Humaira

Humaira
Bab 64 dor...suara tembakan



riana memasuki ruangan,dia melihat suaminya lemah tak berdaya dengan kepala di perban dan wajah yang lebam akibat pukulan.


riana mendekati sandi,seketika tangisnya pecah dia tidak bisa membendung air matanya,di genggamnya tangan sandi sambil diciumnya.


"sayang...bangunlah..." riana tidak menyadari kalo ucapannya tidak terbata-bata lagi.


"apa kamu tidak kangen aku baby..." ucap riana lagi sambil terisak.


"aku sangat mengkhawatirkanmu,aku takut kehilanganmu lagi..."


riana masih berbicara sendiri,tiba-tiba saja sandi membuka matanya dan yang pertama dia lihat adalah riana istrinya.


"ana..." sandi menyebut nama istrinya.


riana pun senang karena sandi sudah sadar.


"sayangku..." riana mencium kening sandi.


sandi tersenyum dengan perlakuan istrinya.


diluar maira dan fariq sedang mengobrol,"kak...apa tidak ada luka parah pada kak sandi?"


"tidak sayang...dokter bilang hanya luka di bagian luar kepala tapi tidak mengakibatkan fatal" jelas fariq.


"apa kembalinya kak sandi karena karin menyerahkan diri?"


"aku gak tahu sayang...tapi yang jelas sandi sudah pulang" ujar fariq.


maira mengangguk sambil tersenyum,di hati kecilnya dia masih memikirkan karin bagaimana nasibnya jika dia kembali ke mafia itu.


terlihat papah ikbal sedang berjalan menghampiri maira dan fariq," apa sandi baik-baik saja?" tanya papah ikbal setelah sudah dekat dengan mereka.


fariq menjawab,"Alhamdulillah pah,sandi langsung ditangani dokter."


"syukur kalo begitu"


papah ikbal melirik maira dia melihat kegelisahan di wajah putrinya,"sayang...apa kamu baik-baik saja?" tanya papah ikbal.


"maira baik pah" jawab maira sambil tersenyum.


"apa papah sudah bisa masuk?"


"maaf pah dokter menyarankan hanya satu orang yang boleh masuk,didalam ada riana" jelas fariq.


riana dan sandi masih berpegangan tangan,mereka sesekali melempar senyum,seperti orang yang baru pacaran.


"ana...apa cahaya ikut kesini?" tanya sandi.


riana mengangguk," apa aku panggilkan dia" ucap riana.


"tentu sayang...aku sangat merindukan kalian"


riana beranjak dari duduknya dia langsung keluar memanggil cahaya.


setelah dia keluar,papah sandi,maira dan fariq menghampirinya," bagaimana nak keadaan sandi?" tanya papah.


"mas sandi sudah sadar pah,sekarang dia ingin bertemu dengan cahaya...ayo sayang ikut mamih" ajak riana.


"aku masuk dulu..." ucap riana sambil menggenggam tangan cahaya lalu masuk kembali.


"princess nya papih...sini sayang "


riana membantu mendudukkan cahaya disamping sandi yang sedang berbaring.


"kenapa wajah papih kok warnanya biru-biru?" tanya cahaya lucu.


"sayang...papih lagi sakit" jawab riana.


" mamih...cahaya bolehkan jagain papih?"


cup... Riana mengecup kening cahaya,"boleh dong sayang...kita akan merawat papih sama-sama" cahaya yang menyadari perkataan riana dia tersenyum lebar.


"mamih bicaranya sekarang sudah lancar..." ujar cahaya.


riana pun baru menyadarinya dia tidak menyangka dengan perubahan dirinya yang drastis,mereka yang diluar pun tidak menyadari perubahan riana.


sandi melihat senyuman dari kedua bidadarinya,momen yang sangat dinanti-nantikan olehnya.


beralih ke suasana mencekam,disana terlihat karin yang sedang duduk dilantai dengan wajah menunduk.


"katakan padaku kenapa kau mencoba pergi dari pelukanku?" teriak seorang lelaki gagah dengan memakai setelan jas berwarna serba hitam.


"aku sudah bilang kau tidak akan pernah pergi dariku" lanjut lelaki itu.


karin mengangkat wajahnya,"aku tidak mau berada disisimu"


plak...sebuah tamparan melayang dipipi karin.


"kau ingin orang-orang di sekelilingmu mati?"


karin memegang pipinya yang baru saja ditampar,lelaki itu memegang dagu karin dan berkata,"sebagai hukumannya kamu harus memuaskanku sekarang, jadi pergilah ke kamar mandi bersihkan dirimu lalu datang padaku tanpa jangan memakai pakaian yang akan membuatku kesusahan" ucap laki-laki itu sambil beranjak pergi.


karin menangis begitu malang sekali nasibnya,andai semua ini dia bisa mengakhiri.


setelah mandi karin pergi menemui mafia itu,dia menuruti apa katanya tadi.


saat dia masuk ke dalam sebuah kamar,dilihatnya lelaki itu sedang duduk di sofa,karin menghampirinya dan duduk dipangkuan mafia itu.


"lakukanlah sesuka hatimu karena setelah ini akan ada kejutan untukmu" bisik karin yang membuat lelaki itu bergejolak.


langsung saja mereka beraksi,setiap ciuman yang disematkan di tubuh karin membekas begitu saja,panasnya adegan mereka yang dilakukan di sofa membuat ruangan menjadi perang ******* yang keluar dari mulut mereka.


lelaki itu menikmati perlakuan karin dengan lihai karin melakukannya tiba-tiba saja sebuah erangan keluar dan mengakhiri kegiatan mereka.


"sayang...baru kali ini kau memainkannya segila ini,nanti malam aku mau lagi" bisik mafia itu.


karin pun beranjak dan mengambil handuk kimono yang tadi dia pakai lalu pergi begitu saja tanpa berbicara sepatah pun.


setelah beberapa menit,terdengar suara tembakan dooor... yang membuat mafia itu kaget dan langsung keluar.


"ada apa ini?"


semua anggotanya tidak tahu apa yang terjadi,tapi mafia itu penasaran dengan kamar yang ditempati karin,dia membuka pintu secara perlahan dan saat pintu terbuka lebar matanya membulat melihat karin yang sudah bersimbah darah.


bersambung....