
Fariq baru saja pulang dari tempat kerjanya,seperti biasa dia merebahkan diri di sofa yang berada di ruangan keluarga.
"sayang...pasti kamu lelah" ucap Maira sambil memijit kaki Fariq.
"iya,di rumah sakit lumayan banyak pasien,maaf ya aku enggak sempat kasih kabar"
"engga apa-apa kalo lagi sibuk,oh iya tadi Lea datang kesini lo" ujar Maira.
"Lea...mau apa?" tanya Fariq sambil mengernyitkan keningnya.
"ya mau silaturahmi sekalian dia ngundang kita kepernikahan nya" jawab Maira.
"nikah,kapan?"
"minggu depan dia akan menikah,kita datang yuk" ajak Maira.
"aku gak janji sayang,kita lihat saja nanti" ujar Fariq.
"ya baiklah,oh ya tadi juga dia menanyakan keadaan kamu"
"untuk apa?"
"ya dia tahu kalo kamu waktu itu menghilang,dia malah datang ke sini untuk memastikan kabar itu dan ikut membantu aku menjaga Dzakir" jelas Maira.
"sayang...apa aku boleh minta sesuatu?"
"minta apa?"
"aku mohon kamu jangan terlalu dekat dengannya,kita tidak tahu hati seseorang" ucap Fariq.
"jangan suudzon sayang,aku yakin sekarang Lea sudah berubah,dan soal masa lalu mu,itu sudah resiko karena aku mendapatkan pria tampan seperti mu,karena hidup,mati,jodoh sudah di tangan tuhan"
Fariq tersenyum,"aku akan memastikan kalau semua itu tak akan terulang lagi,dan aku mohon bersabarlah untuk hidup bersamaku"
Maira pun menganggukkan kepalanya,"insya allah,karena aku mencintai mu karena Allah" tutur Maira sambil memeluk suaminya,dan Fariq pun membalas pelukan Istrinya.
hari berganti,Maira sedang sibuk menyiapkan keperluan Fariq dari mulai menyiapkan tas kerja suaminya sampai bekal makanan yang rutin dia kerjakan.
"sayang hari ini supir Papa akan menjemput ku"
"memangnya mau kemana?"
"Papa menyuruhku untuk datang ke mansion"
"kalo begitu hati-hati sayang" ucap Fariq sambil mencium kening Maira,lalu dia pergi pamit untuk bekerja,"kamu juga hati-hati sayang" ucap Maira sambil mencium punggung tangan suaminya,dan Fariq pun berangkat bekerja.
Setelah Fariq pergi,Maira langsung bersiap dan menunggu jemputan nya,tidak menunggu lama mobil Papa Ikbal pun datang dan Maira pun langsung pergi dengan memboyong Dzakir dan Baby sitter nya.
Kini mereka sudah sampai,terlihat Riana yang sedang murung,"kakak kenapa?" tanya Maira sambil menghampiri Kakaknya.
"Mai syukurlah kamu sudah datang" jawab Riana.
"tadi Papa yang menelpon ku untuk datang kesini,sebenarnya ada apa?"
"ini masalah Cahaya Mai..."
Maira sudah menduganya karena dia sudah tahu kemarin dari Lea,"ya ada apa dengan Cahaya?"
"dia sedang merajuk"
"baiklah kakak jangan khawatir aku akan menemuinya".
"Maira..." sapa Sandi yang tengah berjalan menghampiri adik dan istrinya.
"Kak Sandi tidak berangkat kerja?" tanya Maira.
"males pergi Mai kalau di rumah lagi ada yang marah" jawab Sandi.
"maafkan aku sayang ini semua salahku" lirih Riana.
"sudah lah jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri" ujar Sandi.
"sebenarnya ada apa dengan Cahaya?" tanya Maira lagi,dan Riana pun menjelaskannya pada Maira.
"oh jadi begitu,aku kira dia marah kalo Ibunya menikah lagi" ucap Maira.
"menikah..." ucap Sandi dan Riana serentak.
"iya menikah..."
"kok kamu tahu Mai...?" tanya Riana.
"ya tahu lah dia sendiri kemarin datang ke rumah" jawab Maira dan tiba-tiba saja Papa Ikbal menimpali pembicaraan mereka," ternyata wanita itu masih saja datang ke rumah mu".
"Papa..." ucap Maira sambil mencium punggung tangan Papa nya.
"sehat nak?"
"yang mana?"
"ternyata wanita itu masih saja datang ke rumah mu"
"oh itu,ya sebenarnya Papa pernah memperingatkannya"
"Papa kok gitu..." rengek Maira.
"Papa punya alasan tersendiri,Papa gak mau kalo dia menyakitimu lagi" jelas Papa Ikbal.
"kok Papa sama kaya Kak Fariq,kalian terlalu curiga pada Lea" ujar Maira.
"bukannya curiga tapi kita hanya tidak mau apa yang terjadi padamu lagi"
"tapi kan sama saja,pokoknya Maira gak mau Papa kaya gitu lagi,Papa harus menerima kalo sekarang Maira dan Lea sudah berteman" tegas Maira.
"baiklah Papa akan turuti kemauan kamu asal kamu bahagia"
"makasih Pa..." ucap Maira langsung memeluk Papa nya.
"terus soal anakku bagaimana?" tanya Sandi ketus.
"oh iya maaf ya Kak,aku sekarang akan menemui Cahaya" ucap Maira sambil melangkahkan kakinya.
setelah berada di depan pintu kamar Cahaya,Maira membuka pintunya,"assalamualaikum" ucap Maira.
"waalaikumsalam,kakak..." jawab Maira sambil berlari menghampiri Maira.
"apa kabar sayang?"
"baik kak..."
"terus kalo baik kenapa Cahaya tidak pergi sekolah?"
"males..."
"apa males?,sejak kapan Cahaya mulai Malas sekolah,setahu kakak Cahaya selalu semangat"
"malas aja"
"oh...malas apa lagi marah..."
Cahaya langsung cemberut,"ih bibirnya jangan di monyongin gitu,jelek tahu" goda Maira.
"abisnya kakak gak paham sih sama aku"
"kakak paham kok,kamu lagi kesel kan"
"iya...Cahaya kesel sama orang dewasa"
"oh ya kesel kenapa?"
"soalnya Mamah mau menikah lagi..."
"oh jadi tuan putri kesel karena Mamahnya mau menikah,kirain kesel sama Mommy karena menahan kamu untuk tidak pergi ikut mamah Lea"
Cahaya mengernyitkan keningnya,"Cahaya engga marah sama Mommy kak..."
"kalo kamu gak marah sama Mommy kenapa kamu gak mau bicara sama semua orang termasuk dia,kasian lo Mommy sama Papi mereka sedih karena anaknya merajuk" jelas Maira.
"jadi Cahaya sudah membuat Mommy bersedih ya" lirih Cahaya.
"Cahaya jangan merasa bersalah,sekarang Cahaya harus minta maaf sama Mommy dan Papi,dan ingat jangan ulangi lagi ya karena ini gak baik,dari kecil di panti gak pernah ngajari ini lho"
"iya Cahaya janji"
"dan soal Mamah Cahaya yang akan menikah,kenapa Cahaya marah?"
"Cahaya takut kalo Mamah Lea tidak sayang lagi dan Mama Lea sekarang sudah jarang ngasih kabar" jawab Cahaya.
"Cahaya...dengar kan kakak,Mamah Lea engga ngasih kabar bukan berarti dia tidak sayang mungkin saja dia sibuk bekerja,dan soal Mamah Lea menikah lagi karena dia ingin punya teman hidup,misalkan kalo dia sakit pasti ada yang merawatnya jadi Cahaya tidak perlu khawatir" jelas Maira.
"tapi apa Papi baru akan sayang sama Cahaya dan Mama Lea,seperti Mommy sama Papi?"
"tentu dong karena Kakak yakin Mama Lea sudah benar menentukan pilihannya" jawab Maira.
"jadi sekarang Cahaya gak boleh marah lagi,dan harus meminta Maaf pada Mommy,Papi dan Mamah Lea" lanjut Maira.
"iya kak..." ucap Cahaya,dan Maira pun memeluk Cahaya.
"ingat yah...semuanya sangat menyayangi Cahaya jadi jangan takut kalo mereka akan meninggalkan Cahaya,apa lagi di mata Mommy dan Papi Cahaya adalah permata hatinya,apa lagi Mommy sekarang sedang mengandung calon adik jadi Cahaya harus menjaga Mommy" lanjut Maira.
bersambung....