Humaira

Humaira
Bab 57 pengakuan gilang



pagi-pagi sekali maira sudah menyiapkan makanan untuk sarapan,terdengar suara rengekan cahaya.


"kakak...cahaya belum mandi,cahaya gak bisa pake kamar mandinya soalnya gak ada air..."


maira tersenyum dan menghampiri cahaya," sayang...sebentar lagi kakak beres memasaknya,kamu tunggu saja di kamar,nanti kakak mandikan kamu".


cahaya pun pergi menuju kamarnya,papah ikbal sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dan akhirnya pergi.


setelah beberapa menit memasak maira langsung ke kamar cahaya.


semua orang di mansion sedang sarapan terlihat maira dan cahaya sedang turun dari lantai atas dan menuju meja makan.


maira duduk disamping fariq dan cahaya duduk di samping riana,pelayan membantu cahaya mengambilkan beberapa makanan yang di sediakan.


"sandi...kamu harus secepatnya mencari babby sister untuk cahaya" perintah papah ikbal.


"iya pah...kemarin juga sudah di buka pendaftarannya,asistenku yang mengurusnya" ucap sandi.


"bagus kalo begitu" ucap papah ikbal.


setelah beberapa menit sarapan gilang dan fariq terlebih dahulu selesai,mereka langsung pamit untuk bekerja.


"pah...fariq berangkat kerja nanti fariq kesini lagi menjemput maira" ujar fariq.


"gak usah jemput biar papah yang mengantarnya pulang" ucap papah ikbal.


"terima kasih pah..." ucap fariq,papah ikbal memberi anggukan.


fariq pun pergi dan diantar maira sampai kedepan pintu,maira mencium punggung tangan suaminya dan fariq mencium kening maira,"hati-hati di jalan sayang..."


di dalam rumah sandi pun berpamitan untuk pergi ke kantor,sandi mencium pipi riana dan cahaya lalu dia beranjak pergi.


waktu menunjukkan jam 9 pagi,maira dan papah ikbal berada di sebuah ruangan yang berisi barang-barang yang sangat terawat,satu persatu papah ikbal menjelaskannya pada maira.


dengan tiba-tiba maira bertanya,"apa papah pernah menikah lagi setelah bercerai dengan mamah?"


papah sandi tersenyum," papah sudah berjanji pada mamahmu akan setia sampai papah mati,saat kami bercerai tidak terfikir oleh papah untuk mengganti posisi mamahmu di hati ini" papah ikbal meraba dadanya.


"makasih...papah sudah mengajarkan pada maira,arti dari sebuah hubungan,apapun rintangannya jangan pernah goyah dengan perasaan kita".


papah Ikbal pun tersipu malu,dengan ucapan maira.


saat mereka berbincang sesuatu terdengar gaduh di luar sana,maira dan papahnya langsung keluar.


terlihat cahaya yang sedang merengek pada riana meminta di gendong,maira langsung menghampiri.


"kenapa sayang...?" tanya maira pada cahaya yang langsung cemberut.


"ca..haya..minta di...gendong..." jawab riana.


"apa..?" maira langsung menatap cahaya,"kenapa mau di gendong sama mamih riana? mamih kan belum sembuh sayang...kasian dong kalo mamih harus gendong kamu,lagian cahaya kan sudah besar" jelas maira.


"tapi..." tiba-tiba saja cahaya berhenti saat melihat kakeknya sudah berdiri di belakang maira dan menundukkan wajahnya.


"cahaya...kamu mau kan ikut kakek?" ajak papah ikbal pada cahaya.


cahaya mengangguk,papah ikbal pun menggenggam tangan cahaya dan membawanya ke luar.


"kakak...jangan sedih,suatu saat kakak juga akan seperti ibu yang lainnya,sebaiknya kita duduk dulu yuk..."


"kakak mau cemilan?" tanya maira pada riana.


riana menggeleng....


di rumah sakit fariq sedang istirahat dia sedang berada di kantin bersama gilang yang setia menunggu sahabatnya bekerja dari pagi.


"kamu kenapa gak balik saja ke luar negri" ucap fariq.


gilang tidak menjawab dia terus memainkan jarinya di ponselnya.


"lang..."


gilang menoleh dan berkata," aku harus bawa karin pergi..."


fariq mengernyit,"dengan cara?"


"aku akan menikahinya " ucap gilang yang membuat fariq kaget.


"apa kamu yakin?masalah karin belum selesai,dia hamil anak orang" ucap fariq meyakinkan sahabatnya.


"kamu tahu aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini" ujar gilang.


ucapan gilang membuat fariq mengerti kalo gilang menaruh hati pada karin.


"sejak kapan lang...?" tanya fariq.


"maksud kamu?" gilang bertanya balik.


"sejak kapan kamu menyukai karin"


gilang tersenyum,"sejak dia menjadi teman kita"


"jadi selama ini..." fariq tidak menyelasaikan ucapannya.


"ya selama ini gue menyukai dia,tapi gue gak berani mengutarakannya karena terlalu bucin sama Lo" jelas gilang.


fariq menepuk jidatnya,"astaga kenapa kamu sebodoh itu lang..."


"apa? lo ngatai aku bodoh!"


"iya kau memang bodoh...pengecut,belum mencoba sudah menciut" ledek fariq.


"gue memang bodoh riq...kenapa gue terlalu takut" lirih gilang.


"lebih baik kamu secepatnya menemui dia apalagi sekarang dia membutuhkan seseorang" fariq menyemangati gilang.


"ya...gue akan mencobanya tapi gue juga butuh masukan dari maira untuk membujuk karin"


"soal itu aku akan bicara pada maira" fariq menepuk pundak sahabatnya.


bersambung.....