Humaira

Humaira
Bab 37 maira sakit



hari sudah menjelang sore maira masih belum keluar kamar,fariq yang sedari tadi rebahan di kamar alm kakeknya beranjak turun dari ranjang dan kembali menemui maira.


fariq mencoba mengetuk pintu


tok...tok...tok...


"sayang..." panggil fariq.


tidak ada jawaban dari maira, fariq mencoba membuka knop alhasil terbuka maira sudah tidak mengunci pintunya lagi,fariq masuk dengan perlahan terlihat maira yang sedang berbaring,fariq mendekat dia melihat aneh pada wajah istrinya maira terlihat pucat dan keringat sudah membasahi tubuh istrinya.


"sayang kamu sakit,badan kamu panas"


maira kelihatan lemas dia tidak berdaya untuk menjawab ucapan suaminya,fariq tidak menunggu lama dia langsung membawa maira ke rumah sakit.


saat sampai rumah sakit maira langsung di periksa dokter,kelihatan wajah fariq yang panik.


"dokter fariq" panggil seorang dokter yang memeriksa maira.


fariq mendekat,"bagaimana dok dengan istri saya?"


"istri anda lambungnya bermasalah,mungkin dia telat makan",ucap dokter indra.


dokter indra teman fariq hanya saja dokter indra bagian dokter umum dan fariq dokter kandungan mereka sama-sama satu propesi.


"mungkin saja karena dia belum makan" ujar fariq.


"apa istri anda sedang puasa?" tanya dokter indra


fariq menggeleng.


"ya sudah ini resep obatnya,jangan khawatir istri anda tidak perlu dirawat"


"makasih...kalo begitu saya ke apotek dulu,sus titip maira..." ucap fariq pada salah satu perawat.


fariq berjalan menuju apotek rumah sakit setelah sampai dia langsung memberikan resep dari dokter indra.


"kak..." panggil maira yang baru sadar.


perawat menghampiri maira," ibu sudah sadar,bu...dokter fariq sedang mengambil obat di apotek".


"saya dimana?"


"ibu dirumah sakit..."


fariq sudah selesai mengambil obat,dia langsung bergegas pergi,saat di perjalanan menemui maira,terdengar seorang memanggil namanya.


"dokter fariq..." panggil sandi.


"sandi..." mereka berjabat tangan.


"sudah mulai bekerja?" tanya sandi.


"belum" jawab fariq singkat.


"terus sedang apa disini dan itu obat siapa?" tanya sandi lagi.


"maira tiba-tiba sakit,jadi saya membawanya kesini".


"kenapa dengan maira?"


"ada gangguan pada lambungnya" jawab fariq.


"ehm...bagaimana kata dokter?"


"dokter bilang dia sudah bisa pulang"


"ya sudah kalo begitu mudah-mudahan lekas sembuh,tapi maaf tidak menemuinya dulu karena aku ada meeting di perusahaan"


"tidak apa-apa,kalo begitu saya duluan" ucap fariq dan meninggalkan sandi.


terlihat maira yang tengah duduk dia memegang kepalanya.


"sayang...alhamdulillah kamu sudah sadar"


"dari mana?"tanya maira pada fariq.


"sudah ngambil obat di apotek" jawab fariq.


"bagaimana sudah mendingan?" tanya fariq.


"masih pusing..." lirih maira.


fariq melihat pipi maira ada bekas tangan akibat tamparan karin tadi pagi.


"ayo kita pulang..." ajak maira pada fariq.


maira dan fariq akhirnya pulang, di perjalanan maira menyandarkan tubuhnya dia menatap ke arah kaca pintu mobil,fariq mengandarai mobil dengan kecepatan sedang.


sampai dirumah bibi menyambut maira dan fariq.


"belum den,nunggu aden dan nona pulang...bagaimana keadaan nona?"


"saya masih pusing bi..." jawab maira.


"bibi sudah bikin bubur buat nona,dimakan ya non biar cepat sembuh"


"makasih bi...aku sudah ngerepotin" ucap maira.


"tidak non...kalau gitu non,den fariq,bibi pulang dulu"


"iya bi...hati-hati" ucap fariq.


sepeninggalnya bibi maira dan fariq masuk kekamar,maira membaringkan tubuhnya di kasur sedangkan fariq kedapur untuk mengambil bubur buatan bibi.


"sayang...makan dulu ya biar cepat sembuh"


maira menggeleng...


" kenapa sayang...?" tanya fariq.


"maira mau pulang..." lirih maira dengan mata sudah berkaca-kaca.


"kenapa sayang? apa karena kejadian tadi?"


"maira butuh ketenangan...maira belum sepenuhnya mengenal kakak,siapa kakak,bagaimana masa lalu kakak..."


"tapi kalo kamu pergi bagaimana denganku...?" tanya fariq.


"kakak bisa tinggal di panti" ucap maira.


"mai...aku minta maaf tadi aku membentak kamu tapi tolong kamu tetap disini ya walau apapun yang terjadi" pinta fariq.


"kalo aku tetap disini apa kakak akan menjamin?" tanya maira.


fariq diam,fariq tahu kalau dia yang meminta maira ikut tinggal di rumahnya,tapi dia merasa kalo dia tidak bisa melindungi istrinya terlebih dari wanita yang bernama karin.


"mai...aku hanya manusia biasa,aku memang sadar kalo aku gak bisa jaga kamu sepenuhnya,tapi kalo kita tetap berdua walau apapun itu rintangannya aku yakin kita bisa menghadapinya,apa lagi kita disini tidak memiliki siapa-siapa tidak ada orang tua aku dan kamu sama".


maira diam dia tahu maksud fariq kalo bukan maira ,suaminya tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini begitu juga maira,betapa makang nasib mereka tumbuh tanpa kedua orang tua.


"Baiklah maira akan tinggal disini demi keutuhan kita" tutur maira.


"terima kasih sayang..." fariq mencium pipi dqn memeluk maira.


"sekarang makan ya..." fariq melepaskan pelukannya.


maira mengangguk dan fariq menyuapi istrinya,tiba-tiba ponsel fariq berdering.


kring.. kring...


fariq melihat panggilan dari gilang tapi tidak diangkat.


"siapa yang nelpon?" tanya maira.


"gilang..." jawab fariq.


"kok... gak dia angkat siapa tahu penting"


ponsel berdering kembali...kring...kring...


(" assalamualaikum") ucap fariq


("waalaikumsalam,riq...kamu sudah tahu karin pulang dari luar negri?")


("aku tahu...dia sudah berbuat onar dalam rumah tanggaku")


("dugaanku benar...")


("kau urus dia...biar cepat balik lagi")


fariq menutup telepon,dia masih kesal atas perbuatan karin yang sudah menampar istrinya tepat dihadapannya.


"kok langsung di tutup ?" tanya maira.


"aku tidak mau membahas tentang wanita gila itu" jawab fariq.


"oh ya...ada sesuatu yang harus aku pertanyakan,waktu tadi aku bertemu wanita itu dia sempat bilang kalo kamu pernah gituan sama dia waktu sekolah SMA apa benar?" tanya maira.


"astagfirullah,dia bikin masalah apa lagi...." fariq mengusap wajahnya.


"sayang...aku mohon kamu jangan percaya sama omongan dia,aku gak pernah lakuin sejauh itu kami hanya sebatas teman... aku gak pernah lakuin itu sama perempuan lain selain kamu" jelas fariq.


"jadi tolong percaya sama aku..." fariq memohon pada istrinya.


"maira percaya kok..."


bersambung....