Humaira

Humaira
105 mengantarkan Alif



hari menjelang pagi,Maira dan Fariq sudah bersiap untuk mengantar Alif bertemu dengan bapaknya,tidak ketinggalan Papa Ikbal pun mendampingi mereka.


"Kak...aku titip Dzakir,nanti kalo urusan ku sudah selesai aku akan menjemputnya"


"pergilah,Dzakir akan bersama ku,tidak usah di jemput biar aku yang mengantarkannya" ujar Riana.


"kalo begitu aku pergi...sayang umma pergi ya..." ucap Maira sambil mencium kening anaknya.


di dalam perjalanan,Alif berdecak kagum karena dia melihat gedung-gedung yang tinggi,Maira yang duduk di sampingnya tersenyum.


"kak...,kalo aku besar nanti,aku akan bekerja di gedung-gedung tinggi itu" ucap Alif sambil menunjukkan ke sebuah gedung dengan bangunan tinggi.


"memangnya cita-cita kamu mau jadi apa?" tanya Maira.


"aku ingin seperti pak dokter" jawab Alif.


"kalo ingin seperti pak dokter kamu bekerja di rumah sakit" timpal Fariq.


"jangan hanya bekerja di gedung yang tinggi,tapi kamu juga harus bisa memilikinya,asalkan kamu rajin belajar,gigih dan tekun" pesan Maira.


"siap...."


Papa Ikbal yang mendengarnya tersenyum tipis,ternyata Alif mempunyai keinginan yang tinggi.


dan tidak terasa mereka sudah berada di ruang besuk tahanan,kini mereka sedang bersama Bapak Alif.


"kenapa kamu kesini?" tanya bapak Alif.


"Alif ingin bertemu bapak sekalian Alif meminta Ijin pada bapak,kalo Alif akan tinggal di panti milik Kak Maira" jawab Alif,seketika bapaknya melihat ke arah Maira.


"bapak tidak mengijinkan,sebaiknya kamu pulang,jaga rumah baik-baik" ujar bapak Alif.


"tolong pertimbangkan dulu,kalo Alif di kampung siapa yang akan menghidupinya,kami tidak tahu kapan bapak akan keluar dari sini,bapak jangan khawatir kami akan menanggung semu kebutuhan Alif dan dia akan mulai sekolah lagi" jelas Maira.


"iya pak...Alif ingin sekolah lagi,Alif punya cita-cita pak..." Alif memohon pada bapaknya.


bapak Alif terdiam dia masih enggan membiarkan Alif ikut bersama Maira.


"sudah sepantasnya Alif mendapatkan apa yang harus dia inginkan,jadi biarlah dia ikut bersama kami,seharusnya kamu bersyukur kami masih bisa membantumu walau kamu sudah membuat kesalahan pada kami" ujar Papa Ikbal.


bapak Alif menunduk,dia tidak berani mengangkat wajahnya saat Papa Ikbal berbicara.


"tolong...pikirkan masa depan Alif,kami akan menjaganya" Maira memohon pada bapak Alif.


"iya pak...ini kesempatan untuk Alif" rengek Alif.


"lalu dengan kakak mu?" tanya bapak Alif.


"kami sudah menitipkan alamat panti pada tetangga,agar kakak Alif bisa menemuinya di panti" Maira menjawabnya.


ternyata kemarin sebelum mereka meninggalkan kampung mereka menitipkan sebuah alamat pada tetangga jika kakak Alif sudah pulang.


"pergilah nak...gapai cita-citamu,maafkan bapak tidak bisa menjadi bapak yang baik,jujur bapak malu kamu datang kesini karena keadaan bapak begini"


"dan untuk kalian,aku juga minta maaf,aku hanya menjalankan tugas hanya untuk mendapatkan sesuap nasi,walaupun semuanya tidak akan merubah keadaan" tutur Papa Ikbal.


"kami sudah memaafkan mu,asal kamu tahu semua ini berkat bantuan Alif,dia yang membantu Istriku untuk membebaskan ku,aku juga tidak tahu kalo tanpa Alif apa sekarang aku bisa bersama Istriku lagi atau tidak" ujar Fariq.


"kalian sangat baik,terima kasih sudah membantu ku untuk menghidupi anakku,dan untuk kamu Alif,jaga diri baik-baik jangan pernah menyusahkan orang,belajarlah mandiri dan ingat jangan seperti bapak" pesan bapak Alif.


Alif pun memeluk bapaknya tangisan mereka pun pecah,"bapak juga jaga diri bapak baik-baik,kalo bapak sudah keluar nanti Alif akan menjemput bapak dan Alif akan buktikan kalo Alif akan sukses seperti orang lain" isak Alif.


Maira pun ikut menitikkan air mata,perpisahan sementara antara anak dan bapak,Maira juga yakin kalo Alif akan bersungguh-sungguh bersekolah.


Alif pun pamit pergi,"Alif pergi pak..." dan bapak Alip mengangguk dia langsung masuk lagi ke sel tahanan,bukannya dia tidak suka tapi dia sudah tidak tahan melihat anaknya pergi dan tinggal bersama orang lain.


setelah sampai di rumah panti,Maira di sambut oleh anak-anak yang mulai tumbuh besar,tak ketinggalan Bu Lastri dan Rahmi pun ikut menyambutnya.


Alif hanya berdiri di dekat pintu mobil saat melihat kedekatan Maira dengan anak-anak panti.


"lif...ayo" ajak Fariq,Alif pun mengikuti langkah Fariq.


kini mereka sudah berada di dalam,Bu Lastri membawa beberapa minuman dan makanan,"silahkan di minum pak...Fariq".


"makasih Bu..." ucap Fariq.


"Bu,kenalkan ini Alif dia penghuni panti yang baru" ucap Maira memperkenalkan Alif.


"selamat datang di keluarga barumu nak,mudah-mudahan kamu betah di sini" ujar Bu Lastri pada Alif.


Alif pun tersenyum dan berkata," Alif akan betah bu,apa lagi di sini Alif banyak teman".


"apa kamu tidak mau bergabung bersama mereka?" tanya Maira.


"mau kak,aku boleh kan ke sana?" Maira mengangguk sambil tersenyum,dan Alif pun berbaur bersama anak-anak yang lainnya dan kini mereka mulai berkenalan.


Maira yang melihatnya sangat bahagia,dan Papa Ikbal yang melihat wajah putrinya ikut bahagia juga.


masih di rumah panti,Papa Ikbal,Maira dan Fariq sedang mengobrol di teras panti,"kapan Alif mulai masuk sekolah?" tanya Papa Ikbal.


"secepatnya Pa...biar kak Fahmi yang mengurusnya" jawab Maira.


"Papa sangat menghargai niat kamu nak...kamu memang wanita berhati mulia" puji Papa Ikbal.


"jangan memuji ku berlebihan Pa...kita kan sesama manusia harus saling tolong menolong"


"kenapa aku ingin membawa Alif pergi,karena nasib Alif sama sepertiku dan Kak Fariq,kami sudah tidak mempunyai seorang ibu"


"jadi aku tidak akan membiarkan Alif tumbuh sendiri,aku akan mensuport nya agar dia bisa hidup lebih baik"


Papa Ikbal pun ikut merasakan apa yang pernah di alami anaknya,tidak mudah baginya hidup tanpa kedua orang tua.


"Papa janji sayang...akan menyekolahkan Alif sampai ke perguruan tinggi"


"benar Pa..."


"iya..."


"makasih Pa..." ucap Maira sambil memeluk Papanya,Fariq pun ikut senang," alhamdulillah semuanya sudah menjadi milik Alif".


Maira tidak bisa berkata apa-apa karena dia dikelilingi orang-orang sayang padanya,kini kebahagiannya semakin lengkap apa lagi dia kini bisa bersama lagi dengan Suaminya.


tiba-tiba saja Fahmi datang,"maaf apa saya mengganggu keharmonisan ini" goda Fahmi.


"kakak...baru pulang?" tanya Maira.


"iya dek...sejak kapan kalian datang?"


"lumayan lama..." jawab Papa Ikbal.


"bagaimana apa anak itu senang tinggal di sini?" tanya Fahmi pada Maira.


Maira menjawab,"lihat saja ke dalam,dia sedang mengobrol dengan yang lainnya".


"alhamdulillah..." ucap Fahmi.


Fahmi sudah tahu kedatangan Maira ke panti,karena Maira memberi tahunya terlebih dahulu sebelum mengantarkan Alif.


bersambung..