
setelah Maira menceritakan masalah yang menimpa keluarganya,dia menghampiri bibi yang sedang menggendong Dzakir, " apa bibi tahu keberadaan Ratna?" tanya Maira ketika sudah berada di samping bibi.
bibi melihat kearah empat orang laki-laki yang berbeda umur terlihat mereka sangat berharap,"terakhir bertemu, dia pamit pergi bekerja ke Singapura karena dia bekerja sebagai TKW,tapi bibi juga tidak tahu apa itu benar atau tidak karena dia juga sudah lama tidak pulang ke rumah" jawab bibi.
Maira menghela nafasnya dan berkata," maaf kan saya bi,sudah membuat bibi bersedih"
"tidak non...jangan berfikir seperti itu,kalo anak bibi salah tetap salah" jelas bibi.
"makasih bi..."
"sama-sama non..."
Maira memeluk bibi,tangisannya kembali pecah dia tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya,semuanya menjadi satu.
"non...sudah lah jangan menangis lagi,mudah-mudahan den Fariq secepatnya pulang" bibi mencoba menenangkan Maira.
Maira melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya yang membasahi pipi,lalu dia mengendong Dzakir yang sedari tadi berada di pelukan bibi.
"makasih bi sudah menjaga anakku"
"tidak apa-apa non,ini juga sudah kewajiban bibi"
kini Maira sudah duduk kembali di sofa,ke empat lelaki itu sedang berdiskusi soal pencarian Fariq,"Sandi kerahkan anak buah mu untuk mencari informasi tentang Ratna" Papa Ikbal menyuruh Sandi.
"baik Pa..." Sandi pun langsung menghubungi anak buahnya.
setelah mereka selesai berdiskusi semuanya kembali ke pekerjaan masing-masing,kini tinggal Maira dan bibi yang berada di rumah dengan penjagaan ketat.
Papa Ikbal memilih pulang dulu karena dia sudah lama tidak pulang kerumahnya sejak menghilangnya Fariq.
sedangkan Sandi pergi ke kantor,Fahmi dan Gilang mereka memilih untuk pergi ke Panti.
saat Papa Ikbal sudah berjalan memasuki rumahnya,tiba-tiba dia melihat sosok wanita yang sedang berdiri di depan pintu mansion nya.
"ehm...ada keperluan apa nyonya?" tanya Papa Ikbal.
sontak wanita itu berbalik," selamat siang Tuan..."
ternyata wanita itu adalah Lea,raut wajah Papa Ikbal pun terlihat masam ketika tahu siapa wanita yang sedang menunggu di rumahnya.
"sedang apa kamu di sini?" tanya Papa Ikbal datar.
"ehm...anu...Tuan..." belum menjawab tiba-tiba Riana datang menghampiri.
"Papa...Lea...kalian sedang apa?"
"kamu dari tadi di sini?"
"baru saja datang..." jawab Lea.
"kenapa tidak langsung masuk..." ucap Riana.
"masuk ke dalam sini harus dengan sopan santun,karena saya tidak akan membiarkan orang masuk kedalam rumah saya tanpa Izin saya" tegas Papa Ikbal.
"Papa kenapa?" tanya Riana.
"Papa mohon jangan berikan aturan pada orang lain untuk langsung masuk tanpa mengetuk pintu" jelas Papa Ikbal lalu pergi meninggalkan mereka.
Riana terkejut melihat sikap mertuanya yang tidak seperti biasanya,dia merasa tidak enak hati atas sikap Papa Ikbal.
"maaf kan saya,mungkin kedatangan saya kesini sedang tidak tepat" ucap Lea.
"Ah...tidak-tidak,sebaiknya kita masuk dulu" ajak Riana,dan Lea pun dengan ragu melangkah masuk ke dalam mansion.
kini mereka duduk di ruangan tamu,"maafkan sikap Papa tadi,mungkin dia sedang banyak pikiran karena terjadi sesuatu pada keluarga Maira" jelas Riana.
"apa Fariq sudah pulang?" tanya Lea.
Riana pun mengerutkan keningnya,"kamu tahu soal Fariq?"
Lea menjawab," ya aku tahu makannya aku datang kesini untuk memastikan kabar yang aku dengar".
"aku juga dapat merasakannya" ucap Lea dalam hati,karena dia ikut kehilangan sosok mantan tunangannya,dan dia pun bergegas pulang saat mendengar berita itu.
"aku ingin sekali menemui Maira" ujar Lea.
"kenapa tidak datang ke rumah nya langsung?" tanya Riana,Lea pun menggelengkan kepalanya dia sadar dengan ucapan Papa Ikbal yang waktu itu.
"Baiklah kalo begitu kita sama-sama pergi menemuinya tapi kita tunggu Cahaya pulang karena pak sopir sedang menjemputnya".
Lea pun lega,akhirnya Riana ingin menemaninya menemui Maira.
Papa Ikbal sedang duduk di kursi kebesarannya yang berada di ruangan pribadinya,kepalanya menghadap langit-langit sambil memejamkan matanya,dia merasa kasihan terhadap putrinya Maira,apa lagi saat Maira menjelaskan kejadian enam bulan yang lalu,begitu nasib Maira yang terus di bayangi dengan wanita-wanita masa lalu Suaminya.
"maafkan Papa Maira...andai saja kita lebih awal bertemu sebelum kamu menikah mungkin Papa akan melindungi kamu dari mereka wanita-wanita j*****g" gumam Papa Ikbal.
kembali ke kediaman Maira, bibi sudah bersiap untuk pergi,lalu dia pamit pada Maira yang berada di kamarnya.
tok....tok...
suara pintu di ketuk,Maira pun langsung menyuruh nya masuk," bibi..." sapa Maira.
"maaf non,bibi sudah mengganggu istirahat nona" ucap bibi.
"engga bi...lagian saya lagi ngasih ASI sama Dzakir,bibi sudah rapih mau kemana?" tanya Maira.
"anu non...bibi mau pulang dulu bibi mau pastikan pada anak-anak bibi tentang kepergian Ratna,mungkin mereka tahu" jelas bibi.
"bibi gak usah,biar yang lain saja mencari informasi ini" ujar Maira.
"maafkan saya non,mungkin kalo saya yang cari sendiri mungkin bisa membuahkan hasil"
"baiklah tapi apa boleh pengawal disana menemani bibi pulang?" tanya Maira.
"tentu nona,saya akan kembali sebelum malam" ucap bibi.
"baiklah,bibi boleh pergi"
tidak menunggu lama,bibi pergi meninggalkan rumah,dia pergi di temani seorang pengawal.
setelah bibi keluar Maira langsung menghubungi salah satu pengawal yang berada diluar rumah untuk menemani bibi yang hendak pulang kerumahnya.
tidak lama kemudian Sandi datang lagi, dengan tergesa-gesa dia mencari keberadaan Maira,"Maira...kamu dimana?" teriak Sandi.
saat Maira mendengar suara kakaknya,dia langsung keluar kamar,"Kakak...aku disini".
Sandi langsung menghampiri Maira,"Mai...aku sudah ada petunjuk" ucap Sandi.
"petunjuk apa kak?" tanya Maira dengan penasaran.
"tadi anak buah ku bilang,kalo Ratna tidak pergi ke Singapura,dia masih disini tapi sayang keberadaanya belum jelas" Sandi memberitahukan hal itu pada Maira.
"tidak apa-apa,untuk kali ini itu sudah cukup,dan tadi juga bibi pergi untuk pulang dulu katanya dia mau mencari informasi tentang keberadaan Ratna pada keluarganya,mudah-mudahan saja dia mendapatkan sedikit petunjuk" jelas Maira.
"apa kamu yakin dia bisa dipercaya?" tanya Sandi.
"insyaallah Kak...aku kenal bibi" jawab Maira.
"baiklah kalo begitu,tapi apa dia pergi sendiri?"
"aku menyuruh pengawal untuk menemaninya"
"bagus kalo begitu,mudah-mudah dengan cepat kita mengetahui target pertama" ujar Sandi.
"tapi ini tidak kesan menuduhkan kak?" tanya Maira.
"tidak sayang...kita akan mencari bukti dulu,setelah ada bukti baru kita tahu apa yang sebenarnya" jelas Sandi.
bersambung....