Humaira

Humaira
Bab 96 apa bedanya aku dan dia



Gobang menyeringai,dia seakan ingin menerkam Ratna karena dia sudah mengemis cinta pada Fariq,ternyata Gobang tidak menyukai akan hal itu.


Gobang melepaskan tangannya,lalu dia memegang dagu Ratna dan berkata," lihatlah apa ada pemberontakan terhadap nya saat melihat kau disakiti?"


Ratna melirik kearah Fariq yang sedang diam tak bergeming,lalu Ratna juga melihat ke arah Gobang yang sedang melotot padanya,Ratna pun menangis nasibnya memang malang sekali.


Gobang menyeret Ratna,lalu tubuh Ratna di hempas kan ke atas kasur,dengan secara paksa Gobang mencoba membuka baju Ratna,"jangan...ku mohon...jangan" teriak Ratna histeris.


Gobang pun tak mengindahkan ucapan Ratna dia terus memaksa,"ku mohon....jangan lakukan ini disini hik...hik..." ucap sambil menangis.


Gobang pun menghentikannya dan dia menjauh dari Ratna kini dia berdiri di hadapan Ratna yang masih berbaring sambil terisak menangis.


Gobang mengatur nafasnya dan dia berbalik menghadap Fariq yang masih terikat yang menyaksikan perlakuan preman itu.


Gobang menyeringai dan berkata," jika dia yang tidak memintanya,aku akan menghajar mu sampai kau meminta ampun".


Gobang pun pergi meninggalkan kamar itu,sedangkan Ratna sedang mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya akibat perlakuan Gobang tadi.


"berhentilah untuk berpura-pura lugu dan so suci" tiba-tiba Fariq berkata saat Ratna hendak pergi meninggalkan kamar itu dan Ratna pun menatap Fariq,dia merasa kalo Fariq sering sekali menghinanya,tapi itu sudah biasa baginya akhir-akhir ini karena ambisinya yang menghilangkan segala rasa.


Ratna pergi tanpa berkata apa pun lalu seorang penjaga masuk dan membuka ikatannya,"selamat kamu masih baik-baik saja Tuan" ucap penjaga itu.


Fariq menatap lelaki yang sudah membukakan talinya," kenapa kalian tidak bunuh aku saja" ucap fariq.


penjaga itu tersenyum,dan berkata," itu bukan wewenang kami".


Ratna pergi menghampiri Gobang yang sedang menahan amarahnya,dia mencoba menetralisir kan keadaan agar dia tidak mati di tangan preman itu.


"apa kau marah padaku?" tanya Ratna.


Gobang pun menoleh pada Ratna yang kini sudah berada di sampingnya," kenapa kau menahannya terlalu lama,jelas-jelas dia tidak pernah menyukaimu" ucap Gobang.


"aku tidak tahu,kenapa perasaanku padanya begitu mendalam sampai aku menginginkan hidup bersamanya" lirih Ratna.


"maafkan aku sudah berbuat kasar padamu tapi asal kamu tahu aku berharap lebih padamu" ucap Gobang,Ratna pun mematung sudah berapa kali dia mendengar pengakuan Gobang.


"maaf aku tidak bisa..." ucap Ratna,Gobang pun menutup matanya,dia sudah menduga dengan jawaban yang sama.


"apa dengan alasan yang sama?" tanya Gobang.


Ratna pun mengangguk,Gobang menghela nafas dan berkata,"apa bedanya aku dan dia?" tanya Gobang,Ratna tidak menjawab.


"kami sama laki-laki,dia sudah beristri aku pun juga sudah beristri yang membedakan kami adalah kasta dan status,apa alasan yang sebenarnya adalah itu?" tanya Gobang lagi.


"aku mohon mengertilah..." rengek Ratna.


Gobang menyeringai,"lalu apa kau juga mengerti terhadapku?"


"sudah jelas dia tidak mau bersama mu,aku yang siap menjadi pendamping mu malah kau sia-sia kan" ujar Gobang.


"sebaiknya kita pulang,aku gak mau kamu bertengkar lagi dengan istrimu" ajak Ratna.


"Baiklah...setelah kita sampai di kota,aku akan membuatmu kelelahan,dan untuk pakaian mu ini aku akan menggantinya dan untuk sementara kamu pakai saja kaos punya ku" ucap Gobang,Ratna pun mengangguk.


dua buah mobil berhenti di sebuah pekarangan rumah di desa,terlihat Fahmi,Maira dan sandi turun dari mobil sedangkan Gilang dan Rudi turun dari mobil yang satunya lagi.


mereka disambut oleh seorang laki-laki yang sudah tua ,"Tuan-tuan datang dari kota?" tanya kakek tua itu.


Sandi menjawab,"iya kami dari kota".


kakek itu pun tersenyum senang saat mendengar mereka dari kota,tiba-tiba saja kakek itu bertepuk tangan dan tidak lama kemudian penduduk desa langsung keluar dari persembunyian mereka.


Sandi dan yang lainnya pun heran campur takut karena mereka di kelilingi banyak orang.


"jangan takut mereka hanya ingin menyambut kalian ha...ha..." ucap kakek itu sambil tertawa.


tiba-tiba saja penduduk itu menjarah semua bawaan mereka dengan paksa," hentikan apa yang kalian lakukan ini milik ku" ucap Gilang sambil terus memegang ranselnya.


Sandi yang geram langsung meniupkan peluit tiba-tiba saja rombongannya datang dengan menodongkan pistol masing-masing,"angkat tangan" ucap salah seorang anak buah Sandi.


penduduk di situ pun langsung angkat tangan dan langsung berjongkok.


"sebenarnya apa mau kalian kenapa kalian menyambut kami dengan cara seperti ini?" tanya Fahmi.


kakek itu pun menjawab,"ini sudah tradisi kami Tuan".


Sandi dan yang lainnya saling lirik,"mereka masih primitif" bisik Gilang.


"lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Rudi.


"serahkan itu padaku" ucap Sandi,semuanya mengangguk.


"baiklah...lalu kalian mau apa? makanan,minuman,atau pakaian?" tanya Sandi bernegosiasi.


"dan buat kau pak tua kemarilah" ucap Sandi menunjuk pada kakek tadi.


kakek itu pun langsung menghampiri Sandi,"apa kau pemimpin disini?" tanya Sandi.


"iya Tuan aku pemimpin disini...lalu apa kau akan menepati janji mu barusan?" kakek balik tanya.


"ya aku janji,tapi biarkan kami tinggal disini beberapa hari,dan kami meminta satu rumah untuk kami tempati" ucap Sandi.


kakek itu pun melihat ke arah warganya dia meminta persetujuan,dan yang lain pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"baiklah Tuan tapi sebenarnya apa tujuan kalian kesini?" tanya kakek itu.


"kami hanya ingin menjalankan tugas itu saja" ucap Sandi.


"baik lah ikut kami,tapi apa anak buah mu juga akan ikut tinggal disini?"


"tentu..."


"jadi bukan satu rumah tapi dua rumah yang akan kami sediakan kalo kalian akan menjamin kami" ucap kakek itu.


"baiklah..."


"ikuti aku" ajak kakek itu.


Sandi dan yang lainnya juga mengikuti kakek tua itu.


"tunggu..." kakek itu menghentikan langkahnya,lalu menoleh pada Sandi dan yang lainnya.


"apa kalian akan membiarkan mereka seperi itu?" tanya kakek sambil menunjuk ke arah anak buah Sandi.


dan Sandi yang menyadarinya pun langsung menepuk jidatnya,lalu dia memberi kode pada anak buahnya agar menurunkan senjatanya dan mengikutinya.


setelah mereka pergi warga pun membubarkan diri,"siapa sih mereka itu kelihatannya orang-orang kaya" ucap salah seorang warga.


"iya...genteng-ganteng pula" mereka saling berbisik.


kini Sandi dan yang lainnya sudah berada di sebuah rumah yang berbahan dari kayu,"ini rumahnya,maaf keadaannya seperti ini tidak seperti di rumah kalian yang nyaman" ucap kakek itu.


bersambung....