
Waktu berjalan begitu cepat,Perusahaan Maira kini sudah berjalan sedikit demi sedikit,Maira yang sudah terbiasa dengan pekerjaannya sekarang dia lihai dalam mengelola perusahaan.
Begitu juga dengan Fariq,dia akan meluangkan waktunya datang ke perusahaan untuk mengecek berkas-berkas,dan kini pekerjaan Fariq bertambah selain menjadi dokter dia juga menjabat sebagai Wakil direktur perusahaan.
Tak kalah sibuk,Sandi yang sekarang ini memegang dua perusahaan sekaligus dan Riana dia memegang perusahaan Ayahnya karena dia adalah anak semata wayang,kini mereka sudah jarang bertemu dengan Maira dan Fariq saking sibuknya.
Sedangkan di rumah panti,dengan nuansa yang berbeda kini lebih luas dan bertambah anggota baru,bukan Hanya anak yatim piatu tapi anak tidak mampu seperti anak jalanan pun kini tinggal di panti.
Bukan hanya tempat tinggal tapi Maira juga mendirikan sebuah sekolah khusus bagi anak-anak yang tidak mampu,semua itu berkat bantuan Fahmi yang mengajar di sekolah tersebut.
Maira mendatangkan pengajar-pengajar yang hebat,al hasil anak-anak yang sudah lulus dapat bea siswa untuk masuk ke fakultas karena kepintaran dan keuletan mereka.
Tidak Hanya itu Maira juga merekrut anak-anak yang sudah lulus kuliah lalu ditempatkan di perusahaannya,ada juga yang ikut jejak Fariq tergantung kemampuan Mereka,bukan hanya Sekolah tapi Maira dan Fariq juga mendirikan sebuah klinik.
Keinginan Maira sudah tercapai berkat Papanya,dia mensyukuri apa yang sudah dia petik.
20 Tahun kemudian
"Dzakir..." panggil seseorang,dan Dzakir pun menoleh,Dzakir kini sudah dewasa dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan siap untuk bekerja menggantikan Umma nya.
Badannya yang tinggi,tegap dan wajahnya yang begitu tampan membuat para wanita berlomba-lomba untuk mendapatkannya,mirip seperti Fariq saat muda.
Hanya saja dia adalah anak tunggal namun bukan berarti dia harus bermanja-manja,karena mulai hari ini tanggungan ada di pundaknya.
Di sebuah acara Wisuda Fariq mendapatkan nilai tertinggi,yang membuat kedua orang tuanya bangga akan prestasinya.
Di tempat lain,Seorang wanita yang tengah hamil sedang memainkan laptopnya di ruang kerjanya,tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
tok...tok...
"masuk..." ucap wanita itu.
"bu cahaya ini berkas yang ibu minta" ucap salah seorang pekerjanya.
Ya dia adalah Cahaya anak Lea dan Sandi,kini dia juga bekerja di perusahaan milik Papi nya,dan dia menjabat sebagai direktur utama dan kini dia sudah menikah dan sebentar lagi dia akan melahirkan anak pertamanya.
Tidak hanya Cahaya namun anak laki-laki dari Sandi dan Riana pun kini sudah tumbuh besar,dan dia masih duduk di bangku kuliah yang nantinya akan menggantikan kedua orang tuanya untuk menjalankan perusahaanya.
Sandi dan Riana kini mereka mempunyai dua orang putra dan putri,keluarga mereka makin lengkap karena kehadiran calon cucu mereka,sedangkan Lea dia sudah meninggal karena kanker rahimnya ketika Cahaya berusia 17 tahun.
Dan keadaan di rumah panti kini semakin ramai walau tanpa kehadiran Bu Lastri sama seperti halnya Papa Ikbal dan Lea,mereka sudah pergi dan tak akan kembali,hanya Fahmi dan Rahmi yang mengelola semua keperluan anak-anak panti di bantu oleh putrinya yang kini sudah dewasa dan mengikuti jejak Ayahnya menjadi seorang Guru ditempat sekolah yang Maira dirikan.
Semua begitu cepat,waktu demi waktu mereka lalui,susah senang mereka selalu bersama,dan selalu mereka ingat pesan orang tua,bagaimana pun keadaannya harus tetap bersama.
Seorang wanita paru baya sedang duduk di sebuah kursi di taman miliknya sambil memegang sebuah poto keluarga.
Tiba-tiba seorang lelaki tua menghampirinya lalu duduk di sampingnya,di genggamnya tangan wanita itu,mereka saling menatap dan melempar senyuman satu sama lain.
"tak terasa kita sudah semakin tua" ucap Lelaki tua itu tak lain adalah Fariq karena wajahnya sangat jauh berbeda saat waktu muda karena bertambahnya usia.
"iya sayang,rasanya baru kemarin aku di persunting oleh mu" ujar Wanita paru baya dia adalah Maira.
Fariq memeluk istrinya,keromantisan keduanya tidak pudar walau dimakan usia,dan kini mereka hanya menikmati masa-masa tua bersama.
Di belakang mereka datang satu persatu Mulai dari Dzakir,Cahaya,Alif dan yang lainnya,mereka berkumpul di sekitaran taman,terpancar kebahagiaan di wajah mereka.
Dzakir menggenggam tangan Ibunya," Umma...kami akan selalu menjadi yang terbaik bagi Umma,kami adalah anak-anak mu kami tidak akan melepas genggaman kami walaupun badai datang menghantam" ucap Dzakir.
Maira pun tersenyum,dia sangat bahagia memiliki anak-anak yang begitu berbakti padanya,dia tidak membedakan kasih sayang yang dia berikan pada Dzakir atau yang lainnya karena mereka adalah titipan tuhan walau tidak lahir dari rahimnya.
Dan mereka berpoto bersama untuk kenang-kenangan yang akan di perlihatkan dan di ceritakan pada keturunan mereka.
......................
Kini Dzakir sedang duduk di sebuah kursi kebesarannya sambil melihat poto keluarga yang pernah dia ambil sewaktu orang tuanya masih hidup.
"Umma...Abi...aku merindukan kalian" lirih Dzakir yang memandang poto tersebut dengan senyuman.
Tamat
Author:Makasih untuk 2 bulan terakhir sudah menemani ku untuk membuat karya novel pertamaku like dan komentar kalian sangat berharga untukku,dan jangan lupa mampir ke karya novel ku selanjutnya," Cinta Setelah Berpisah" ditunggu ya...assalamualaikum.