
maira masih menangis di pelukan suaminya,dan fariq pun mencoba menenangkan maira.
"sudah lah sayang...jangan nangis terus..."
"bagaimana keadaan kak sandi sekarang,bagaimana perasaan kak riana dan cahaya ketika mereka mendengar hal ini" ucap maira memikirkan keluarga kecil kakaknya.
"papah sama gilang sedang berusaha mencari jalan keluarnya mai..." ujar fariq.
fariq langsung teringat tentang kabar gilang,dia belum memberi tahu papah mertuanya.
fariq langsung menelepon papah ikbal dia menceritakan yang sebenarnya kejadian sandi,sekarang papah ikbal akan menemui gilang untuk meminta kerja sama melepaskan sandi.
papah ikbal membuat penjagaan ketat di area rumahnya,gilang pun sama dia mengutus orang-orangnya untuk menjaga rumah panti tanpa diketahui keluarga panti.
fariq dan maira juga mengabari fahmi lewat telepon.
("kenapa sekarang jadi serumit ini riq..." )ucap fahmi
("iya...ternyata ayah tiri karin anggota mafia sedangkan ayahnya menjual karin ke ketua mafia itu") jelas fariq
("astagfirullah, masih ada orang yang seperti itu")
("kalo begitu kamu dan keluarga harus lebih waspada lagi...") pesan fariq.
setelah fahmi menutup telepon dia bercerita pada istrinya dan terdengar oleh telinga karin.
maira dan fariq kini sedang berdoa atas keselamatan keluarganya dari segala marabahaya.
setelah berdoa tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk tok..tok..tok..
"den...di luar ada den gilang" ucap bibi.
maira dan fariq saling bertatapan," gilang..." ucap fariq.
fariq dan maira langsung pergi keluar kamar dan menemui gilang.
"lang..." panggil fariq saat berada di ruang tamu.
"riq...mai...maaf aku datang tiba-tiba dan sudah mengganggu kalian" ucap gilang.
"gak apa-apa kak...sebenarnya ada berita apa?" tanya maira dengan penasaran.
gilang menarik nafas dan berkata," tadi aku sudah berbicara dengan om ikbal kami akan bekerja sama untuk melepaskan sandi,aku akan mencoba berinteraksi dengan anggota mafia disana" jelas gilang.
"apa kamu yakin dengan cara itu mereka akan melepaskan sandi?" tanya fariq.
"sebenarnya kita gak yakin juga,tapi apa salahnya kita mencoba,orang-orangku sudah mengintai keberadaan mereka" ujar gilang.
fariq melihat istrinya,maira sangat terpukul dengan berita yang didengarnya.
"baiklah...kapan akan bertemu dengan mereka?" tanya fariq.
"mungkin lusa karena aku dan om ikbal akan berangkat besok,tadi om ikbal juga akan menghubungi kalian untuk meminta menjaga riana dan cahaya"
"tentu sayang...kita akan menjaga mereka besok biar supir papah yang mengantarnya" ucap fariq.
keesokan harinya maira sudah bersiap menunggu kedatangan kakak ipar dan keponakannya,sedangkan fariq sudah lebih dulu berangkat bekerja.
tidak lama kemudian mobil yang mengantarkan riana dan cahaya datang,maira menyambut mereka dengan pelukan hangat dan tangisan.
"kakak sehat?" tanya maira pada riana.
"alhamdu..lillah mai..." jawab riana.
"ayo masuk kak...cahaya ayo ikut kakak..."maira mengajak keduanya masuk kedalam rumah sedangkan sopir sedang berbincang bersama pak satpam.
maira menunjukkan kamar tamu pada riana dan cahaya,lalu mereka membereskan baju di bantu oleh bibi.
setelah selesai mereka kembali keruangan keluarga terlihat cahaya sedang memainkan bonekanya.
"apa kakak sudah tahu ?" tanya maira.
riana mengangguk," soal suamiku?"
"iya...soal kak sandi, maira minta maaf kak ini gara-gara maira kalo saja..." belum sempat melanjutkan riana sudah memotong.
"sud...ah,jangan me...rasa ber...sa...lah"
ketika sedang mengobrol tiba-tiba ponsel maira berbunyi kring... kring... maira mengangkat panggilan dari fahmi.
"assalamualaikum"
"...."
"apa...?" maira terkejut saat mendengar kalo karin pergi meninggalkan panti,dia menyimpan sebuah catatan di atas kasur.
maira menutup panggilan dia mencemaskan keadaan karin,"mai..ra... ada apa?" tanya riana.
"karin...kak...karin pergi dari rumah panti,dia sudah mengetahui apa yang sedang menimpa kak sandi" jelas maira.
riana pun terdiam mereka sama-sama berfikir apa yang akan terjadi selanjutnya pada karin dan sandi.
dirumah sakit fariq pun sudah mengetahui kepergian karin,dia langsung menghubungi gilang yang sedang berada di perjalanan,gilang dan papah ikbal semakin risau karena rencananya sedikit meleset.
"kenapa kalian tidak becus mengurus hal seperti itu" teriak gilang saat berbicara lewat telepon.
" tenang..." ucap papah ikbal saat gilang sudah mengakhiri panggilannya.
"maaf om...rencana kita saat ini harus di tunda dulu" ujar gilang.
"baiklah kita akan memikirkan lagi cara lain"
kelihatan dari muka gilang yang kesal dia kehilangan jejak karin,dan sandi langsung mengutus anak buahnya untuk mencari karin.
papah ikbal yang masih memperhatikan sikap gilang kini dia tersenyum lebar karena dia yakin anak muda itu menaruh hati pada karin.