
Maira dan bibi kini sudah berada rumah Papah Ikbal,Maira yang sedang di kamar nya sedang memainkan laptop,sedangkan Dzakir sedang berada di pangkuan Papahnya bersama Cahaya.
setelah beberapa jam diam di rumah Papahnya,Maira hendak pamit untuk pulang,"kamu kenapa tidak menginap saja,kasian Dzakir lho dia pasti kedinginan karena udara malam", ucap Sandi.
"Maira harus pulang,soalnya Kak Fariq sebentar lagi akan pulang"ujar Maira.
"kenapa tidak hubungi Fariq saja agar dia datang kesini?" tanya Papah Ikbal.
"engga Pah,kasian kalo Kak Fariq harus kesini soalnya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan" Maira memberikan alasan.
"ya...baiklah Papah tidak bisa akan memaksa,hati-hati dijalan sayang" ucap Papah Ikbal.
Maira dan bibi pun pulang ke rumah,saat mobil hendak masuk sudah terparkir mobil Suaminya,bibi pun merasa tidak enak hati karena yakin di dalam hanya ada Fariq majikannya dan Ratna anaknya.
mereka melangkah ke rumah,Maira pun mengeluarkan kunci pintu rumah lalu membukanya,bibi tidak menyangkan kalo Maira membawa kunci serep.
setelah sudah berada didalam rumah Maira langsung masuk kedalam kamarnya,ada pemandangan yang sangat indah saat dia sudah berada di kamar nya,terlihat Fariq dan Ratna tidur bersama dengan satu selimut.
tapi wajah Maira biasa saja dia tidak menampakkan wajah kesal atau pun marah,malah dia bertepuk tangan prok...prok..."pemandangan yang sangat mengagumkan bukan?" pertanyaan Maira membangunkan Ratna.
"astaga...kenapa saya ada disini,kenapa dengan tubuh saya kemana pakaian saya" ucap Ratna saat melihat Maira sudah berdiri didepannya.
Maira pun mengambil pakaian Ratna yang sudah berserakan lalu melemparkannya pada Ratna,"cepat pakailah...aku akan menuntut semua apa yang kalian lakukan" ucap Maira.
Ratna pun cepat-cepat memakai bajunya dan dia langsung meninggalkan kamar Maira,setelah dia sudah berada di belakang pintu kamar,terlihat dia menyeringai licik "sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi,aku sudah punya bukti yang kau lihat sendiri"gumam Ratna.
Maira memastikan Ratna sudah benar-benar pergi,lalu dia mencoba menyadarkan Suaminya dengan memberi kayu putih ke hidung Fariq,tidak lama kemudian Fariq bangun dan melihat ke sekelilingnya dan berkata," pusing..."
Maira pun meminta Fariq untuk memakai kaosnya,"pakailah ini nanti masuk angin" titah Maira.
keesokan harinya diruang keluarga Maira mengumpulkan orang-orang yang tinggal di rumah,dan Fariq pun sengaja libur bekerja karena permintaan Istrinya karena ada hal yang harus dibicarakan.
"maaf...aku hanya ingin meminta keterangan dari Suamiku dan Art ku atas tindakan semalam mereka" ucap Maira.
orang berada di sana pun tidak mengerti dengan ucapan Maira termasuk Fariq,hatinya sangat tidak karuan.
"sebenarnya ada apa sayang?" tanya Fariq penasaran.
"semalam saat aku pulang dari rumah Papah aku mendapati kamu dan Ratna tidur dengan satu ranjang dan satu selimut,sebenarnya apa yang kalian kerjakan sampai harus tidur satu kamar?" tanya Maira yang membuat orang di sana melongo.
"apa? aku tidak melakukan itu dan aku tidak tahu kalo Ratna tidur bersama ku" ujar Fariq.
"apa kamu bisa menjelaskannya?" Maira meminta penjelasan Suaminya.
" waktu aku pulang,di rumah tidak ada siapa-siapa,karena kamu tidak ada dirumah jadi aku memutuskan untuk tidak keluar kamar itu saja tidak ada kejadian apa-apa,apa lagi bertemu dengan Ratna" jelas Fariq.
Maira manggut-manggut mendengar penjelasan dari Suaminya,"baiklah...sekarang giliran mu" ucap Maira sambil menunjuk pada Ratna.
Bibi dan Fariq tidak percaya dengan pengakuan Ratna,sedangkan Maira dia tetap tenang dan memberikan senyuman kepada Ratna.
"ehm seperti itu,apa benar sayang apa yang dikatakan Ratna?" tanya Maira pada Fariq.
Fariq menggeleng," jangan percaya sayang,kami tidak mempunyai hubungan apapun,aku sudah menjelaskannya padamu kemarin kalo aku tidak akan pernah mengkhianatimu" jelas Fariq dengan santai,karena dia tidak pernah melakukan hal itu dan dia yakin kalo Istrinya akan percaya padanya.
"kenapa harus berbohong bukan kah kamu menikmati setiap belaian ku" ucap Ratna yang membuat Fariq geram.
"jaga bicaramu" ucap bibi tiba-tiba.
"itu benar adanya bu..."
"hentikan Ratna" teriak bibi.
"bi..." panggil Maira.
"maafkan saya non..." ucap bibi melemah.
"baiklah karena semuanya belum jelas,sebaiknya kita saksikan ini" maira menutup seluruh tirai dan memutar sebuah vidio lewat laptop memakai infokus serasa sedang menonton layar tancap.
semua yang berada di ruangan sana merasa hati berdebar saat vidio sedang diputar,di dalam vidio itu terlihat Ratna sedang berada di kamar Maira dia sedang berjalan-jalan dan berakhir membaringkan tubuhnya di ranjang lalu dia pergi keluar kamar menuju dapur,dan membuatkan minum dengan memberikan serbuk putih kedalam air lalu membawanya ke kamar Maira dan menyimpannya di atas meja,lalu dia keluar lagi.
selang beberapa jam Fariq datang dia langsung masuk kedalam kamar dan pergi menuju kamar mandi,selang beberapa menit Fariq keluar dan menuju meja yang diatasnya sudah disediakan air yang di bawa Ratna lalu dia meminumnya tidak butuh waktu lama Fariq memegang kepalanya terlihat Fariq yang merasa pusing,lalu dia cepat-cepat membaringkan tubuhnya dan tertidur.
waktu beberapa menit Ratna masuk kedalam kamar Fariq lagi dengan cepat dia menggoyangkan tubuh Fariq al hasil tidak ada gerakan dan menandakan kalo Fariq sudah tidak sadarkan diri,tidak butuh waktu lama Ratna memulai aksinya,dia membuka kaos Fariq yang dikenakan,lalu dia juga membuka bajunya dan melempar kesembarang tempat seolah sudah terjadi sesuatu pada mereka,lalu Ratna tidur di samping fariq, sampai dua jam terlihat Maira membuka pintu.
vidio berhenti berputar,Ratna yang menyaksikan itu tidak berkutik ketakutan sekarang melandanya,sedangkan Fariq bernafas lega karena vidio itu membuktikan kalo dia tidak bersalah.
ternyata Maira memasang sebuah kamera tersembunyi di setiap sudut ruangan yang tidak diketahui siapapun semenjak kejadian yang menimpa Suaminya,terlihat jelas rekaman setiap orang melakukan aktivitas.
dan dia sengaja pergi untuk ke rumah Papahnya untuk memberikan keleluasan dalam aksi Ratna walau dalam hatinya rasa takut dan cemas begitu menghantuinya.
sedangkan bibi dia tertunduk lemah,badannya bergetar,dia tidak menyangka dengan sikap anaknya yang sudah sangat di luar batas.
"bagaimana dengan vidio itu,apa kamu masih ada alasan?" tanya Maira pada Ratna.
Ratna menyeringai,"puas...kamu sudah menjebak ku"
"apa...aku menjebak kamu,lalu apa yang kamu lakukan pada Suamiku,apa itu bukan jebakan?"
Ratna mengepalkan tangannya rasa marah pun dia tidak bisa menahannya lagi.
bersambung....