Humaira

Humaira
Bab 104 Alif...



Fariq dan Maira telah sampai di kampung Alif,mereka sedang mencari rumah Alif dan mencoba bertanya pada warga setempat,setelah Maira menemukannya dia mengetuk pintu tok....tok...tok...


"assalamualaikum" ucap Maira tapi belum juga ada sautan,dia mencoba lagi mengetuk pintu tok...tok...tok... masih belum juga ada yang membuka.


"sepertinya dia tidak ada di rumah" ucap Fariq.


"iya...tapi kemana dia ya..." gumam Maira.


tiba-tiba seseorang menghampiri mereka,"bukan kah kalian orang yang di culik sama bang Gobang?"


Maira dan Fariq saling lirik dan bertanya kembali perihal Alif tidak ada di rumah,"maaf,rumah ini kok sepi ya,kira-kira kemana ya orangnya?" tanya Maira.


"oh...si Alif lagi di makam ibunya,kasian dia ayahnya di penjara,kakaknya tidak pulang-pulang jadi dia sendirian di sini" jelas orang itu.


"kalau boleh tahu kenapa bapaknya Alif bisa masuk penjara?" tanya Maira penasaran.


"waktu kejadian kemarin,semua anak buah bang Gobang di berantas sampai akarnya,ya bapak si Alif itu termasuk anak buahnya,tapi kami berterima kasih loh karena nona kampung kami alhamdulillah aman",setelah menjelaskan semuanya orang itu pun pergi.


sedangkan Maira dan Fariq mencari Alif,tapi waktu mereka berjalan terdengar suara panggilan seseorang yang Maira kenal.


"kakak..."


Maira dan Fariq mencari dari mana berasal nya suara itu,"kakak..." saat Maira mengedarkan pandangannya matanya tertuju pada seorang anak yang tengah berlari menghampirinya.


"Alif..." ucap Maira sambil tersenyum lebar.


"kak..."


"kamu dari mana?apa kamu baik-baik saja?" tanya Maira pada Alif.


Alif menunduk tandanya dia sedang tidak baik-baik saja,"Lif,cerita kan pada kami" ujar Fariq.


"bapak kak..."


"kakak tahu tentang bapak mu,dia masuk penjarakan?"


Alif mengangguk,dan Maira pun memeluk Alif yang sudah terisak menangis,"ternyata bapak adalah anak buah bang Gobang,namanya ikut terseret waktu penculikan suami kakak" lirih Alif.


"sabar ya...sekarang kita pulang ke rumah" Maira menenangkan Alif dan mengajaknya pulang.


setelah sampai di rumah Alif,dia menceritakan hidupnya setelah bapaknya masuk penjara,Maira dan Fariq pun merasa kasihan mereka mencoba membujuk Alif untuk tinggal di kota.


"kalau kamu mau kamu boleh ikut kami,kebetulan kakak mempunyai tempat yang lebih aman,kalo kamu ikut kakak kamu akan tinggal di panti asuhan milik orang tua angkat kakak,kamu bisa belajar dan berbaur dengan teman-teman sebaya mu" jelas Maira.


"tapi,bagaimana dengan bapak?"


"kita akan mengantarmu menemui bapak dan memberi tahu kalo kamu akan tinggal di panti" ucap Fariq.


"serius..."


Fariq pun menganggukkan kepalanya dan berkata,"kalo kamu siap kita pergi sekarang dan kemasi barang-barang mu".


"baik,tapi kenapa kalian baik padaku,bukan kah aku anak dari seorang penjahat" lirih Alif.


"ini tidak ada sangkutannya dengan bapakmu,anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih kakak karena kamu sudah membantu kakak,dan soal bapakmu kakak yakin dia punya alasan tertentu" jelas Maira.


"iya kak..."


"ayo kita bereskan bajumu,biar kakak bantu" ajak Maira.


setelah semuanya selesai,Fariq,Maira dan Alif pun pergi,semua para tetangga kebingungan melihat Alif sudah bersiap untuk pergi.


"Lif kamu mau kemana?" tanya tetangga Alif.


"aku mau ke kota,aku mau ketemu bapak" teriak Alif.


Maira dan Fariq pun menggelengkan kepala melihat tingkah laku Alif,dan kini mereka pun pergi menuju kota.


...****************...


"abisnya enak sekali mom"


"masakan mommy memang enakkan" ujar Sandi.


Papa Ikbal hanya tersenyum dan dia menyudahi makan malamnya,lalu dia pamit untuk pergi ke ruangannya,sesampainya di ruangan dia membuka ponselnya karena ada pesan masuk dari anak buahnya,ternyata kabar Maira membawa Alif sudah di ketahui nya,kini dia tinggal menunggu penjelasan anaknya.


"sebenarnya apa yang di lakukan Maira dan Fariq" gumam Papa Ikbal.


suara pintu diketuk tok...tok...tok...


"masuk..."


seketika knop pintu di putar dan apa yang Papa Ikbal lihat,Maira sudah berada di depan pintu," Pa..."


"kemarilah nak..." Maira pun masuk dia menghampiri dan mencium punggung tangan Papa nya.


"bagaimana kamu sehat sayang..."


"alhamdulillah Pa...oh ya Pa,ada yang harus dibicarakan"


"tentang?"


Maira mulai menjelaskan siapa Alif sebenarnya,dan Maira pun mengutarakan kalo Alif akan tinggal di panti asuhan,Papa Ikbal yang mengerti dengan niat putrinya langsung menyetujuinya,dan Maira pun mengajak Papa Ikbal untuk menemui Alif.


Alif yang berada di ruang Tamu pun berdecak kagum melihat rumah dan isinya,dia tidak berhenti berbicara," jika nanti aku sukses,aku akan membeli rumah yang lebih besar" ucap Alif,Fariq dan Sandi pun tersenyum.


"lif..."Maira memanggil Alif ketika dia sudah bersama Papa Ikbal.


"kenalkan ini Papa nya kakak,Pa ini Alif yang Maira ceritakan tadi"


Alif pun langsung mencium punggung tangan Papa Ikbal,sebagai tanda hormat.


"silahkan duduk"


Alif pun duduk kembali,"saya sudah mengetahui tentang kamu dari putriku,dan kami harap kamu akan betah tinggal di panti,sebaiknya kamu istirahat dulu besok kita akan pergi sama-sama ke panti,terlebih dahulu kita temui bapakmu" jelas Papa Ikbal.


"makasih pak..." ucap Alif.


"jangan panggil pak...panggil saja kakek..." ucap Maira.


"iy...iya kek..." ucap Alif ragu-ragu.


Maira dan Fariq sudah berada di kamar,mereka ingin melepas lelah karena seharian banyak sekali tugas yang harus mereka jalani,Fariq mencoba membuka ponselnya dia berharap ada kabar baik dari bibi dan Fariq melakukan panggilan.


"bagaimana dengan kondisi bibi sekarang?"


"...."


"baiklah kalo begitu,nanti aku hubungi lagi"


"..."


Fariq pun mengakhiri panggilannya,"bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Maira.


"masih seperti biasa" jawab Fariq.


"mudah-mudahan bibi cepat sembuh,aku merasa bersalah" lirih Maira.


Fariq memeluk istrinya dan berkata," jangan merasa bersalah,yang berlalu biarlah berlalu jangan sakiti perasaanmu sendiri,aku yakin bibi hanya kecewa pada Ratna"


"sekarang kita tidur,karena besok masih banyak yang harus kita kerjakan" lanjut Fariq,dan mereka pun tertidur,sedangkan Dzakir dia tidur bersama baby sisternya.


di kamar lain Sandi dan Riana sedang melakukan penyatuan,mereka begitu menikmatinya,Sandi selalu berusaha untuk bisa menanam benih di rahim Istrinya,dia tidak akan putus asa memberikan adik untuk Cahaya.


setelah selesai,Sandi pun terkulai lemas dia menatap Istrinya yang sudah di basahi keringat,"terima kasih sayang..." ucap Sandi.


"sama-sama sayang..." keduanya kini saling berpelukan,merasakan cinta kasih yang tidak akan pernah pudar lagi,"aku akan selalu mencoba dan mencobanya lagi" kekeh Sandi.