunannya. Ada suara salam di depan pintu. Biasanya suara bu Mumun. Bu Mumun rajin mampir. Hari ini jadwalnya taklim di mushollah Al-Abror. Buru-buru ia menyeka airmatanya. Lamunannya buyar. Kenangannya bersama suami tersayang putus, melayang.


Ummi bergegas menuju pintu. Di bukanya pintu dan benar, bu Mumun. Bu Kumun langsung senyum. Usianya sudah tidak lagi muda. Pensiunan guru SMA di Rempoa, Jakarta Selatan. Tetapi wajahnya seolah lebih muda dari usianya. Mungkin itulah hikmah menjadi guru.


"Ayo, sudah jam delapan. Lupa kalau pagi in ada taklim? Bu Mumun mengajak ummi untuk berangkat taklim. Ummi menimpalinya dengan senyuman.


"Tunggu sebentar ya, bu Mumun. Masuk deh"


Ummi menyilakan sahabatnya itu duduk. Ia sendiri masuk kamar. Ganti pakaian. Hari ini spesial, hari ulang tahun pernikahannya. Ia mengenakan baju pemberian almarhum. Kado terakhir yang dihadiahi untuknya. Tepatnya, tiga tahun lalu. Setelah merias dan bercermin sebentar, ia keluar kamar. Sambil menuju pintu keluar, ia ambil alma'surat yang tergeletak di lemari buku.


Baru saja mengunci pintu, ada suara salam kembali.


"Assalamualaikum ...." suara yang juga sangat familiar. Tidak asing bagi ummi. Bu Fatimah, istri pak RT.


"Walaikum salam warahmatulloh ...." bersamaan mereka menjawab salam. Kompak.


Ummi membiasakan diri menjawab salam dengan melebihi salam yang diucapkan lawan bicaranya. Menjawab salam adalah wajib. Lebih baik lagi jika menjawabnya lengkap atau lebih dari yang mengucapkan salamnya. Ustadzah Zubaidah mengajarkannya.


"Saya kira bu RT sudah jalan duluan" bu Mumun membuka percakapan.


"Tadinya sih mau lebih pagi. Kasihan bu Suryani tidak ada yang membantu menyiapkan konsumsi" jawab bu RT lugas.


Suara sholawatan sudah terdengar. Sayup tapi merdu. Suaranya bu Hamidah. Mirip banget suara Nisya Sabyan. Ibu muda jebolan pesantren di Cirebon. Taklim selalu dimulai dengan sholawatan tanda panggilan untuk para ibu. Mereka bertiga mempercepat langkah kaki.


Mushollah Al Abror sudah penuh anggota majelis taklim. Ustadzah Zubaidah sudah hadir. Ustadzah selalu disiplin soal waktu. Ritual menjelang tausiyah biasanya lebih dari satu jam. Sholawatan, pembacaan surat Yasin dan Waqiah. Setelah itu baru tausiyah dari ustadzah. Kali ini ustadzah Zubaidah yang menyampaikannya. Gilirannya di taklim ini.


"Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakaaaaatuh" salam pembuka tausiyah gaya khas ustadzah.


"Walaikumsalam Warahmatulloh Wabarakaaaatuh" jawaban jamaah taklim.


"Tumben dah ah kagak kompak" logat betawinya medok sekali. Diulanginya salam pembuka. Trik supaya jamaah fokus. Tahu senditilah kalau ibu-ibu sudah kumpul. Suara bom kalah.


"Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakaatuh ....."


"Waalaikumsalam Warahmatullohi Wabarakaaatuh ....." serentak dan kompak jamaah menjawabnya. Langsung fokus. Suara obrolan terhenti.


"Ibu-ibu sudah denger belum? Beritanya lagi heboh ..!"


Serentak jamaah menjawab : "Belum ...."


"Punya hape jangan cuma buat curhatan saja. Gibah dibanyakin. Hati-hati ibu-ibu. Gibah seperti apa ?" Tanya ustadzah


"Makan bangkai saudaranya, bu ustadzah" jawab seorang ibu, nyeplos.


"Nah itu tahu. Tapi kenapa kita terus saja melakukannya? Sekarang gibah sudah tidak perlu nenangga. Lewat whatapps saja. Jangan sampai jari-jari kita jadi jalan menuju neraka ya ibu-ibu"


Jamaah angguk-angguk kepala sambil senyum malu. Fenomena baru, gibah via hape. Jaman milenial.


" Saya mau cerita nih. Tahu kan negara China? Sekarang diganti namanya jadi Tiongkok. Tahu kagak ibu-ibu?"


"Tahuuuuuu ......"


"Nah apa yang sedang dialami China bulan kemaren?"


Jamaah saling tengok. Memandang satu sama lain. Ada yang sudah paham. Aaa juga yang bertanya.


"Di akhir zaman nanti akan banyak musibah berupa bencana, gempa bumi, gunung-gunung pada meletus, dan wabah penyakit. Semua sudah banyak terjadi, kan ibu-ibu. Nah, sekarang di China, provinsi Wuhan tepatnya sedang diserang wabah. Nama wabahnya Virus Wuhan. Warganya sudah lebih dari seribu orang yang meninggal. Ibu-ibu, kita sebagai orang yang beriman harus percaya bahwa ujian datangnya dari Alloh. Tapi kita juga harus ikhtiar sekuat tenaga untuk mengatasinnya" panjang bu ustadzah menjelaskan.


"Mudah-mudahan wabah virus Wuhan itu kagak sampai ke negara kita. Lah bisa berabe. Penduduk Indonesia tersebar di banyak pulau. Lebih sulit mengatasinya ketimbang China"


"Ayo ibu-ibu kita berdoa. Semoga doa kita diijabah oleh Alloh. Negara kita jangan sampai disetang wabah virus Wuhan, aamiin ..."


"Aamiiinn....." disambut serentak oleh jamaah.


"Namanya virus gampang sekali menyebar ibu-ibu. Jikalau negara kita juga kebagian diserang sama tuh virus Wuhan. Nasehat saya nih ibu-ibu. Ini firman Alloh ibu-ibu. Jika suatu wilayah terserang wabah penyakit maka ibu-ibu dan anggota keluarga berdiamlah di rumah. Jangan keluar. Apalagi dengan gaya sombong. Kita mah kecil, bu. Sekali serang tepar. Klepek-klepek. Almarhum dah"


"Jadi apa kita lakukan ibu-ibu kalau ada serangan wabah penyakit kaya virus Wuhan?" Tanya ustadzah menegaskan pemahaman jamaah.


"Tidak keluar rumah" jamaah serempak menjawab. Ustadzah menjelaskan sikap seorang muslim saat wabah nenyerang suatu wilayah. Jika terjadi seperti yang dikisahkan di zaman Rasululloh, maka pendufuk diminta untuk berdiam di rumah. Setiap muslim diminta untuk selalu ingat kepada Allah melalui dzikir. Bila perlu melakukan taubat. Menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan yang sehat dan halal.


"Ingat baik-baik dah, yah" ustadzah Zubaidah menutup tausiahnya.


Taklim ditutup dengan doa yang dipanjatkan langsung oleh ustadzah Zubaidah. Jamaah khusyu mendengarkan dan mengaminkannya.