
terlihat mobil sandi memasuki pintu gerbang rumah fariq,sandi dan papah ikbal keluar dari mobil menuju pintu rumah.
ting...teng...ting..teng...
didalam maira dan fariq selesai makan,fariq langsung melangkah menuju pintu rumah karena terdengar suara bel berbunyi.
"sandi..."
fariq merasa ada sesuatu yang aneh karena tidak biasanya sandi datang kerumahnya bersama seorang laki-laki paruh baya apa lagi hari sudah malam.
sandi dan papah ikbal duduk berdampingan sedangkan fariq duduk di seberang mereka.
"sebenarnya ada apa?aku kok jadi gak tenang!" ucap fariq pada sandi yang sedari tadi terus melihat ke arah dalam rumah.
" riq...kenalkan ini papahku" ucap sandi memperkenalkan papahnya.
"papah,ini fariq dia dokter dimana riana dirawat dia suaminya maira" jelas sandi.
saat mendengar nama maira, rasa dihati begitu menggebu-gebu ingin cepat memeluk anak perempuan yang terpisah karena keegoisannya bersama sang istri,papah ikbal menantikan pertemuannya bersama anak perempuannya.
"ini dompet maira yang ketinggalan di rumah sakit" sandi memberikan dompet pada fariq.
"oh...mungkin dia tidak menyadarinya kalo dompetnya tidak ada di tasnya,makasih sudah mengembalikannya"
"apa aku boleh bertemu dengan istrimu?" tanya sandi.
fariq masih heran,kenapa tiba-tiba sandi ingin bertemu dengan maira " sebenarnya ada apa?apa maira melakukan kesalahan saat tadi menemani riana?" tanya fariq takut.
"tidak...kami hanya ingin bertemu,bolehkan hanya sebentar"
fariq mengangguk seraya memanggil istrinya " maira...sini sayang..."
tidak lama kemudian maira datang,tubuh papah ikbal bergetar saat melihat sosok maira yang mirip sekali dengan mantan istrinya,matanya hidungnya,bibirnya jelas seperti ibunya.
sandi mendekat dan menggenggam tangan papahnya arti dari perjuangannya mencari adiknya sudah berakhir dengan takdir tuhan.
fariq menatap sandi dan papahnya dia merasa ada sesuatu hal yang dia tidak tahu.
"sandi...sebenarnya ada apa?" tanya fariq.
"begini,aku butuh penjelasan dari maira tentang poto keluarga yang berada di dompetnya" jawab sandi dengan suara gemetar.
fariq dan maira bertatapan,fariq memberi kode pada maira untuk menjelaskannya pada sandi.
"kok ada dompet saya disini?" tanya maira.
"dompetnya ketinggalan di rumah sakit,sandi dan papahnya datang kesini untuk memberikan ini" jelas fariq.
"sekarang kamu mau kan jelaskan poto yang ada didompet kamu?" lanjut fariq.
"ini foto keluarga saya,ibu bapak dan saya"
"itu foto maira dan kedua orang tuanya" fariq ikut nimbrung.
"apa itu foto orang tua angkat mu? secara kan kamu di besarkan di panti" tanya sandi.
"itu foto orang tua kandung saya"
sandi dan papahnya semakin yakin kalo maira adalah anggota kelurganya.
"lalu apa ibu kamu masih ada?" tanya papah ikbal dengan hati deg-degan ingin sekali dia melihat mantan istrinya.
maira menggeleng," ibu sudah meninggal" ucapan maira membuat mata sandi dan papahnya membulat terkejut,badan papah ikbal lemas kakinya seperti tidak bisa menopang tubuhnya.
"papah...apa papa baik-baik saja?" tanya sandi berkaca-kaca.
maira dan fariq semakin heran kenapa papah ikbal bisa begitu syok mendengar kalau ibu maira sudah meninggal.
"sandi tolong langsung saja jangan membuat kami seperti ini,sebenarnya ada apa?" tanya fariq ingin kepastian maksud dan tujuan sandi dan papahnya datang menemui maira.
"kalian harus menerima kenyataan terutama maira,kalo dia dan aku adalah saudara kandung"
maira dan fariq pun terkejut...
"maksudnya apa? maira gak ngerti?"
"jadi begini nak...aku dan ibu mu kami berpisah setelah ibu melahirkanmu,kami bersepakat mengakhiri hubungan kami dengan aku membawa sandi dan ibumu membawa mu" jawab papah ikbal yang sudah baikkan.
"lalu dengan bapak, dia yang amat menyayangiku itu siapa?" tanya maira sudah berkaca-kaca.
"mungkin dia bapak sambungmu,karena saat kami bercerai kamu masih usiah 10 bulan " ujar papah ikbal dengan tenang.
mendengar penjelasan itu maira tidak menyangka kalo dia masih mempunyai keluarga,meskipun hanya ayah dan kakaknya.
"jadi...aku..."
"kamu adalah anakku...humaira s pipi kemerah merahan" ucap papah ikbal.
maira masih menahan tangisnya,fariq menggenggam tangan istrinya menguatkan hati maira untuk menerima kenyataan ini.
"papah..." ucap maira melihat ke arah papah ikbal,sontak papah ikbal bangkit dan menghampiri maira memeluk putrinya yang sudah lama dia rindukan.
tangis mereka pun pecah,fariq juga ikut menangis dia menyaksikan lagi kuasa Allah yang benar-benar patut disyukuri.
papah ikbal melepaskan pelukan kerinduannya pada maira,dan mengulurkan tangan kepada sandi.
"kemarilah nak...aku sangat menginginkan momen ini", sandi mendekat dan mereka bertiga berpelukan dengan tangis yang tak terbendung.